HELOINDONESIA.COM -Banyak manuskrip-manuskrip kerajaan atau tulisan-tulisan kuno yang berasal dari Keraton Surakarta sejak tahun 1700an sebagai sumber budaya etnowellness Indonesia.
Hal ini diungkapkan Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Gusti Kanjeng Ratu Koes Moertiyah atau akrab disapa Gusti Mung dalam webinar yang dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Senin (10/2/2025).
"Keraton Surakarta Hadiningrat sudah berdiri sejak tahun 1745. Sejak tahun 1945 terhitung sudah 200 tahun sudah berdiri sebagai terusan Kerajaan Mataram di desa Solo. Kemudian dideklarasikan oleh Sunan Pakubuwono II menjadi pusat pemerintahan di Jawa yaitu Keraton Surakarta Hadiningrat pada tanggal 20 Februari 1745," papar Gusti Mung.
Keraton Surakarta yang merupakan terusan dari Kerajaan Mataram yang didirikan oleh Panembahan Senopati yang bekas kerajaannya ada di Kota Gede Yogyakarta.
Baca juga: Mulai Bulan Ini, Pemkot Bandarlampung Perbaiki Talut dan Drainase
"Karena dulu sebagai pusat pemerintahan banyak sekali hasil karya manuskrip, tulisan tangan yang dikumpulkan oleh Sinuwun Pakubuwono X itu dengan membuat perpustakaan," jelasnya
Awalnya, menurut Gusti Mung, hanya untuk internal Keraton saja yaitu Sasono Pustoko.
"Semua sentono-sentono atau kerabat diharapkan untuk memberikan buku-buku beliau-beliau untuk dijadikan satu di Sasono Pustoko.Namun beliau sangat menginginkan juga untuk pembelajaran masyarakat dan membuat perpustakaan di Komplek Sriwedari di tahun 1926," ungkapnya.
Dikatakan Gusti Mung bahwa koleksi manuskrip itu tercatat dan sudah didokumentasikan dan dibikin kataloginya terus dibuatkan mikro filmnya itu di tahun 1980.
Baca juga: Kado Prabowo Buat yang Ultah: Cek Kesehatan Gratis, Ini Prosedurnya
Kemudian, sambungnya, melalui Jepang foundation mereparasi banyak naskah yang perlu direparasi karena saat dipakai umum banyak yang rusak.
"Jadi naskah itu kebanyakan jadi rusak karena tergulung atau terlipat kertasnya," kata Gusti Mung.
Dia mengungkapkan bahwa banyak manuskrip yang ada di Sasono Pustoko atau perpustakaan Keraton Surakarta itu ada 1400-an.
"Dan ini semua karya dari pendiri Mataram. Insya Allah ke depan Sasono Pustoko masih dipergunakan rujukan dari seluruh ilmuwan karena di Sasono Pustoko semua ilmu ada termasuk juga untuk kesehatan," jelasnya.
Baca juga: DPRD Nilai Dinkes Balam Lambat Laksanakan Program MCU Prabowo
Karena Keraton Surakarta dulu adalah pusat pemerintahan jadi juga sangat memperhatikan untuk kesehatan masyarakatnya.
"Ini sudah dialih aksara. Naskah yang tadinya adalah tulisan Jawa atau tulisan tangan atau manuskrip yang ini semua adalah ramuan jampi-jampi Jawa atau ramuan obat-obatan Jawa. isinya ada 1.734 ramuan obat," ungkapnya.
Namun demikian, naskah yang masih utuh tersebut dirahasiakan.
"Dalam bahasa Jawa itu disingitkan atau rahasiakan. Namun juga ada naskah-naskah yang lain yang pastinya sangat populer adalah yang sampai sekarang masih menjadi rujukan dan pegangan untuk kebudayaan atau kearifan lokal," jelasnya.
Sayangnya, dari 1400 an naskah, masih ada yang belum didapatkan. Jadi dalam catatan naskah wulanreh itu tidak ada sejak berdirinya Sasono Pustoko.
Baca juga: Medianya Dilaporkan Pejabat Pakai UU ITE, Amuri Nilai Kriminalisasi
"Memang kami mengharapkan mungkin ada di Negeri Belanda atau kolektor naskah mungkin. Semoga ini terselamatkan semua tulisan tangan belum serat-serat yang lainnya atau naskah-naskah yang lain karena ada 1400an," urainya.
Ditegaskan Gusti Mung bahwa naskah-naskah tersebut sangat luar biasa bagi Keraton Surakarta khususnya dan umumnya bagi Republik Indonesia.
"Ini menjadi kekayaan atau kearifan lokal yang tertulis dalam naskah. Semoga ini tetap terjaga terus selamatkan dan bisa dipergunakan untuk pijakan ke depan masyarakat kita juga generasi kita untuk memahami kearifan lokal yang ada di keraton-keraton," tandasnya.
Saya yakin keraton-keraton itu masih ada naskah-naskah tulisan tangan yang masih relevan untuk disajikan kepada masyarakat.
