LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Dari bukit gamping Jalan Lintas Sumatera, Kecamatan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan, bukit kecil itu akhirnya menjelma jadi bangunan megah yang kini dikenal sebagai Menara Siger — kebanggaan Provinsi Lampung.
Pada masa lalu, tempat itu hanyalah sudut sunyi yang hanya dilewati para pelintas jalan. Namun waktu dan gagasan besar mengubahnya menjadi kawasan destinasi wisata, sekaligus penanda gerbang awal Pulau Sumatera.

Sejak Gubernur Lampung Sjachroedin Zainal Pagaralam meresmikan Menara Siger pada 30 April 2008, kawasan bukit gersang tersebut bermetamorfosis menjadi ikon daerah dan “Pintu Gerbang Sumatera”.
Menara Siger yang kemudian menginspirasi berbagai ragam hias dan logo yang merepresentasikan wajah Lampung. Di balik semua itu, ada sosok insinyur teknik sipil, pakar ferosemen dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Ir. Anshori Djausal, MT.
Budayawan kelahiran Kabupaten Lampung Utara yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 74 tahun pada 13 Maret lalu itu memadukan teknologi konstruksi ferosemen dengan jiwa kebudayaan Lampung.
Melalui karya ciptanya, lahirlah desain Menara Siger dengan teknologi ferosemen—konstruksi berbahan jaring baja halus yang memungkinkan bangunan tetap kuat, namun ringan dan relatif tipis.
Di dalam rancangan itu, Anshori tidak hanya menanamkan kekuatan struktur, tetapi juga merajut makna dan filosofi yang mengakar pada identitas Lampung.
Tak mengherankan jika desain tersebut akhirnya memperoleh pengakuan resmi berupa Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai karya arsitektur dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum pada 23 Februari 2026.
Namun bagi Anshori, pengakuan itu bukanlah milik pribadi semata. Ia justru ingin menyerahkan HKI tersebut untuk Pemerintah Provinsi Lampung, agar Menara Siger tetap utuh menjadi milik pemerintah dan seluruh rakyat Lampung.
“Menara Siger ini bukan untuk saya. Ia adalah milik Lampung,” demikian harapan yang ingin ia sampaikan ketika mendapat kesempatan menyerahkan hak tersebut kepada pemerintah daerah.
Menara Siger sendiri terinspirasi dari siger, mahkota pengantin adat Lampung berwarna kuning keemasan yang sarat makna kebesaran dan kehormatan.
Dalam wujud arsitekturnya, bangunan monumental ini tidak sekadar menghadirkan identitas visual daerah, tetapi juga menyimpan simbol-simbol budaya: tujuh gunung leluhur serta sembilan ragam bahasa yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat Lampung.
Dengan demikian, Menara Siger berdiri bukan hanya sebagai bangunan megah di atas bukit, tetapi juga sebagai penanda ingatan kolektif—tentang budaya, sejarah, dan kebanggaan orang Lampung.
Sertifikat HKI itu pun menjadi simbol pengakuan negara atas sebuah karya arsitektur yang menyatukan nilai historis, filosofis, dan kultural yang kuat. “Semua ini demi Lampung yang maju,” ujar Anshori menutup perbincangan dengan Heloindonesia.com, Senin (16/3/2026).
Rasanya wajar dan bijak, jika kemudian, ada kolaborasi seimbang, fifty-fifty antara Pemprov Lampung dengan ASDP atas pengelolaan kawasan bukit gamping jadi destinasi wisata Lampung lengkap dengan masjidnya. (HBM)
