BAMBANG SBY, 25 tahun lebih mewarnai dunia seni lukis di Provinsi Lampung. Hingga di usia senjanya, pelukis kesayangan Gubernur Letnan Jenderal TNI (HOR) (Purn) Poedjono Pranyoto (1988-1997) tetap bertahan di Bumi Ruwa Jurai.
Sudah beberapa kali terhanyut ke provinsi lain, namun sang pelukis potret kembali lagi ke Lampung. Provinsi ini telah menjadi bagian dari dirinya. "Entah kenapa, saya selalu balik lagi ke Lampung," ujarnya. Walau dirinya hanya sebatang kara di daerah ini.
Namun, kondisinya saat ini tidak baik-baik saja. Sang pelukis nyentrik ini, jelang akhir tahun 2024, kehilangan handphone yang jadi alat satu-satunya berkomunikasi dengan putra semata wayangnya di Jakarta, para sahabat, dan relasinya.
Tak sampai di situ, sepekan kemudian, dia kembali kehilangan sepeda motornya yang dibawa lari orang yang baru dikenalnya di Masjid Tagwa Bhayangkara. Kini, dirinya kehilangan alat satu-satunya transportasi untuk bergerak.
Bambang SBY tak bisa menghubungi siapa-siapa dan tak bisa kemana-mana lagi. Sang pelukis yang sangat berdedikasi dengan dunianya ini hanya bisa mendekatkan diri dengan Alloh SWT di Masjid Taqwa Bhayangkara. Jl. Mayjen MT Haryono No.19, Gotongoyong.
Di masjid ini, siang dan malam, dia bertahan dari panas dan hujan serta rasa haus dan lapar dengan senantiasa bersabar dan tawakal menghadapi gelombang kehidupannya yang belum kembali berpihak kepadanya.
Kini, sang pelukis yang turut berjuang melahirkan wadah para seniman Lampung, yakni Dewan Kesenian Lampung (DKL) pada tahun '90-an dan berinisiatif merintis pameran lukis di mall dalam kesendirian di masjid tersebut.
Bambang SBY, sebelum terdampar di Lampung, nekad hijrah jadi pelukis dari Surabaya ke Ancol Jakarta. Di situ, dia menemukan jodohnya yang kemudian membawanyanya ke Lampung. Di kota ini, dia yang pertama membuka sanggar lukis di Jl. A. Yani, Kota Bandarlampung.
Setelah itu, dia bersama para pelukis daerah mengisi Pasar Seni Enggal. Di tempat tersebut, Gubernur Poedjono Pranyoto kerap mampir dan ngobrol tentang seni hanya berdua dan pada malam hari. Ngobrol soal seni, Poedjono tak ingin dikawal para ajudan.
Kekuasaan berganti, kebijakan penguasa berubah, Pasar Seni Enggal tergusur jadi Taman Gajah di era Gubernur M Ridho Ficardo dan akhirnya jadi kawasan Masjid Al-Bakrie di era Gubernur Arinal Djunaidi. Sejak itu, dia berteduh di DKL, kantor media, hingga sekretariat para jurnalis.
Sampai akhirnya, sang maestro yang juga hobi musik rock ini tak punya tempat, alat komunikasi, transportasi, hingga tak ada tempat buat dirinya melukis dan membaringkan tubuh. Praktis, sang maestro sendirian di Masjid Bhayangkara. (HBM)
-
