Helo Indonesia

Jadi Khasanah Budaya, Mengungkap Manuskrip Kerajaan Tentang Ethnowllness Nusantara

Selasa, 21 Januari 2025 21:23
    Bagikan  
Manuskrip kerajaan
Foto: tangkapan layar

Manuskrip kerajaan - Salah satu situs peninggalan Kerajaan Majapahit di wilayah Trowulan Mojokerto.

HELOINDONESIA.COM - Indonesia begitu kaya dengan sumber daya alam dan manusianya. Sehingga tanah Nusantara ini menjadi salah satu khasanah budaya bangsa yang bisa dijadikan pengembangan kekayaan bangsa, sehingga buat masyarakat.

Salah satu khasanah budaya bangsa yang bisa dikembangkan adalah ethnowllness nusantara atau Etna.

Antropolog Universitas Indonesia, Dr Jajang Gunawijaya dalam sebuah webinar yang dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Selasa (21/1/2025) mengatakan bahwa manuskrip kerajaan menjadi sumber dari Ethnowllness Nusantara.

"Sebelum bangsa kita berdiri menjadi sebuah negara Republik Indonesia, tentunya dari dulu sampai sekarang bentuknya masih terdiri dari ratusan kerajaan-kerajaan," terangnya.

Baca juga: Bupati Dendi Resmikan Masjid Kompi A Yonif 143 Gedongtataan

Berbicara kerajaan-kerajaan, lanjut Jajang, tentunya memiliki istilah antropologi yang memiliki khasanah pengetahuan dan perkembangan Ethnowllness dalam kaitan dengan manuskrip-manuskrip kerajaan dan menjadi sumber daya pengetahuan.

"Ethnowllness merupakan suatu sistem kebugaran yang berakar pada suku-suku bangsa Indonesia," tambahnya.

Menurut Jajang, sumber ethnowllness itu sendiri sebetulnya ada dua yaitu manuskrip kerajaan dan sumber yang beredar di masyarakat secara lisan.

"Sedangkan yang berada di masyarakat sekarang secara lisan itu banyak versi-versinya," tambahnya.

Baca juga: Honorer Pesawaran Paruh Waktu Tuntut Jadi Honorer Penuh Waktu ke DPRD

Kendati demikian, meski berasal dari masyarakat, namun sumbernya tetap dari keraton atau dari kerajaan.

Dikatakan Jajang, kerajaan itu adalah suatu sistem kekuasaan yang sangat kuat. Dan itu bisa terjadi ketika masyarakatnya memiliki sistem perekonomian yang kuat.

Kriteria berdirinya suatu kerajaan adalah pertama telah mengenal bibit unggul dan sistem irigasi. 

"Seperti Kerajaan Mesir yang di pinggir sungai Nil juga memiliki peradaban pertanian, kerajaan India yang berada di Sungai Indus, sehingga bisa menciptakan irigasi, kerajaan Majapahit juga berada di sisi Sungai Brantas," terang Jajang.

Baca juga: Lokasi Kebakaran Gang Laler Dikunjungi Wali Kota Arifin, PMI Jakpus Buka Posko Pelayanan Kesehatan dan Bagikan Makanan Siap Saji

Kedua, memiliki surplus produksi pertanian. 

"Seperti masyarakat pesisir atau kerajaan yang berada di pesisir," tambahnya.

Ketiga, telah ada spesialisasi kerja, tidak tergantung pada sektor pertanian.

"Ada perdagangan, maka ada jasa-jasa di sekitar perdagangan," ujarnya.

Keempat, adanya organisasi sosial yang memungut pajak atau retribusi.

Baca juga: Mengembangkan Peternakan Sapi di Kawasan Transmigrasi, Wamen Viva Yoga: Mewujudkan Swasembada Daging dan Meningkatkan Kesejahteraan Transmigran Peternak

Kelima, berkembang sistem aturan, kebudayaan dan peradaban.

"Tentu ada organisasi kekuasaan yang bisa menjaga irigasi, yang bisa menjaga perdagangan. Ada surplus yang diperdagangkan," paparnya.

Selain itu ada "kaum santai" artinya kaum aristokrat yang tidak bekerja menggunakan fisik. 

"Tapi bekerja menggunakan otak. Menggunakan cipta rasanya. Sehingga bisa menciptakan sesuatu. Nah ini adanya di kerajaan," jelasnya.

Baca juga: Kunjungi Pengungsi Banjir di Dishub Kendal, Wakil Bupati Terpilih: Perlu Adanya Tata Ruang

Keenam, morbiditas rendah, harapan hidup lebih panjang, kelahiran tinggi

Ketujuh, hubungansosial masih berdasarkan emosional.