LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Padahal ganteng-ganteng rupawan, juga cantik-cantik jelita. Tetapi nyaring bunyi statistik pernikahan di Indonesia dan sejumlah negara lain terkuak menurun, tahun ke tahun. Waduh, kenapa ya?
Data SIMKAH Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, jumlah pernikahan tercatat di Tanah Air 2021–2024 menurun: 1.742.049 pernikahan (2021) menjadi 1.478.302 pernikahan di 2024.
Dari 1.742.049 pernikahan 2021, 415.104 merupakan pernikahan di (dalam) KUA dan 1.326.945 di luar KUA (bedolan).
Angkanya berkurang 36.701 menjadi 1.705.348 pernikahan pada 2022, meliputi 405.783 pernikahan di KUA, 1.299.565 di luar KUA.
Susut hingga 128.093 menjadi 1.577.255 pernikahan pada 2023, 370.121 di antaranya pernikahan di KUA, 1.207.134 di luar KUA.
Menurun hingga 98.953 menjadi 1.478.302 pernikahan pada 2024, meliputi 365.076 pernikahan di KUA, dan 1.113.226 di luar KUA.
Olah data, pernikahan di KUA tercatat relatif stabil: 365 ribu-415 ribu pernikahan per tahun. Pernikahan di luar KUA tetap mendominasi pencatatan, dengan tertinggi 1.326.945 pada 2021, menurun jadi 1.113.226 pada 2024.
Sebagai informasi, angka pernikahan yang tercatat di Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir turun sebanyak 28,63 persen!
Di Cina, Asosiasi Keluarga Berencana sini mencatat 6,1 juta pernikahan 2024 di Negeri Tirai Bambu, turun 20,5 persen dari 2023.
Bukan saja rendah, ini bahkan terendah sejak 1986. Melanjut tren dekade sebelum, sejumlah 13 juta perkawinan pada 2013. Pada 2023, jumlah perkawinan di sini sempat pulih. Pembatasan COVID-19 dicabut, turun lagi.
Penurunan jumlah pernikahan di negerinya Mao Tse Tung ini sejalan populasinya yang terus menyusut tiga tahun berturut-turut. Jumlah usia produktif 16-59 tahun di sini juga menurun 6,83 juta pada 2024. Penduduk lansia justru meningkat 22 persen.
Menteri Agama RI Prof Dr Nasaruddin Umar, dikutip pidatonya dalam kegiatan Gerakan Sadar Pencatatan Nikah (Gas Pencatatan Nikah) di Jakarta, Minggu (6/7/2025), turut mencermati fenomena menurunnya minat menikah di sejumlah negara Barat, termasuk Kanada, Prancis, dan Amerika Serikat.
Mengingatkan masyarakat Indonesia tak terbawa arus budaya Barat dalam urusan pernikahan, Menag ceritakan pengalaman ke Kanada, di mana hidup bareng tanpa menikah dianggap sudah biasa. Bahkan ada teman di sana 20 tahun kumpul kebo, punya satu anak.
Lain sudut, di Prancis, Menag menyebut, pemerintah setempat sampai ngasih insentif besar warganya yang mau merit dan beranak.
“Di Prancis, Bapak-Ibu sekalian, begitu rendahnya minat perkawinan, pemerintah sampai beri hadiah besar bagi warganya yang mau punya anak. Anak-anak yang lahir dari orang tua asli Prancis bahkan dapat beasiswa hingga pembebasan pajak,” ujarnya pula.
Kenapa Ya? Apa Penyebabnya?
Menjadi fenomena unik tersendiri di berbagai negara belahan Bumi, kekira apa ya, faktor penyebab turunnya angka pernikahan ini?
Sebelum membedahnya. —sebagai penyelia, masih ingat pernyataan viral selebritas cum woman-entrepreneur muda Prilly Latuconsina di media sosial seputar isu pemberdayaan perempuan, demi mengutip pemberitaan media massa, dengan menyebut "banyak wanita independen tetapi pria mapan dikit. Itu data valid loh!", yang lantas banjir pro dan kontra warganet, medio November 2024?
