LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Sedikitnya ada tujuh fenomena alam semesta raya terjadi di luar angkasa selama periode umat Islam di dunia menjalankan ibadah puasa Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah kurun 18/19 Februari ini hingga 19/20 Maret 2026. Tujuh fenomena langit Ramadan.
Pertama, jangan sampai terlewat, usai ngabuburit atau memanteng takjil war sudut-sudut sentra penjaja, di tengah energi tersisa jelang tiba buka puasa, pusatkan fokus Anda hari ini, hari kedua/ketiga Ramadan ini, Jum'at (20/2/2026).
Cermati momen senja: peralihan siang ke malam yang acap dikaitkan suasana temaram, dominan merah, jingga, saat matahari mulai tenggelam; hingga momen petang dengan rentang waktu lebih luas sebelum malam.
Sejak tiba waktu burit —waktu jelang matahari terbenam, hingga tiba waktu Magrib —waktu matahari terbenam, hingga saat tunggang gunung —waktu matahari telah hampir terbenam, hingga tiba swastamita —waktu matahari terbenam, serta seluruh kala sambekala —waktu senja atau petang.
Mulai pukul 18.00 WIB, pada 20 Februari 2026 ini, arahkan pandangan mata ke arah barat. Di mana akan tampak garis vertikal langka. Setelah matahari terbenam, diperkirakan terjadi penyejajaran Panet Venus, Merkurius, Saturnus; dan Bulan, membentuk garis vertikal langka.
Venus bakal jadi satu-satunya titik cahaya terang yang menonjol terlihat, seperti diketahui planet ini bersinar memukau saat senja.
Kedua, parade enam planet —Merkurius, Venus, Saturnus, Jupiter, Uranus, Neptunus— akan berbaris dalam parade planet menakjubkan, akhir bulan ini, 28 Februari 2026.
Posisi Merkurius, Venus, Saturnus terlihat berdekatan di langit barat hingga selatan. Merkurius, terdekat matahari ini akan tampak makin redup, memudar, turun lebih rendah di langit barat.
Venus makin memikat, bersinar terang terlihat sekitar 7 derajat di atas horizon saat memulai penampakan panjangnya sepanjang 2026 sebagai bintang senja.
Jupiter paling terang di langit malam. Uranus dan Neptunus berada di konfigurasi yang sama, tapi lantaran intensitas cahayanya rendah, butuh bantuan teleskop untuk melihatnya.
Fenomena ini akibat perbedaan kecepatan orbit masing masing planet, yang pada periode tertentu menempatkan mereka dalam satu bidang pandang dari Bumi.
Ketiga, gerhana bulan total, 3 Maret 2026. Saat itu, satelit alami Bumi itu akan hadir Bulan Purnama "Worm Moon" dan istimewanya sebab yang dialami ialah gerhana total dimana dalam fase itu bulan takkan menghilang dari pandangan.
Sebaliknya, satelit alami Bumi itu berubah warna menjadi jingga tembaga akibat pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer Bumi —acap disebut Blood Moon, secara ilmiah, lebih menyerupai tembaga ketimbang merah darah pekat.
Gerhana Bulan Total dimana bulan purnama “Worm Moon” berubah menjadi warna tembaga saat fase totalitas ini dapat disaksikan dari sebagian besar wilayah Amerika Utara, Asia, dan Oseania, dengan waktu pengamatan menyesuaikan zona masing-masing. Juga bisa disaksikan di Indonesia sekitar pukul 18.30 WIB pada 28 Februari nanti.
Keempat, Konjungsi Venus dan Saturnus, 7–8 Maret 2026. Venus dan Saturnus bertemu dekat rendah di langit barat saat malam dua hari ini. Konjungsi dapat diamati dengan teropong pukul 19.15 WIB, sedang cincin Saturnus yang tampak hampir sejajar juga bisa dilihat dibantu teleskop.
Kelima, Bulan Baru, 18 Maret 2026. Saat itu nanti, bulan tampak tidak terlihat di langit. Namun sebenarnya bulan baru dan hanya tersembunyi dari pandangan. Inilah malam sempurna untuk amati bintang.
Langit gelap ideal untuk amati galaksi. Pada malam ini lebih banyak galaksi terlihat dari Maret hingga pertengahan Mei, terutama awal malam.
Keenam, Bulan bertemu Venus, 19–20 Maret 2026. Saat ini nanti setelah matahari terbenam sekitar pukul 19.15 WIB pada 19 Maret 2026 mendatang, bulan sabit akan bertemu
dan berpasangan dengan Venus.
Carilah Venus di kiri atas bulan, rendah di langit barat. Lalu pada malam berikutnya, 20 Maret, Venus tampak menggantung di bawah bulan.
Ketujuh, Ekuinoks Musim Semi, 20 Maret 2026. Matahari terbit tepat di timur dan terbenam tepat di barat. Ekuinoks Maret 2026 akan terjadi 20 Maret 2026 pukul 16.01 WIB.
Fenomena ini menandai saat di mana matahari melintasi ekuator langit, bergerak dari belahan Bumi selatan ke belahan Bumi utara yang mengakibatkan durasi siang dan malam yang hampir sama di seluruh dunia.
Peristiwa ini juga menandai awal musim semi di belahan Bumi utara dan musim gugur di belahan Bumi selatan. (Muzzamil)