✕

Lelah Itu Lillah, Ini 7 Lelah Dalam Islam Yang Disukai Allah

Jumat, 2 Mei 2025 15:16
LELAH, LILLAH - Ilustrasi pekerja kelelahan. |theirrationalmind/Muzzamil/Helo Indonesia

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Lelah Itu Lillah, kata bijak. Dan berikut, rangkuman tujuh lelah dalam Islam yang disukai Allah.

Pertama, lelah dalam mencari nafkah. Allah Subhanallah Wa Ta'ala (SWT) berfirman dalam Qur'an Surat Q.S.) Al-Jumu'ah ayat 10 berbunyi: فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيراً لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

Dalam Latin: "Fa idzaa qudhiyatish sholaatu fantashiruu fil ardhi wabtaghuu min fadhli Allahi wa dzkurullaaha katsiiran la'allakum tuflihuun."

Artinya: "Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."

Ini menjelaskan, setelah salat (Jumat) selesai, umat Islam dianjurkan kembali ke aktivitas sehari-hari: mencari rezeki dan berinteraksi dengan orang lain. Seraya diminta terus mengingat Allah dan berzikir, sehingga bisa meraih keberuntungan di dunia dan akhirat.

Kedua, lelah dalam mengurus keluarga. Firman Allah, dalam Q.S. At-Tahrim ayat 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

"Yâ ayyuhalladzîna âmanû qû anfusakum wa ahlîkum nâraw wa qûduhan-nâsu wal-ḫijâratu ‘alaihâ malâ'ikatun ghilâdhun syidâdul lâ ya‘shûnallâha mâ amarahum wa yaf‘alûna mâ yu'marûn."

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

Ketiga, lelah dalam menuntut ilmu, dalam beribadah, dan dalam beramal saleh. Hal ini sebagaimana petunjuk Allah SWT, berfirman dalam Q.S. Ali Imran ayat 79:

وَالۡحُكۡمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوۡلَ لِلنَّاسِ كُوۡنُوۡا عِبَادًا لِّىۡ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰهِ وَلٰـكِنۡ كُوۡنُوۡا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡكِتٰبَ وَبِمَا كُنۡتُمۡ تَدۡرُسُوۡنَۙ‏ ٧٩

Latin: "Mâ kâna libasyarin ay yu'tiyahullâhul-kitâba wal-ḫukma wan-nubuwwata tsumma yaqûla lin-nâsi kûnû ‘ibâdal lî min dûnillâhi wa lâking kûnû rabbâniyyîna bimâ kuntum tu‘allimûnal-kitâba wa bimâ kuntum tadrusûn."

Artinya: "Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, "Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah," tetapi (dia berkata), "Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!"

Keempat, spesial bagi kaum ibu: lelah dalam mengandung, melahirkan, menyusui, merawat dan mendidik anak. Allah terang-terangan memerintahkan sebagaimana Firman-Nya dalam Q.S. Al Luqman ayat 14, agar umat manusia untuk berbakti pada kedua orang tua terutama ibu, dan mengingatkannya untuk bersyukur pada Allah SWT dan orang tuanya.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمْلًا بِحَمْلٍ وَفِيصَالًا فِي عَيْنَيْنِ ۚ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Latin: "Wa waṣṣainā al-insāna bi walidayhi hamlan bi hamlin wa fīṣālan fī 'aynain, ani ashkur li wa liwalidayka ilayya al-maṣīru."

Artinya: "Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu."

Kelima, lelah dalam mendapatkan, menjalani ujian hidup dan kehidupan. Allah nyata-nyata, "pasti", kata Allah, menguji umat-Nya. Dari itu, "sabar", imbuh Allah, dan bagi yang bersabar, Aku beri hadiah, aku kasih ganjaran baik.

Ini sebagaimana Allah benderangkan, Firman Dia dalam Q.S. Al Baqarah ayat 155-157:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٥٥

Latin:
"Wa lanabluwannakum bisyai'im minal-khaufi wal-jû‘i wa naqshim minal-amwâli wal-anfusi wats-tsamarât, wa basysyirish-shâbirîn."

Artinya: "Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar."

اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ۝١٥٦

Latin: "Alladzîna idzâ ashâbat-hum mushîbah, qâlû innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn."

Artinya: "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali)."

اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ ۝١٥٧
Latin: "Ulâ'ika ‘alaihim shalawâtum mir rabbihim wa raḫmah, wa ulâ'ika humul-muhtadûn."

Artinya: "Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."

Al-Baqarah ayat 155: "Wa la-balā'an nuhū"
(Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu), bersama ayat selanjutnya (ayat 156), menjelaskan, Allah akan menguji umat manusia dengan berbagai macam cobaan, seperti ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Ayat ini juga menekankan, orang-orang yang sabar dalam menghadapi cobaan tersebut akan mendapat kabar gembira, yaitu ampunan, rahmat, dan petunjuk dari Allah.

