Helo Indonesia

Fathullah, Pencipta Lagu Tanah Lado Itu Kembali ke Karibaan-Nya pada Usia 85 Tahun

Herman Batin Mangku - Hiburan -> Seni Budaya
1 jam 6 menit lalu
    Bagikan  
MENINGGAL
HELO LAMPUNG

MENINGGAL - Anshori Djausal dan Fathullah (Helo)

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Rabu (22/7/2026), Budayawan Ir. H. Anshori Djausal, MT memberi kabar duka ke media online ini atas berpulangnya pencipta lagu "Tanah Lado" dan budayawan senior Fathullah bin Syahbudin dalam usia 78 tahun di RS Harapan Bunda, Rabu (22/6/2026), pukul 14.47 WIB.

Sebelum dimakamkan, almarhum disemayamkan lebih dulu ke rumah di Jl. Kampung Baru No. 16 RT10/02, Ciracas, Kelapa Dua Wetan, Jakarta Timur. "Innalillahi wa innailaihi rojiun, semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT," doa Anshori Djausal.

Menurut Anshori, Fathullah adalah penjaga nada dan jiwa budaya Lampung. Ia bukan sekadar pengarang lagu-lagu Lampung, tetapi juga seorang budayawan yang mengabdikan gagasan, rasa, dan kecintaannya kepada tanah Lampung melalui karya seni.

Di Lampung, katanya, siapa yang tak familier dengan lagu "Tanoh Lado", karya yang telah menjadi salah satu ikon budaya Lampung. Melalui lagu tersebut, ia melukiskan indahnya, beragam adat dan budaya, dan kayanya "Bumi Lampung"

Lagu tersebut mewakili kebanggaan masyarakat Lampung. "Tanah Lado" kerap terdengar dalam acara pemerintahan, adat, fasilitas-fasilitas publik daerah ini. Fathullah mewariskan lagu yang jadi penghubung masyarakat daerah ini dengan tanah kelahirannya.

Sebagai budayawan, kiprahnya memiliki arti penting dalam menjaga keberlangsungan identitas budaya Lampung. Sebab, kebudayaan tidak hanya hidup di rumah-rumah adat, dalam prosesi adat, atau pada pakaian tradisional. Kebudayaan juga hidup dalam bahasa yang dituturkan, lagu.

Fathullah adalah bagian dari generasi yang memahami bahwa kebudayaan harus dirawat dengan karya. Ia memilih musik dan lagu sebagai ruang pengabdian. Melalui karya-karyanya, ia ikut meneguhkan bahwa Lampung memiliki suara, karakter, dan kekayaan tradisi.

Di tengah arus zaman yang semakin cepat, karya-karya para seniman dan budayawan seperti Fathullah menjadi semacam penanda jalan. Ia mengingatkan modernitas tidak harus membuat manusia kehilangan akar, identitas, dan kebudayaan sendiri.

Sebab pada akhirnya, sebuah lagu bukan hanya bunyi yang selesai ketika musik berhenti. Lagu adalah ingatan. Ia bisa membawa seseorang kembali kepada kampung halaman, kepada masa lalu, kepada orang-orang yang dicintai, dan kepada tanah tempat ia pertama kali mengenal arti kehidupan.

Dan melalui lagu-lagu Lampung yang diciptakannya, Fathullah telah ikut menanamkan jejak dalam perjalanan kebudayaan Lampung—menjaga agar suara daerah ini tetap terdengar, agar identitas tidak hilang ditelan zaman, dan agar generasi mendatang masih dapat mengenali wajah Lampung melalui bahasa, nada, dan karya seni.

TANAH LADO

Jak Ranau Tigoh Di Teladas
Jak Palas Munggah Mit Bengkunat
Gunung Rimba Tiuh Pematang
Pulau-Pulau Di Laok Lepas

Bumiku Tanoh Lampung Kulawi
Panjak Wah-Wah Di Nusantara
Tani Rukun Sangun Jak Jebi

Tanoh Lampungku Tanoh Lado

Merega Buai Rik Bahasa
Nayah Sina Tanda Ram Kaya
Adat Rik Budaya
Suratni Kaganga

Jadi Warisan Jama-Jama

ARTINYA

Dari Ranau Tigoh hingga TeladasDari Palas naik hingga BengkunatGunung, rimba, desa, dan pematangPulau-pulau di laut lepas

Bumiku, Tanah Lampung yang kucintaiTerkenal harum di NusantaraPetani hidup rukun, sejak dahulu kala

Tanah Lampungku, Tanah Lada

Beragam suku dan bahasaBanyak tanda kekayaan kitaAdat dan budayaAksara Kaganga

Menjadi warisan kita bersama (HBM).