Saat itu, dalam video viral yang beredar, Prilly tampak tengah melakukan semacam "orasi" terkait isu woman empowering tersebut di sebuah moda transportasi publik ibu kota.
Prilly bilang, wanita independen kini lebih banyak jumlahnya dari pria mapan. "Banyak cewek independen, tapi cowok mapan dikit. Itu data valid loh. Jadi cewek-cewek ini, kita tuh pengin protes sebagai cewek yang independen," ujarnyi, disitat dari unggahan akun @999o7, di jejaring situs mikroblogging X (dulu Twitter), 16 November 2024 lalu.
Prilly juga bilang, menyinggung fenomena kaum pria yang aca merasa insecure (minder) apabila menjalin hubungan pribadi dengan perempuan mandiri. "Cari pasangan yang selalu happy lihat kesuksesan kita. Bukan yang insecure dan ninggalin kita," imbuh ia.
Prilly bilang juga, pesan buat sesama kaum, dalam mencari pasangan hidup tak semuanya melulu sekadar terpaut urusan materi semata. Alias, faktor mandiri atau merdeka finansial.
Prilly menggarisbawahi pula latar pendidikan dan kecerdasan emosional pasangan, sama pentingnya. "Kita itu harus cari pasangan yang setara. Bukan materi ya, tapi pemikiran," lugas ia mewantikan.
Barisan pro Prilly, antara lain menuliskan, "Yg ngehujat pasti cowo2 yg tertampar realita,” menimpali komentar akun lain sebelumnya, "The real independent woman nggak terlalu berisik soal jodoh," ketik akun tersebut.
Di barisan kontra, menyesaki kolom komentar akun, antara lain sampai ada yang mencibir pendapat aktris, penyanyi, model, presenter, aktivis, penulis, produser, pengusaha, terbaru tengah jajal peruntungan pengalaman jadi pendidik; laris diundang jadi dosen tamu latar praktisi profesional di sejumlah kampus, ini.
Dengan menyerang Prilly, menyebut buah amalgamasi Ambon-Sunda lahir 15 Oktober 1996 lengkap gelar Prilly Mahatei Latuconsina, S.I.Kom ini: nominee artis wanita paling haus validasi. "Nominasi artis cewe paling haus validasi jatuh kepada Prilly Latuconsina," komentar akun itu.
Bahkan ada yang nyinyir menyebutnyi dengan istilah bagi seseorang yang tengah merefleksikan situasi diri, "pick me". Akun penyebut bak sekompak sahuti. "Udah ngerasa banget kalo doi 'pick me' dan haus validasi," cuit sinisnya.
Sadar viral, bahkan unggahan akun @999o7 itu sampai dilihat 18,6 juta orang, disukai 29 ribu akun, dikomentari lebih dari 1.500 akun; Prilly meski tak sampai belepotan namun rada kerepotan mengklarifikasi terutama terhadap warganet yang menurutnyi salah kaprah memaknai pendapat kutipannyi.
Ia gigih jelaskan melontarkan itu dalam konteks menelaah fenomena menurunnya angka pernikahan di Indonesia, padahal.
Dimana, bukan tidak mustahil salah satunya disebabkan tren semakin tingginya preferensi perempuan dewasa Indonesia lebih memilih mengejar karir sebelum menikah ketimbang memilih memutuskan untuk menikah (muda).
Tergelitik mengupasnya, jurnalis Kompas.com, Silmi Nurul Utami dan Nabilla Tashandra, menurunkan wawancara dengan pengamat psikososial dan budaya, Dr Endang Mariani, dalam dua artikel edisi 29 November 2024.
Silmi dan Nabilla mereportasekan perspektif Endang Mariani yang memandang, secara umum, pernyataan Prilly mencerminkan fase perkembangan dewasa muda yang berfokus pada "intimacy versus isolation".
