HELOINDONESIA.COM - Di tengah arus teknologi dan informasi yang serba cepat dan instan, tantangan terbesar bagi generasi milenial dan Gen Z untuk saat ini adalah bagaimana mereka mengelola emosi dan mentalnya.
Terlebih, semua orang menyadari bahwa pentingnya menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan emosional dalam mendukung produktivitas dan kualitas hidup yang lebih baik.
Saskhya Aulia Prima, M.Psi, Psikolog dari Universitas Indonesia (UI), dalam webinar Indonesia Wellness Tourism International Festival 2024 (IWTIF 2024) pada Kamis (14/11/2024) mengungkapkan persoalan mental dan emosi yang tengah melanda Gen Z dalam menghadapi tantangan di era digital.
Saskhya dikenal sebagai psikolog yang berpengalaman dan telah banyak membantu individu dan kelompok dalam mengelola stres, kecemasan dan emosi di berbagai situasi.
Baca juga: Muhlis Basri Ajak Warga Ulu Belu Dukung Mirza-Jihan
Dalam webinar bertemakan “Reset, Recharge,Repeat The New Work-Life Balance” hal pertama yang disampaikannya adalah mengajak audiens webinar IWTIF untuk saling mengenal dirinya sendiri.
“Sebutkan satu kata yang terlintas di kepala saat mendengar kata stres kerja? Dalam bekerja hal-hal apa saja yang sering membebani pikiran & kondisi mental kita semua? Apa yang biasanya teman-teman lakukan untuk mengurangi beban pikiran & emosional sehari-hari?” demikian pertanyan-pertanyaan yang dilontarkan Saskhya kepada para peserta webinar.
Nah, dari situ, para audiens bisa mengenal dan memahami tentang dirinya sendiri dengan memperhatikan hasil skor dari pertanyan-pertanyaan di atas.Ketika nilainya 0-25 : Aman, 26-50 stres ringan ke sedang, 51-75 stres sedang ke berat dan 76-100 stres sangat berat.
“Sebenarnya di semua level stres ini kalau mau konsultasi ke psikolog boleh. Tapi mungkin yang yang 51 ke atas gitu. Terutama 76 ke atas. Kalau yang pertama, bisa konsultasi lebih diri sendiri, mengeksplore cara-cara penanganan stres yang sudah ada,” paparnya.
Sebenarnya, semua orang sudah tahu cara mengelola stres. Tapi karena sibuk, seperti dikejar deadline dan apapun, sehingga banyak yang diskip.
Baca juga: Taman Kupu-Kupu Siapkan 6000 Bibit dari 65 Spesies buat Lampung Biodiversity Park
Bagi mereka yang level 3 dan nomor 4 mungkin berat kondisinya dan butuh bantuan profesional. Namun yang ringan pun kalau ditumpuk lama-lama jadi stres sedang. Tapi karena tertumpuk, akhirnya meledak stresnya.
Bagaimana dengan teman-teman Gen Z bisa memahami diri sendiri dan orang-orang bisa memahaminya di lingkungan kerja, pastinya enggak lepas sama dunia digital
“Kalau dulu zaman saya (milenial), perubahan itu bisa 5 sampai 10 tahun. Tapi kalau sekarang 5 sampai 10 hari terjadi perubahan baru. Persaingan makin ketat. Orang makin lama makin pinter. Bukan cuma pinter secara kognitif, tapi juga secara soft skill,” ujarnya.
Dengan demikian, untuk naik ke jabatan yang lebih tinggi atau bertahan, jumlah orangnya banyak banget.
Baca juga: Kumamoto Master 2024: Ganda Putra Segel Tiket Semifinal
Dia menggambarkan kalau dulu lulusan sarjana S1 terlalu banyak. Zaman sekarang S1 normal, S2 lebih normal. Mungkin lulusan S3 ke depannya akan normal juga.
Karena itu, dia berpesan kepada Gen Z butuh untuk punya multiple skills. “Kita butuh reskilling dan upskilling. Jadi nambahin skill kita dan kemudian juga tambah skill baru per 6 bulan sekali. Karena otak kita tuh semakin tua, semakin tambah usia itu udah enggak kayak sebelum 25 tahun,” urainya.
Saskhya memprediksi kalau beberapa tahun lagi yang bisa lebih sukses bukan cuma orang yang mengerti atau yang di bidangnya saja.Tapi mereka yang mengerti literasinya dan mampu mengimbangi perubahan yang cepat.
Dia mengingatkan bahwa persaingan banyak, angka pengangguran semakin meningkat. Karena itu, kemampuan belajar dan beradaptasi bagi Gen Z pun harus lebih cepat. Karena saat ini yang banyak dibutuhkan itu para teknikal-teknikal skill.
“Jadi memang zamannya lebih advance dibanding dengan zaman milenial dulu. Makanya enggak bisa kita memandang situasi kerjaan, cara belajar karyawan, cara belajar kita sendiri dengan hal-hal yang dulu. Karena saat ini memang banyak yang lebih pinter,” katanya.
Baca juga: Hajime Moriyasu: Pertandingan Tandang Lawan Indonesia Sulit
Padahal, sambungnya, di level manusia otak kita itu senang banget sama sesuatu yang terprediksi. Justru hal demikian itu yang membuat kita tenang.
Namun sesuatu yang berubah-ubah, sesuatu yang berganti-ganti bikin otak deg-degan. Sehingga menjadi stres. Karena enggak ada pattern consisten yang bisa ditangkap.
“Sementara zaman sekarang dan nanti, yang konsisten adalah sesuatu yang inkonsisten. Jadi sebenarnya kita harus terbiasa dengan inkonsistensi itu. Melawan nature kita.
Jaman sekarang, menurutnya, orang mudah stres. Sebab, kelelahannya sampai mental dan fisik. Misalnya sinis dan tidak mau bersinggungan lagi dengan hal-hal yang kita kerjakan.
“Mudah banget terdestruksi. Terhadap masalah mental kita dari mulai fokusnya turun, kita lebih sering capek dan lain sebagainya. Bahkan ketergantungan terhadap Google maps atau aplikasi maps lain itu sama juga mengurangi kemampuan untuk tahu sense jalan tuh seperti apa,” paparnya.
Kemudahan teknologi memang sangat membantu secara efektif. Tapi itu tidak produktif karena mengabaikan mental health diri sendiri. Misalnya jadi lebih gampang sosial comparison ke orang, kita ngerasa kecil, kita merasa nggak pede dan lain sebagainya.
“Karena itu tadi, yang otak kita ternyata dari dulu sampai sekarang, walaupun teknologi digital itu ada advertisementnya, tapi otak kita ya itu-itu aja naturnya,” tandasnya.