Ayat 156, jelaskan ciri-ciri orang yang sabar yaitu mereka yang ketika ditimpa musibah, ucapkan "Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji\'ūn". Ayat 157, menyatakan orang-orang yang sabar akan mendapatkan ganjaran ampunan, anugerah, berkah, barokah, hidayah, inayah, karunia, mukjizat, nikmat, pemberian, rahmat, rezeki, taufik; dan petunjuk dari Allah.

Secara keseluruhan, QS Al-Baqarah 155-157 menekankan pentingnya kesabaran dalam hadapi cobaan hidup, Allah janjikan balasan yang indah bagi orang-orang yang sabar.

Keenam, lelah dalam berjihad di jalan-Nya.
Dalam Q.S. At-Taubah ayat 111, Allah SWT berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَۗ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ وَالْقُرْاٰنِۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَاسْتَبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ۝١١١

Latin: "Innallâhasytarâ minal-mu'minîna anfusahum wa amwâlahum bi'anna lahumul-jannah, yuqâtilûna fî sabîlillâhi fa yaqtulûna wa yuqtalûna wa‘dan ‘alaihi ḫaqqan fit-taurâti wal-injîli wal-qur'ân, wa man aufâ bi‘ahdihî minallâhi fastabsyirû bibai‘ikumulladzî bâya‘tum bih, wa dzâlika huwal-fauzul-‘adhîm."

Artinya: "Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan surga yang Allah peruntukkan bagi mereka. Mereka berperang di jalan Allah sehingga mereka membunuh atau terbunuh. (Demikian ini adalah) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah? Maka, bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu. Demikian itulah kemenangan yang agung."

Patut digarisbawahi, makna jihad dalam hal ini berjuang, berusaha sungguh-sungguh di jalan Allah SWT, atau "jihad fi sabilillah", berusaha sungguh-sungguh dengan sepenuh tenaga dan kemampuan yang dimiliki, demi untuk:

a) mencapai tujuan yang baik (berjuang untuk kebaikan mencakup usaha untuk berbuat baik kepada diri sendiri maupun orang lain serta berusaha menjadi pribadi yang lebih baik),

b) menegakkan ajaran Islam (menyebarkan dakwah, melawan keburukan, dan menentang kezaliman),

c) berjuang untuk ridha Allah (semua bentuk usaha dan perjuangan dalam rangka ketaatan kepada Allah SWT dianggap sebagai jihad)

d) melawan keburukan dalam diri sendiri maupun dalam lingkup sosial.

Jihad tak cuma terbatas pada peperangan, juga mencakup ragam bentuk perjuangan: belajar, bekerja, berdakwah, berkorban harta, dan perjuangan batin untuk memperbaiki diri.

Ketujuh, lelah dalam berdakwah. Dakwah: menyeru pada kebaikan. Lelah ditimbulkan karena berdakwah termasuk rasa lelah yang Allah sukai, sebagaimana Firman-Nya dalam Q.S. Fushshilat ayat 33:

وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ۝٣٣

Latin: "Wa man aḫsanu qaulam mim man da‘â ilallâhi wa ‘amila shâliḫaw wa qâla innanî minal-muslimîn."

Artinya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?’”

Ayat ini dan ayat-ayat berikutnya memberikan pujian Allah terhadap orang yang menyeru ke jalan-Nya, melanjutkan ayat-ayat terdahulu yang menjelaskan penghargaan kepada orang-orang yang istikamah dengan kedatangan malaikat yang membantu mereka.

Demikian, Sidang Pembaca kaum muslimin. Yakinlah, apapun lelahmu dalam ketujuh hal di atas, Allah telah berikan porsi ganjaran-Nya, bagi kita, bagi para hamba-Nya yang saleh, yang sabar, dan yang istikamah, berikhtiar.

Teruskan lelahmu, tetapi hindari kelelahan ekstrem akibat kerja (fatigue); atau kondisi ditandai perasaan lelah dan kantuk luar biasa, gairah untuk bekerja hilang, performa kerja menurun, kekuatan dan ketahanan fisik tubuh untuk terus lanjutkan pekerjaan berkurang.

Fatigue rawan menyergap pekerja berbagai industri, seperti konstruksi, pertambangan, manufaktur, hingga pekerja kantoran. Fatigue di tempat kerja bukan cuma kelelahan biasa, singkat, dan akan hilang tanpa penanganan.

Biasanya ditandai kelelahan ekstrem dan rasa kantuk siang hari, terus menerus, jangka lama (beberapa hari atau pekan), yang mengalami cenderung jenuh pekerjaan, tak bersemangat, kurang produktif, terganggu emosi, terdera problem kesehatan serius, dan buntutnya produktivitasnya menurun, risiko kecelakaan kerja meningkat. Bijaknya, ini dihindari.

Dengan tetap mengingat, bijak lainnya, bahwa sehat dan kesehatan tidak bisa diwakilkan. Kita tak bisa "nitip absen" urusan sehat dan kesehatan. Betul, tidak? Betul apa betul?

Maka itu, teruskan lelahmu, fisik pun hayati, dengan kondisi fisik juga jiwa, tetap sehat. Teruskan, dan jadikan ia, jadikan lelahmu, lelah yang Lillah. Wallahu a'lam bishawab. (Muzzamil)

Berita Terkini