Memang, nilai Endang, saat ini lebih banyak perempuan dewasa muda memilih kejar karir, kemandirian pribadi, sebelum prioritaskan hubungan.
Namun, pakar pendampingan dan dukungan psikososial kebencanaan, mantan Koordinator Program Psikologi Subbidang Medis, Bidang Koordinasi Relawan Satgas Penanganan COVID-19 kala dwiwarsa pandemi 2020–2021 ini mengintensi tanggapannyi soal fenomena umum dari sudut pandang psikososial dan budaya, tak cuma terkait statemen viral Prilly.
Notabene, banyak perempuan kini lebih fokus mengembangkan karir dan identitas pribadi (otonomi) sebelum prioritaskan hubungan.
"Budaya patriarki di Indonesia sebelumnya menempatkan laki-laki sebagai penyedia utama (breadwinner), namun kini perempuan telah masuk ke ranah ini, menciptakan tantangan baru dalam harapan terhadap pasangan," terang Endang.
Di sisi lain, Endang memandang fenomena ini mencerminkan adanya ketidakseimbangan harapan sosial antar gender. Di mana, yang tertuju pada laki-laki dan perempuan: beda.
Harapan sosial, semacam invisible roadmap, peta jalan tak terlihat pembimbing interaksi sosial manusia (human being) yang bantu dia memahami apa yang diharapkan darinya di masyarakat. Sebut saja, behaviour assistant.
Harapan sosial, bisa merujuk pada bentukan ekspektasi, aturan implisit eksplisit, perangkat nilai norma yang bimbing perilaku individu dan jadi pegangan masyarakat atau kelompok sosial tertentu terkait perilaku, nilai, dan sikap yang dianggap bisa diterima atau diinginkan.
Harapan sosial, bisa berasal dari observasi perilaku orang lain, budaya, nilai-nilai keluarga dan pengalaman pribadi ini, membentuk kerangka acuan bagaimana seseorang individu seharusnya bertindak dan berinteraksi dalam berbagai situasi sosial.
Pengaruhnya pada perilaku, harapan sosial membentuk cara seseorang menilai perilaku orang lain dan bagaimana mereka semestinya berinteraksi dalam kelompok. Konsekuensi logisnya, harapan sosial dapat memengaruhi kepuasan hubungan, motivasi, bahkan kinerja seseorang. Contoh harapan sosial mencakup ekspektasi gaya komunikasi, peran gender, atau standar perilaku dalam hubungan. Dirasa penting, kesadaran akan harapan sosial bantu seseorang individu menavigasi situasi sosial, memilih dan memilah pilihan: yang lebih baik.
Lanjut, bedah pandangan Endang. Secara teoritis dalam konteks psikososial, kesiapan seorang laki-laki untuk menikah acap dirajut faktor kemapanan: pria mapan dinilai bisa lebih mandiri dan lebih siap menikah.
Endang menepis. Pun anggapan nada tanya, benarkah semua laki-laki mapan itu mandiri?
Ujar ia, konsep kemandirian (independence) tak semata ditentukan kemapanan finansial. "Secara psikososial, kemandirian tidak hanya melibatkan aspek finansial," tepisnyi, dalam konteks psikososial, kemandirian mencakup kemampuan buat keputusan mandiri, atasi tantangan emosional, serta mendukung diri sendiri dan orang lain.
Dengan demikian, dapat dikatakan, tak semua pria mapan finansial bisa disebut independen. Terutama jika kemapanan itu bergantung pada dukungan orangtua atau pasangan.
Pasalnya, "Independence adalah konsep multidimensi yang melibatkan kedewasaan emosional, tanggung jawab sosial, dan kemampuan finansial," tandas ia masuk akal.
Bahwa, seseorang baru bisa disebut mandiri jika sudah dewasa secara emosional, dapat bertanggung jawab secara sosial, dan memiliki kemampuan finansial.
