Helo Indonesia

Qaulan Baligha dan Formula STAR, Jurus Komunikasi Membekas Jiwa

Herman Batin Mangku - Ragam
1 jam 33 menit lalu
    Bagikan  
GAF
HELO LAMPUNG

GAF - Ilustrasi Komunikasi

Penulis Gufron Azis Fuandi
Ustadz

SUATU ketika Abas Arachi, menlu Iran ditanya oleh wartawan media AS.
Wartawan bertanya, apakah para tawanan Amerika yang ditahan dipenjara militer Iran bisa dijamin aman? Abas menjawab dengan pertanyaan balik, apakah negara anda (AS) berencana membom penjara militer tempat mereka ditahan? Tidak, jawab wartawan. Kalau begitu, kata abas Arachi, mereka bisa dipastikan aman.

Jawaban sederhana dari Abas Arachi mungkin bisa digolongkan sebagai qaulan baligha, yaitu perkataan yang tepat dan membekas pada jiwa. "...dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwa mereka." (An-Nisa: 63).

Qaulan baligha adalah komunikasi efektif dengan menggunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami (komunikatif), serta menyentuh sisi emosional pendengar sehingga pesan lebih mudah diterima. Kemampuan berbahasa dan komunikasi adalah sesuatu yang sangat penting, perlu dan bermanfaat.

Nabi Muhammad Saw adalah pembicara dan komunikator yang sangat hebat. Karena beliau mempraktekkan semua model komunikasi dalam al Quran. Dari mulai qaulan baligha, qaulan tsaqila, qaulan layyinan, qaulan ma'rufan, qaulan karima dan seterusnya.

Apa yang terjadi pada diplomasi Ja'far bin Abi Thalib sebagai juru bicara Muhajirin ke Habasyah dengan Raja Najasi dan diplomat ulung kafir Quraisy, Amr bin Ash, menunjukkan  tentang bagaimana kekuatan kalimat yang gamblang dan menyentuh hati, dengan membacakan al Quran yang sesuai konteks nya. Di samping kecerdasan retorika (diplomasi dialogis), keberanian menjelaskan akidah secara jujur, apa adanya.

Diplomasi Ja'far ini memenuhi kriteria ideal yakni memadukan logika (logos), kredibilitas (ethos), dan pendekatan emosional atau spiritual (pathos).

***

Ada seorang ayah yang menceritakan kondisi anaknya yang telah tiga kali gagal dalam test wawancara kerja. Sehingga mulai anaknya mengalami penurunan mental. Tepatnya rasa percaya diri menurun karena beberapa kali mengalami kegagalan. Padahal IPK kuliahnya 3,6, aktif organisasi kampus dan hasil magang setelah lulus kuliahnya juga bagus.

Suatu ketika sang ayah bertemu dengan teman lamanya yang seorang HRD, dan menceritakan apa yang dialami anaknya. Kemudian teman HRD tadi minta diceritakan apa yang terjadi pada anaknya saat test wawancara kerja.

Setelah mendengar cerita tersebut, sang HRD menukas bahwa yang membuat  anakmu gagal adalah ketidakmampuan mempresentasikan diri dengan nilai tambah dan keunikan dirinya.

Pertanyaan tentang siapa dirinya dijawab dengan jawaban yang sudah ada dalam CV. Untuk kesempatan yang akan datang cobalah menjawab dengan model atau formula STAR saat menceritakan diri dan pencapaiannya.

Dengan formula STAR ini presentasi bisa dilakukan fokus, singkat, padat dan efektif. Formula STAR terdiri dari empat hal yaitu Situation (Situasi), Task (Tugas), Action (Tindakan Anda), dan Result (Hasil akhir).

Situation, menjelaskan konteksnya apa? menjelaskan tanggung jawab apa yang (pernah) diemban.

Action, terkait dengan langkah spesifik apa yang dia lakukan saat mengerjakan amanat.

Result, berbicara apa hasilnya dari hal diatas. Tentang hasil ini
diusahan terukur, ada angkanya.

Kemudian ayah dan anak tersebut membuat simulasi untuk persiapan kesempatan test wawancara berikutnya.

1). Situasi.
Saya magang diperusahan "X", waktu itu saya diminta menghandel media sosial kantor (S)

2). Task.
Saya ditarget menaikan engagement 20% dalam 3 bulan . (T)

3). Action.
Saya membuat konten kalender, redesign visual post. (A)

4). Result.
Hasilnya: engagement naik 25% dan follower naik 2000. (R)

Kalender konten adalah jadwal tertulis atau visual yang mengatur kapan, di mana, dan konten apa yang akan dipublikasikan di berbagai saluran media. Alat ini digunakan oleh pemasar, pembuat konten, dan tim media sosial untuk merencanakan strategi komunikasi mereka agar tetap konsisten dan terarah.

Setelah membuat simulasi dan mempraktekkan nya berulang ulang pada kesempatan wawancara kerja berikutnya Alhamdulillah berhasil.
Kata sang ayah,

"Yang gue sadari selama proses itu adalah:
Anak gue PUNYA pengalaman yang bagus. Magang. Organisasi. Proyek kampus. Tapi dia gak pernah diajarkan cara MENCERITAKAN-nya dalam rentang waktu 16 tahun sekolah dan 4 tahun kuliah."

Gak ada SATU PUN mata pelajaran atauaya kuliah yang ngajarin:
"Cara menjawab pertanyaan interview."
"Cara presentasi diri dalam 3 menit."

Kita ngajarin anak berbagai rumus fisika dan kimia yang mungkin gak akan mereka pakai.
Tapi gak ngajarin skill yang mereka butuhkan dalam 15 menit paling penting seumur hidup mereka."
*Maaf ayahnya ini orang IPS.

Wawancara kerja kerap menjadi tahapan yang sangat subyektif. Penilaian tidak hanya tentang keterampilan di atas kertas, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh persepsi pewawancara, kesan pertama, dan kecocokan antar-manusia (chemistry).

Oleh karena itu ada ungkapan keputusan sering kali terbentuk dalam beberapa menit pertama melalui bahasa tubuh, cara berpakaian, dan jabat tangan.

Formula STAR yang disampaikan dengan baik biasa bisa mengurangi penilaian yang cenderung subyektif. Kemampuan presentasi efektif tentang diri sendiri bosa mulai dikatih sejak kecil atau usia dini. Dimana anak anak diajarkan simulasi tentang sia?pa? namanya, alamatnya, siapa ayah dan ibunya termasuk kerja apa dimana.

Setidaknya kemampuan ini sangat membantu bila anak-anak kesasar kesuatu tempat yang tidak kita ketahui dan ketemu dengan orang baik. Bila itu terjadi, maka anak tidak han koya menangis dan plonga plongo tetapi bisa memberi tahu siapa dirinya...

Wallahu a'lam bi shawab
(Gaf)