Penulis Ahmad Soekri
Disadur via FB kreator digital Asal Kota Sabang, Aceh
SUDAH hampir satu dekade Tri Septiana bersahabat dengan ombak. Setiap pagi, perempuan asal Gebang, Kabupaten Pasawaran, Lampung itu mengendarai sepeda motor menuju pantai. Dari sana ia menaiki perahu kecil menyebrangi laut menuju Pulau Tegal.
Jika cuaca bersahabat, perjalanan ditempuh sekitar 20 menit. Namun saat angin kencang dan hujan datang, waktu tempuh bisa jauh lebih lama. Sesampainya di Pulau Tegal, belasan anak sudah menunggu. Mereka memanggil dengan sebutan sederhana : Bu Guru.
Tak banyak yang mengetahui, perempuan yang saban hari menyebrangi laut itu merupakan istri prajurit Korps Marinir TNI AL, Serda (M) Heri Dwi Santoso, personel Yonif 9 Mar Brigif 4 Mar/BS.
Namun bagi Tri, yang paling membekas bukan status tersebut, melainkan pertemuan dengan anak-anak Pulau Tegal.
Kala itu masih menjadi guru honorer dan mengikuti kegiatan bakti sosial bersama kepala sekolah, Uniroh. Di Pulau itu, Tri menemukan kenyataan bahwa banyak anak usia sekolah tidak mengenyam pendidikan formal.
"Anak-anak disana waktu itu hanya belajar membaca, menulis dan berhitung dengan warga yang dianggap mampu mengajar. Bahkan ada yang tidak lulus SD" kata Tri, jum'at (24/7/2026)
Untuk sekolah, anak-anak harus menyebrangi lautan menuju Desa Sidodadi, Kecamatan Teluk Pandan. Setelah di daratan, mereka masih harus jalan kaki menuju sekolah.
"Kalau tidak punya perahu, mereka harus ikut menumpang dan bayar bensin. Tidak semua orang tua mampu" ujarnya karena keterbatasan itu, banyak anak akhirnya memilih berhenti sekolah.
Pada awal nya Tri tidak sendiri. Ia bersama sekitar enam guru honorer lainnya bergantian mengajar anak-anak di Pulau Tegal. Namun satu persatu memilih berhenti. Ada yang takut ombak. Ada pula yang tak sanggup menjalani perjalan laut setiap hari.
"Dulu ada sekitar tujuh orang yang mengajar, lama-lama mereka berhenti. Sekarang tinggal saya dan ibu kepala sekolah yang masih bertahan" ujarnya.
Saat pertama mengajar, murid nya hanya 6 orang, mereka belajar dalam satu ruangan sederhana. Anak-anak berusia tujuh tahun duduk berdampingan dengan remaja, bahkan orang dewasa yang belum bisa membaca. Tak ada pembagian kelas. Tak ada seragam. Hanya ada keinginan untuk belajar.
Berapa kali Tri mengaku sempat ingin menyerah. Namun justru sang suami yang menguatkan langkahnya. "Suami saya bilang, 'kasihan anak-anak itu. Anggap saja mereka anak-anak mu sendiri. Kalau anak kita enggak ada yang ngajarin bagaimana?'" tutur Tri.
Kalimat itu terus menjadi penyemangat nya hingga kini. Perjuangannya Tri membuahkan hasil. Bersama Komunitas Sukarelawan Peduli Pendidikan Pulau Tegal (SP3T) ia menggalang bantuan dari berbagai pihak. Dukungan juga datang dari lingkungan Yonif 9 Mar, tempat suaminya berdinas.
Rumah baca sederhana pun berdiri. Tak lama kemudian, PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Pulau Tegal resmi memperoleh izin dari Dinas Pendidikan sehingga anak-anak dapat mengikuti Pendidikan Kesetaraan dan memperoleh ijazah.
Kini sekitar 20 anak belajar di PKMB tersebut mulai dari TK hingga SMA. Bahkan tiga alumni nya telah berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Mereka ada yang mengambil jurusan Guru SD dan Olah Raga. Harapan saya, nantinya mereka pulang dan mengajar adik-adik nya disini " kata Tri.
Di Pulau Tegal, listrik masih menjadi kemewahan, warga mengandalkan genset dan lampu minyak saat malam tiba, sinyal internet pun belum tersedia. Namun keterbatasan itu tak pernah memadamkan semangat belajar anak-anak.
Tokoh masyarakat Pulau Tegal, Samian menyatakan kehadirannya PKMB telah mengubah masa depan anak-anak di Pulau tersebut.
"Kalau sekolah ini sampai berhenti, bagaimana dengan anak-anak kami nanti? Alhamdulillah sampai sekarang masih terus berjalan. Anak-anak disini walaupun hujan dan angin, tetap semangat untuk belajar" kata Samian
Menurut dia, kini anak-anak Pulau Tegal memiliki kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan melalui paket A, paket B, paket C.
Samian bahkan menyebut ada satu profesi yang paling banyak diimpikan anak-anak di Pulau Tegal. "Dulu waktu Bapak-Bapak Marinir datang membantu kami anak-anak melihat mereka. Sekarang kalau ditanya cita-cita nya, banyak yang ingin menjadi Bapak Marinir" ucap nya.
Dibalik cita-cita itu ada Tri Septiana yang setiap pagi tetap menyebrangi lautan demi mengajar. Ada pula seorang prajurit Marinir yang memilih menguatkan langkah istrinya dari kejauhan.
Di Pulau kecil yang belum sepenuhnya diterangi listrik itu, mereka menjaga agar pendidikan tetap menyala. Bagi warga Pulau Tegal setiap bantuan yang datang bukan sekedar menghadirkan bangunan atau fasilitas melainkan memastikan mimpi anak-anak mereka tidak terhenti dibibir pantai.***