Lain sisi, kemandirian perempuan acap dianggap ancaman bagi maskulinitas laki-laki. "Ini yang dapat menjelaskan mengapa muncul kesan bahwa 'cowok mapan (hanya) sedikit'," lugasnyi, standar kemapanan bagi laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan, sehingga menciptakan tekanan tambahan bagi laki-laki untuk memenuhi ekspektasi sosial.
Ihwal maskulinitas: konstruksi sosial yang terkait atribut, perilaku, dan peran yang diasosiasikan dengan laki-laki dan anak laki-laki. Ini bukan sifat alami yang melekat (ditentukan secara biologis) tetapi konsep yang dipelajari, dibentuk oleh budaya dan norma umum di masyarakat (the living law).
Maskulinitas, dapat bervariasi antar individu dan budaya (yang dianggap maskulin dalam satu budaya beda dengan budaya lainnya), tak selalu identik dengan jenis kelamin pria; dalam artian laki-laki perempuan, sama-sama dapat menunjukkan sifat-sifat maskulin.
Perempuan? Perempuan condong beroleh apresiasi lebih besar saat mandiri, hingga jadikan ketakseimbangan kian nyata. Padahal dalam konteks relasi antar gender, kemapanan laki-laki dan kemandirian perempuan tak harus saling dipertentangkan.
"Tak selalu kemapanan atau ketidakmapanan laki-laki dibenturkan dengan kemandirian atau ketidakmandirian perempuan," lugasnyi, sebab bisa saja hubungan tersebut saling melengkapi, bukan sebagai perbandingan.
Soal statemen Prilly 'banyaknya perempuan independen, sedikitnya laki-laki mapan'; Endang bilang perlu kajian lebih dalam.
Endang menginjeksi, ukuran 'banyak cewek independen" dan 'cowok mapan sedikit' itu, harus didasari data yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Prilly menyebut 'data valid'. "Tapi tak disebut sumbernya. Apa sudah ada data penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan validitas ilmiahnya?" tanya gugat ia, selain pandangan itu perlu dianalisis komprehensif melalui perspektif psikososial dan budaya.
Selanjutnya, demi mengetahui apa penyebab menurunnya jumlah pernikahan di Indonesia, Guru Besar Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya, Prof Dr Bagong Suyanto, membeber dua di antaranya, 15 Maret 2024, delapan bulan sebelum video viral Prilly mengemuka.
Kesatu, seiring maju pesatnya perkembangan zaman, peluang perempuan mengembangkan potensi diri semakin terbuka. “Kesempatan perempuan untuk sekolah dan bekerja makin terbuka lebar. Ketergantungan perempuan juga menurun,” ujar Bagong dengan demikian.
Kedua, data dan fakta laki-laki dengan kondisi ekonomi mapan, makin berkurang gegara kian sulitnya mencari pekerjaan dewasa ini.
“Keberadaan laki-laki mapan juga makin berkurang karena sekarang cari pekerjaan semakin sulit,” ujar sang sosiolog, fenomena itu wajar, konsekuensi tak terhindar.
Lebih lanjut, penurunan angka pernikahan jika terjadi jangka lama tak menutup kemungkinan akan menurunkan angka kelahiran. Nun meski demikian tandas Bagong, tak ada yang perlu dikhawatirkan, yang harus diperbaiki.
"Tapi yang penting memastikan ini berdampak positif untuk memberdayakan perempuan dan masyarakat,” sorong Bagong, berharap fenomena ini berdampak baik bagi rakyat, —menurunnya angka, beriringan meningkatnya modal sosial masyarakat.
