Helo Indonesia

Memasak Sesuatu Hingga Menjadi Asupan Kesehatan Jamu itu Teknologi

Kamis, 24 April 2025 21:30
    Bagikan  
Etna Betawi
Foto: tangkapan layar

Etna Betawi - Salah satu prosesi dari Tangas Betawi merendam kaki dalam air bunga untuk calon pengantin.

HELOINDONESIA.COM - Ritual atau ritus menjadi salah satu unsur dari tradisi kesehatan masyarakat Betawi.

Dan ritual ini memang sudah seharusnya dijaga dan dilestarikan agar tidak punah.

"Bagaimanapun juga, ritual itu di dalamnya mengandung semua unsur yang di dalam undang-undang. Kemajuan kebudayaan itu dikatakan bahwa ada ekosistem," jelas Budayawan Betawi, Dr Yahya Andi Saputra seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Kamis (24/4/2025).

Karena itu, lanjutnya, kalau ekosistem ini rusak, maka otomatis kekhawatiran kita, khususnya pemerintah yang mengeluarkan undang-undang nomor 5 tahun 2017 itu tentang pemajuan kebudayaan akan hilang begitu saja.

Baca juga: 3 Bulan, 13 Rumah Panggung Terbakar, Kali ini 3 Rumah di Karya Penggawa

"Undang-undang ini kemudian diterjemahkan oleh masing-masing Pemerintah Provinsi menjadi Pokok-pokok Pemajuan Kebudayaan Daerah (PPKD)," tambahnya.

Menurutnya, Pemerintah DKI Jakarta sudah melakukan penyisiran bagaimana nasib sirih, nasib bawang, nasib bambu sebagai salah satu rempah-rempah yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi kesehatan dan kebugaran Betawi.

"Nasib dari macam-macam tanaman yang kita tanam di sini dimanfaatkan oleh orang dulu menjadi bermacam-macam obat," jelasnya.

Bagaimana pun juga, menurutnya, pengetahuan tradisional itu seperti numbuk kencur, kemudian numbuk beras yang dicampur menjadi ramuan jamu itu untuk kesehatan," tandasnya.

Baca juga: Membeludak, Peserta Kejuaraan Bulu Tangkis Piala Rektor USM 2025

Secara tradisional, menurut Yahya Andi Saputra, untuk memasak sesuatu sehingga dia betul-betul menjadi asupan kesehatan jamu itu teknologi.

"Apinya harus jelas panasnya berapa, berapa persen digepreknya itu barang, harus berapa biji itu ukurannya, harus berapa lembar itu daun salam yang dicampur," tandasnya.

Pakar Budaya Etnaprana Betawi di Indonesia Wellness master Association (IWMA) Yahya Andi Saputra ini menegaskan bahwa tradisi tersebut juga merupakan sebuah teknologi.

"Oleh karena itu saya dan teman-teman diketahui itu mengapresiasi betul bahwa undang-undang ini memang sekarang sudah lagi kita cecer," tegasnya.

Baca juga: Bupati Lampung Barat Nyatakan Siap Dukung Program Pusat MBG

.Dikatakannya, ternyata sekarang itu apalagi di Jakarta di sangat berasa betul kemajuan dari perubahan secara demografi.

Di Jakarta, ungkapnya, setiap bulan itu terjadi mutilasi terhadap kota. dulu itu misalnya kalau kita dari sini dari Jakarta Pusat menuju Timur dari timur sampai ke batas BKT, kemudian dari BKT kita menyusuri BKT terus Marunda itu nanti akan ketemu beberapa kampung misalnya kampung Rorotan .

"Di kampung Rorotan itu kan dulu saya sampai sekarang masih menjadi kawasan pertanian. Tetapi semakin hari semakin berkurang. Tanah pertanian itu dan enggak mungkin mutilasi terhadap persawahan itu dan akhirnya menjelma menjadi perkantoran atau kawasan industri dan segala macamnya. Itulah yang saya maksud dengan pemutilasian," tandasnya.