LAMPUNG,HELOINDONESIA.COM -- Dewan Kesenian Lampung (DKL) menggelar bedah buku "Tradisi Musik Orang Lampung" karya anak muda berlatarbelakang musik Barat di sekretariatnya, Komplek PKOR Wayhalim, Kota Bandarlampung, Minggu (24/10/2023).
Dr. I Wayan Ardi Sumarta, M.Pd, dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Unila yang menjadi moderator bedah buku karya Dr. Riyan Hidayatullah, M.Pd tersebut diterbitkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Mamak Lil pakai peci khas Lampung Saibatin dan Harry W Jayaningrat (Foto Bambang SBY/Helo)
Pemantik diskusinya tokoh mumpuni, yani koregrafer tari R Harry W Jayaningrat dan Syahril Yamin alias Mamak Lil, tokoh alat musik cetik berjuluk "Rajo Gamolan Pekhing Jak Kembahang". Mereka praktisi musik sekaligus pemerhati budaya Lampung lebih dari 30 tahun.
Mereka yang hadir antara lain Ketua Umum DKL Prof. Dr. Satria Bangsawan, SE, MSi; Sekretaris Umum DKL Bagus S. Pribadi; dan Ketua Komite Musik DKL Drs. Agus Salim. Lainnya, mahasiswa, dosen, praktisi musik tradisional Lampung, pemerhati, wakil Kantor Bahasa Provinsi Lampung, DKL Timur, dan wakil Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung.
Baca juga: Khalifah Umar Larang Putranya Copras Capres
Sebagai anak muda yang berlatarbelakang musik Barat, Riyan cukup tajam membedah fenomena musikal yang terjadi di masyarakat Lampung, khususnya yang berhubungan dengan musik tradisional dan pop daerah Lampung.
Bukunya seolah ingin membuka wacana diskusi bahwa praktik sosial dan kebudayaan masyarakat Lampung dapat dilihat melalui perilaku musikal dan bagaimana mereka berinteraksi secara musikal.
Kata-kata bahwa “orang Lampung itu musikal” tentu menjadi penanda bahwa musik menjadi bagian penting dalam setiap aktivitas masyarakat Lampung, baik yang berasal dari masyarakat adat Lampung Saibatin maupun Pepadun.
Tidak hanya tentang kehidupan masyarakat Lampung Saibatin dan Pepadun, Riyan juga menguraikan bagaimana musik dapat mempersatukan berbagai etnis hidup berdampingan dengan orang Lampung asli (ulun Lappung).
Baca juga: Bisa Dipidana, Masyarakat Diingatkan untuk Tidak Bakar Ilalang atau Sampah
Riyan juga mengulas bahwa interaksi musikal yang terjadi antara masyarakat asli dengan etnis pendatang (Jawa, Bali, Sunda, Batak, dan lain-lain) juga menjadi faktor penting yang tidak bisa dipisahkan dalam sejarah perjalanan musik di Lampung.
Ardilla dari Perpusda Provinsi Lampung mengatakan bedah buku dari pukul 09.30 hingga 13.00 WIB ini bagus, oase di tengah kekeringan diskusi akademik, terutama yang berkaitan dengan wawasan musikalisasi.
Menurut Prof. Satria juga mengatakan bedah buku ini yang sangat baik dan menginspirasi generasi muda dan berharap banyak yang meniru jejaknya.
Buku yang merupakan hasil penelitian Riyan itu menjabarkan fakta dan fenomena menarik untuk bahan kajian musik selanjutnya. Hal-hal yang belum pernah dibahas atau didiskusikan sebagai sebuah wacana.
Salah satu yang paling menarik berkenaan sistem pewarisan musik orang Lampung yang memiliki gaya khusus. Orang Lampung memiliki sistem penularan musik tradisionalnya sendiri.
Baca juga: Pesan Bupati Dendi Ramadhona pada Hari Santri 2023
Secara umum, penularan musik terjadi secara informal. Kemudian berkembang ke wilayah pendidikan formal dan non-formal. Pola penularan musik umumnya terjadi secara lisan, menggunakan model pembelajaran panggung, pola magang, metode imitasi, tilu-tilu badak, dan ilmu nyambang (mengintip).
Beberapa tahun terakhir, budaya tulis mulai dikenal para musisi tradisional Lampung. Budaya tulis dilakukan melalui proses penyusunan buku-buku musik tradisional yang dilengkapi dengan sistem notasi. Selain itu, kemajuan lainnya adalah penularan musik yang melibatkan media sosial.
Pengaruh media sosial dan perkembangan teknologi digital ikut mengubah kebiasaan orang Lampung dalam menciptakan musik, memasarkan, dan menikmatinya.
Jika sebelumnya teknologi analog banyak digunakan dalam proses perekaman musik, setelah era digital seluruh prosesnya mengalami disrupsi. Setelah era Youtube , kesadaran digital para musisi tradisional juga ikut meningkat.
Baca juga: Pj Bupati Mulyadi Irsan Sampaikan Pesan Hari Santri 2023
Akan tetapi masih banyak yang belum memahami dengan baik bagaimana mempergunakan teknologi digital sesuai dengan porsinya. Kenyataannya, teknologi digital saat ini hanya dimanfaatkan lebih banyak untuk kebutuhan konsumsi, tetapi masih sedikit yang menggunakannya untuk kepentingan produksi.
Selain peningkatan penggunaan media sosial dan teknologi digital, kesadaran politik virtual juga perlu mendapat perhatian. Tujuannya agar masyarakat musik tradisional Lampung lebih memiliki ruang untuk memperluas lahan industri musiknya sebagaimana industri musik populer.
Sebagai penulis, Riyan juga mengungkap nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat Lampung dalam praktik musik. Musik tidak muncul secara instan, tetapi itu merupakan perwujudan dari nilai-nilai yang dipegang oleh orang Lampung.
Dalam hal memainkan musik dan memproduksi bunyi-bunyian melalui alat musik, orang Lampung mungkin memiliki caranya sendiri. Semua bersumber dari pengalaman musikal yang diperoleh dan sedikit berlandaskan pada konsep pi’il pesenggiri.
Bagaimanapun orang Lampung tidak dapat dilepaskan dari pi’il. Nilai-nilai dalam pi’il terkadang secara tidak sadar telah melebur dalam tindak-tanduk dan kebiasaan musikalnya.
Apa yang dilakukan Riyan mungkin akan berdampak besar dalam menginisiasi jalan pengetahuan musik di Lampung. (Bambang SBY)