Selain itu, olah data ragam sumber, dengan menggabungkannya, dapat Helo Indonesia rangkumkan 8 penyebab menurunnya angka pernikahan di Indonesia, yakni:
1. Semakin besarnya peluang perempuan untuk mengembangkan potensi diri seiring perkembangan zaman semakin maju.
2. Semakin berkurangnya laki-laki berekonomi mapan akibat ketidakpastian lapangan kerja.
3. Kesiapan mental (mental belum siap) atas dasar multi pertimbangan.
4. Modernisasi dan pergeseran paradigma seiring pemajuan pendidikan.
5. Pengaruh langsung tak langsung dari banyaknya konflik pernikahan terbujur dalam statistik Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), maraknya perselingkuhan, tingginya perceraian (cerai talak - cerai gugat).
6. Perubahan pola sosial.
7. Kondisi sosial ekonomi.
8. Kesadaran rakyat atas pencatatan nikah resmi.
Khusus tren penurunan pernikahan ulah perceraian, misal merujuk Data Statistik Perceraian di Indonesia Tahun 2024 dari BPS mengutip Kemenag dan Mahkamah Agung per data diperbarui 14 Februari 2025.
Pada 2024, tercatat 399.921 kasus perceraian di Indonesia. Meski menurun dibanding 2023 total 408.347 kasus, masih tergolong tinggi.
Dari total kasus, 85.652 kasus Cerai Talak (diajukan suami), 308.956 kasus Cerai Gugat (diajukan istri). Secara eksponensial, provinsi berangka perceraian tertinggi yakni Jawa Barat 88.842 kasus, terendah NTT 485 kasus.
Faktor penyebab yang berkontribusi pada tingginya angka perceraian, yakni perselisihan dan pertengkaran terus-menerus (251.125 kasus), masalah ekonomi (100.198 kasus), salah satu pihak meninggalkan pasangan (31.265 kasus), dan KDRT (7.256 kasus).
Kontributor lainnya: judi (diperparah pasca marak judi online), mabuk, dihukum penjara, zina, murtad, poligami, madat, kawin paksa, dan cacat badan.
Bahwa perceraian tak cuma berimbas pada pasangan yang bercerai, juga anak, keluarga besar, dan lingkungan sosial, patut diingat.
Data terpisah, disitat dari situs BPS Provinsi setempat per data diperbarui 27 Februari 2025, di Lampung terdapat 14.471 kasus perceraian sepanjang 2024. Meliputi, 2.575 kasus Cerai Talak, 11.896 kasus Cerai Gugat. Angka tertinggi di Kabupaten Lampung Timur (2.244 kasus), terendah di Mesuji (330 kasus).
Sepanjang tahun yang sama, tercatat 50.230 pernikahan pasangan berbahagia di Lampung dengan rekor tertinggi 7.940 pernikahan di Lampung Tengah, terendah Pesisir Barat 941.
Sebagai disclaimer, sajian data BPS Lampung ini minus mencantumkan data perceraian di Pesisir Barat ditunjukkan dengan kodifikasi "..." alias titik 3 kali, yang dalam ilmu statistik berarti "Data tidak tersedia".
Disclaimer kedua, seluruh data pernikahan dan perceraian di atas hanya untuk yang beragama Islam, seluruh data perceraian di atas adalah yang telah diputus pengadilan dan telah terbit akta cerainya.
Pentingnya Pencatatan Nikah
Melihat ini problematik, mesti serius ditangani, Menag Nasaruddin menekankan pentingnya pencatatan nikah secara resmi di Indonesia, minta jajarannya hingga terbawah aktif edukasi rakyat: pentingnya pencatatan pernikahan demi perlindungan hak keluarga.
“Mohon betul, terus ingatkan masyarakat, pentingnya pencatatan pernikahan,” pintanya.
Menag yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal ini mengakui, faktor ekonomi sering jadi dalih rakyat enggan catatkan pernikahan secara resmi. Anggapan biaya pernikahan tinggi jadi kendala tersendiri utama bagi kurang mampu.
Nikah Massal Gratis, solusinya? Menjawab tantangan, Ditjen Bimas Islam Kemenag telah jalankan program nikah massal gratis: beri fasilitas pernikahan lengkap tanpa biaya plus pakaian pengantin, salon, mahar, bagi warga.
