Helo Indonesia

Bedda Lotong, Rahasia Kecantikan Kulit, Fisik dan Mental Wanita Suku Bugis

Kamis, 30 Januari 2025 20:09
    Bagikan  
Spa wellness
Foto: tangkapan layar

Spa wellness - Ramuan Bedda Lotong yang tak hanya bisa memutihkan kulit saja tapi juga memiliki manfaat yang bisa menyehatkan fisik dan mental.

HELOINDONESIA.COM -Untuk menjadi sehat, cantik secara fisik tentu saja berpengaruh kepada hati dan mental pada diri seseorang.

Untuk bisa tampil prima bisa menggunakan ramuan-ramuan dari berbagai suku bangsa yang ada di Republik ini.

Salah satunya adalah filosofi tradisi kesehatan Bedda Lotong dari Suku Bugis, Sulawesi Selatan yang merupakan sumber kesehatan dan kecantikan wanita Bugis.

" Sebagian masyarakat Bugis itu tersebar di beberapa kabupaten kota yang ada di Sulsel," terang Prof Dr Pawennari Hijjang, Dosen Antropologi di Fisip Universitas Hasanuddin Makassar seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Kamis (30/1/2025).

Baca juga: Pj. Gubernur Lampung Tinjau Pembangunan Masjid Al Hijrah di Kota Baru, Ajak Sjachroedin Saksikan Perkembangannya

Menurutnya, suku Bugis tersebar di beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.

"Ada di Kabupaten Bone, Kabupaten Soppeng, Kabupaten Wajo, Kabupaten Sidenreng Rappang, Kabupaten Enrekang, dan lain sebagainya dengan jumlah penduduk yang cukup banyak," paparnya.

Dikatakan Prof Dr Pawennari Hijjang, diaspora orang Bugis juga dikenal melalui perdagangan.

"Di mana-mana orang Bugis berdagang di pasar. Baik itu di pasar-pasar tradisional, pasar semi tradisional dan pasar modern," jelasnya.

Baca juga: APINDO Lampung Peduli Korban Banjir

Jadi, lanjutnya, niat baik orang Bugis itu merantau bertujuan untuk membantu orang banyak.

"Mereka menyediakan jualan-jualan sesuai dengan kebutuhan suku bangsa tempat suku Bugis merantau," tambahnya.

Sehingga, imbuh Prof Dr Pawennari Hijjang, orang Bugis yang besar dari berbagai sumber daya dengan konteks lokal Sulawesi Selatan, juga di luar Sulawesi secara nasional.

Prof Dr Pawennari Hijjang menceritakan saat ia berdiskusi dengan diaspora asal Bugis yang kebetulan ketemu di Amsterdam, Belanda.

Baca juga: APINDO Lampung Peduli Korban Banjir

Di ruang tunggu, saat ia mau pulang melihat dari jauh ada tiga orang, satu perempuan dua laki-laki. Dari postur tubuh dia adalah orang Asia.

"Kemudian saya berdiskusi dan memastikan setelah mendengar logatnya dia orang Bugis. Ketemu di tempat yang jauh sana. Banyak yang kita ceritakan. Jadi banyak akses-akses orang Bugis untuk berinteraksi dengan suku bangsa lain. Tapi waktu itu kita tidak membicarakan Bedda Lotong yang merupakan salah satu rahasia kecantikan wanita Bugis. Karena keterkaitan dengan diaspora yang seperti itulah orang Sulawesi Selatan," urainya.

Dari sejarah, diungkapkan Prof Pawennari Hijjang, geografis tanah Bugis terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, kawasan Indonesia Tengah.

"Tapi kampung Bugis ada di banyak tempat. Ada di Jakarta, dan daerah-daerah lain," katanya.

Baca juga: Tegak Lurus Satu Komando ke Hendry Ch Bangun, PWI Sulsel Siap Menghadiri HPN Kalsel 2025

Mengutip Prof Mattulada yang ditulis tahun 1998 yang menegaskan bahwa orang Bugis bertebaran di luar daerah asalnya. Seperti di Pagatan, Kalimantan Selatan, di sepanjang pesisir Pantai Malaysia Barat, pantai Sumatera dan pulau-pulau lainnya di Nusantara.

Ada juga tulisan dari Pelras tahun 2006 yang menyebutkan bahwa profesi orang-orang Bugis secara tradisional adalah bertani.

"Beberapa abad selanjutnya menjadi pelaut dan pelayar," jelasnya.

Menurut Prof Dr Pawennari Hijjang, ada istilah Pangngadereng orang Bugis, yakni kehidupan sosial masyarakat Bugis itu ada "Ade", "bicara", "rapang", "wari" dan "shara,".

Baca juga: Usung Tema Ketahanan Pangan, PWI Kepri Siap Menghadiri Event Akbar HPN 2025 Kalsel

Terkait dengan spa wellness ini, sambung Prof Dr Pawennari Hijjang, Kementerian Pariwisata sudah mempromosikan spa tradisional sebagai potensi pariwisata dan pengembangan ekonomi kreatif.

"Kalau ini dikelola secara profesional maka republik ini dengan pelaku-pelaku masih tetap mempromosikan, menggunakan, mempraktikkan, perawatan tubuh secara tradisional dengan menggunakan bahan-bahan tradisional maka itu akan berpotensi menjadi sumber pendapatan negara," terangnya.

Dengan demikian, ujarnya, lapangan kerja juga akan terbuka luas.

"Nah bagaimana anak menjaga tradisi tentu saja harus ada riset berkaitan dengan rempah dan pembuatan wewangian untuk spa. itu bisa dilakukan sepanjang di kepulauan nusantara," paparnya.

Baca juga: UDS Adakan Acara Peringatan 76 Tahun Letkol Dr. RM Soebandi Gugur

Tak hanya itu, tegas Prof Dr Pawennari Hijjang, berbagai kontes kecantikan dan perawatan tubuh tradisional untuk menjaga tradisi ini harus tetap terjaga keberlanjutannya dan tidak boleh terputus

"Misalnya pergantian pemimpin terputus, sehingga ini tidak boleh. Ini harus ada karena merupakan bagian dari kehidupan manusia," tandasnya.