✕

Hujan Mulai Menyapa Malu-Malu Bandarlampung, Kemarau Belum Benar-Benar Berakhir

Rabu, 28 Oktober 2026 15:09
Tanah mulai basah di Kota Bandarlampung HELO LAMPUNG

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Setelah berbulan-bulan tak diguyur hujan secara berarti hingga suhu udara terasa menyengat hingga 37 derajat Celsius, hujan mulai “malu-malu” menyapa Kota Bandarlampung, Rabu (28/10/2026). Para pelajar yang pas jam pulang sekolah terlihat berlari kecil mencari tempat berteduh ketika gerimis mulai membesar.

Diawali suara guntur sekitar pukul 11.00 WIB, gerimis turun pukul 11.48 WIB. Rintik-rintik itu kemudian sedikit menguat hingga sekitar pukul 13.30 WIB. Belum deras, tetapi cukup untuk membasahi jalanan dan mengurangi debu yang selama berminggu-minggu beterbangan.

Sejak Senin (26/10/2026), langit Bandarlampung memang lebih sering mendung dan angin kencang. Namun, awan yang menggantung belum juga menumpahkan hujan berarti. Siang ini, hujan akhirnya datang meski sebentar. Belum sampai menimbulkan banjir, tetapi cukup menghadirkan suasana berbeda di tengah kemarau yang terasa panjang.

Kemarau Sejak Pertengahan Tahun

Musim kemarau tahun ini berlangsung dengan kondisi kering yang cukup menonjol di berbagai wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, hingga September 2026, sejumlah daerah masih mengalami hari tanpa hujan dalam kategori sangat panjang hingga ekstrem.

Lampung termasuk wilayah yang sempat mencatat suhu maksimum di atas 37 derajat Celsius pada periode 24–27 September 2026. Kondisi tersebut tidak berarti seluruh Lampung mengalami kekeringan dengan durasi yang sama.

Awal dan panjang musim kemarau berbeda menurut wilayah serta zona musim. Namun, minimnya hujan, udara panas, dan meningkatnya risiko kebakaran lahan menjadi gambaran yang dirasakan di sejumlah daerah.

BMKG juga mengingatkan bahwa musim hujan 2026/2027 berpotensi datang lebih lambat akibat pengaruh El Niño yang sangat kuat, bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kedua fenomena iklim itu dapat mengurangi pasokan uap air dan menghambat pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia.

Dalam prediksi musim hujan yang diumumkan BMKG pada September–Oktober 2026, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan memasuki musim hujan pada November hingga Desember. Bahkan, 61,08 persen wilayah zona musim diprediksi mengalami awal musim hujan yang mundur dibandingkan kondisi normalnya.

Lampung Tidak Serentak Diguyur hujan

Khusus Provinsi Lampung, BMKG memetakan awal musim hujan berdasarkan 12 zona musim. Sebagian wilayah Lampung Barat dan Pesisir Barat diperkirakan lebih dahulu memasuki musim hujan pada Oktober 2026. Sementara itu, sejumlah wilayah lainnya diprediksi mulai mengalaminya pada November hingga Desember.

Beberapa daerah, terutama bagian tertentu Lampung Selatan dan Lampung Timur, bahkan diperkirakan baru memasuki awal musim hujan pada awal Januari 2027. Karena itu, gerimis di Bandar Lampung pada Rabu siang belum otomatis menjadi tanda bahwa seluruh wilayah Lampung telah memasuki musim hujan.

Meski demikian, peluang hujan mulai meningkat. Dalam prospek cuaca tujuh harian periode 26 Oktober–1 November 2026, Stasiun Meteorologi Radin Inten II BMKG memperkirakan cuaca Lampung didominasi kondisi cerah berawan hingga berawan, dengan potensi hujan ringan sampai lebat.

Untuk Rabu (28/10/2026), wilayah yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat disertai petir dan/atau angin kencang meliputi Lampung Selatan, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Pesisir Barat, Lampung Barat, Way Kanan, Lampung Utara, Lampung Tengah, Tulang Bawang, dan Tulang Bawang Barat.

Pada Kamis (29/10/2026), potensi hujan tersebut diprakirakan masih mencakup sejumlah daerah, termasuk Lampung Timur dan Bandar Lampung. Prakiraan ini menunjukkan bahwa hujan lokal dapat muncul di tengah kondisi kemarau yang secara umum belum sepenuhnya berakhir.

Hujan Lokal, Belum Jaminan Kemarau Usai

Fenomena hujan yang mulai turun di sejumlah tempat perlu dibaca secara hati-hati. Dalam masa peralihan musim, hujan dapat datang secara sporadis: satu wilayah basah, sementara daerah lain yang berdekatan masih panas dan kering. Karena itu, hujan yang membasahi Bandar Lampung belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kemarau telah berakhir.

Penetapan awal musim hujan didasarkan pada kriteria curah hujan dan pemantauan dalam periode tertentu, bukan hanya satu kali kejadian hujan. Di luar Lampung, kondisi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. BMKG melaporkan bahwa pada akhir September hingga Oktober, kondisi atmosfer nasional masih beragam.

Sebagian wilayah tetap kering, sedangkan wilayah lain berpeluang mengalami hujan sedang hingga lebat akibat dinamika atmosfer regional dan lokal. Di sejumlah daerah Sumatera, peluang hujan dipengaruhi antara lain oleh aktivitas gelombang atmosfer, kelembapan udara, dan kondisi perairan sekitar.

Namun, waktu dimulainya musim hujan tidak sama di setiap daerah. Informasi hujan yang benar-benar telah turun di wilayah lain perlu merujuk pada laporan cuaca setempat agar tidak mencampuradukkan prakiraan dengan kejadian aktual.
Bagi warga Lampung, hujan kali ini setidaknya membawa sedikit kelegaan setelah hari-hari panjang yang panas dan berdebu.

Akan tetapi, masyarakat tetap perlu menghemat air dan mewaspadai kebakaran lahan selama kondisi kering masih berlangsung. Di sisi lain, ketika hujan mulai lebih sering turun, kewaspadaan terhadap petir, angin kencang, genangan, dan banjir lokal juga perlu ditingkatkan.

Rintik hujan Rabu siang itu mungkin belum cukup untuk membasahi bumi yang lama mengering. Namun, di antara suara guntur dan jalanan yang mulai basah, ada harapan yang tumbuh: semoga hujan tak sekadar mampir, tetapi segera datang lebih merata untuk mengakhiri kemarau panjang.

Sumber: BMKG, Prediksi Musim Hujan 2026/2027 di Indonesia; BMKG Stasiun Meteorologi Radin Inten II, Prospek Cuaca 7 Hari Provinsi Lampung, 26 Oktober–1 November 2026; serta pemberitaan detikSumbagsel mengenai prediksi awal musim hujan di Lampung. (HBM)

Berita Terkini