Program nikah massal gratis, ujar Menag, bukan sekadar seremoni, "tetapi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan keluarga dan meningkatkan kesadaran hukum masyarakat terkait pencatatan pernikahan."
Terdengar patriotik, Menag juga menyebut, pernikahan bukan sekadar urusan pribadi, tetapi bagian dari identitas budaya bangsa.
Menag sekaligus mengingatkan masyarakat agar tak meniru praktik-praktik pernikahan yang bertentangan sama sekali dengan nilai dan norma bangsa Indonesia. “Kita harus menjaga budaya kita sendiri. Jangan sampai terjadi westernisasi kebudayaan kita dalam hal perkawinan,” pungkasnya.
Terpisah, sebagai referensi plus pembanding, intip China yang angka pernikahan warganya anjlok terendah sejak 1986; pemerintahnya sampai kelimpungan meluncurkan kebijakan senada demi untuk menggenjot naik angka pernikahan warganya, selain nikah massal gratis, juga dengan berikan insentif keuangan, membatasi tradisi mahar, lainnya.
Per 2022, Asosiasi Keluarga Berencana China juga luncurkan program menciptakan "budaya perkawinan dan melahirkan era baru", apes ini juga tak cukup menarik minat warga sana.
Lain upaya, per 2021 China berlakukan masa tenang 30 hari bagi warga pengaju gugatan cerai, kendati dihujani kritik itu dapat persulit perempuan guna akhirkan pernikahan nan rusak atau bahkan penuh kekerasan. Iya juga.
Lain kali spill India: catat 29.466.366 kelahiran, atau Korsel yang 'gippeuda' (pertama dalam 9 tahun terakhir) angka kelahirannya naik pada 2024, kita khususkan colek Jepang, negeri kini terancam bukan saja susut pernikahan disusul penurunan kelahiran nun lebih jauh terancam hantu: depopulasi.
Jepang 2024 kelahiran bayinya 720.988 jiwa mencakup warga asing, turun 5 persen dari 758.631 kelahiran pada 2023. Ini penurunan ke-9 berturut-turut, jadi yang terendah sejak Jepang mulai mencatat data pada 1899 silam, picu kekhawatiran besar masa depan negara.
Mengkirka tren ini bisa berujung kepunahan, Prof Hiroshi Yoshida dari Tohoku University’s Research Centre for Aged Economy and Society, kepada First Post menyebut, jika penurunan jumlah kelahiran tidak dihentikan, 'waktu' akan berbalik.
Jika tren berlanjut, Jepang hanya akan punya 1 anak di bawah usia 14 tahun di Januari 2720. Ras Jepang bisa punah 695 tahun ke depan.
"Jepang bisa menjadi negara pertama yang punah akibat rendahnya tingkat kelahiran," sigi Yoshida, celakanya kelahiran rendah ini diperparah angka kematian tinggi. Sepanjang 2024 tercatat 1.618.684 kematian, naik 1,8 persen dari 2023.
Perpaduan kelahiran minim-banyak kematian itu sebabkan populasi susut hampir 900 ribu jiwa, rekor penurunan populasi terbesar: 2 meninggal untuk setiap 1 bayi yang lahir.
Memuncak 2008 dengan 128,1 juta jiwa, sejak itu Jepang kehilangan hampir 5 juta populasi. Kirka National Institute of Population and Social Security Research, populasi akan turun di bawah 100 juta jiwa pada 2048, jadi 87 juta jiwa di 2060. Kata lain, lebih dari 40 juta jiwa akan hilang dalam lebih dari separo abad —sepertiga populasi.
Sadar situasi, tren penurunan kelahiran belum tertahan namun jumlah pernikahan unjuk peningkatan. Mengingat relasi erat jumlah pernikahan dan jumlah kelahiran, "kita harus fokus pada aspek ini," bidik Shigeru Ishiba, sang perdana menteri. (Muzzamil)
