HELOINDONESIA.COM -Dalam kehidupan adat masyarakat Minangkabau tak lepas dari tradisi menanam tanaman sebagai aromaterapi dan obat-obatan di sekitar rumah.
Mereka memanfaatkan tanaman yang ditanam di sekeliling rumah tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. Baik untuk kebutuhan dapur dan lain sebagainya.
Hal ini diungkapkan Guru Besar dari Universitas Andalas Prof Amri Bachtiar seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Rabu (15/1/2025).
Menurutnya, tradisi menanam tanaman aromaterapi dan obat-obatan itu merupakan salah satu dari adat masyarakat Minangkabau dalam menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.
Baca juga: Peringatan Hari Desa di Kendal, Pemdes Wajib Alokasikan 20 Persen Dana Desa untuk Ketahanan Pangan
"Jadi di Minangkabau ini ada namanya tradisi Batangeh. Yang jadi pertanyaan, sejak kapan masyarakat melaksanakan tradisi pengobatan atau ritual batangeh ini?" papar Prof Amri.
Antropolog yang fokus pada sosiologi kesehatan itu menjelaskan kalau di negara-negara Skandinavian ada sauna. Sementara di Jepang itu ada namanya berendam di air yang mengandung belerang.
"Di Indonesia juga sama. Banyak etnis di Indonesia ini menggunakan tumbuh-tumbuhan untuk menjaga kesehatan. Salah satu aktivitas tradisi kesehatan atau wellness ini ada di Minangkabau," ungkap Prof Amri.
Namun demikian, sebelum membahas bagaimana tradisi wellnessnya, perlu juga diketahui bagaimana masyarakat adat Minangkabau berkembang.
Baca juga: Ketua Mahkamah Agung RI Hadiri Opening Of The Legal Year 2025 Malaysia
"Kita lihat sejarah masyarakat Minangkabau itu mulai berkembang yang sekarang di Provinsi Sumatera Barat dimulai dengan namanya Taratak," ujar Prof Amri.
Menurutnya, Taratak itu merupakan perkampungan kecil yang hanya dihuni oleh beberapa penduduk. Taratak biasanya berada di pinggang-pinggang bukit atau lembah.
Kemudian berkembang namanya menjadi dusun. Dusun berada setelah Taratak bertambah banyak dan sudah terbentuk masyarakat di sana.
Setelah dusun berkembang luas, dibentuklah Koto. Koto ini terbentuk dari beberapa dusun.
Baca juga: Kepincut Brad Pitt Palsu, Wanita Prancis Ceraikan Suami dan Tabungan Rp14,3 M Amblas
Diperkirakan ketika terbentuknya Koto ini masyarakat Minangkabau telah membuat perumahan, termasuk rumah-rumah gadang.
"Rumah gadang itu ada ketika sudah terbentuk pemukiman Koto. Mungkin kalau kita lihat di bahasa, Kota itu kelihatannya berasal dari Koto ini," ucap Prof Amri.
Dan menurutnya, di Sumatera Barat ini banyak sekali nama-nama Koto di Nagari. Ada Koto Panjang, Koto Katiak, Koto Gadang dan sebagainya.
Di situ sudah ada rumah gadang, setelqh sudah ada masyarakat dan gabungan dari Koto, barulah kemudian terbentuk namanya Nagari.
Baca juga: Dilantik, Pengurus Wilayah dan Daerah Paguyuban Bumi Mandiri
"Kita lihat posisi atau pun pengetahuan tentang Batangeh ini dimulai ketika sudah terbentuk pemukiman-pemukiman Koto ini. Jadi ketika sudah ada rumah gadang bagus bagus di sekeliling rumah itu sudah ada pola-pola tanaman pekarangan berbagai jenis tanaman, berbagai jenis tumbuhan dengan berbagai kegunaan," urai Prof Amri.
Di bagian rumah gadang, ada namanya anjuang. Letaknya di paling ujung dan bagian rumahnya itu lebih tinggi dari bagian yang lainnya.
"Nah di sekeliling rumah gadang, baik itu di bagian depan, belakang, samping dan di sebagainya itu ditanam berbagai tanaman. Terutama tanaman-tanaman yang mengeluarkan aroma dan bermanfaat sebagai obat," ungkap Prof Amri.
Berikut beberapa tanaman yang ditanam di sekitar rumah gadang:
Baca juga: Amankan Sawit Curian, Asisten Kebun PT Prima Alumga Ditusuk Pelaku
Pertama adalah bunga Culan yang berwarna kuning dan mengeluarkan bau harum. Bunga Culan ini sering diletakkan di rambut. Biasanya dimanfaatkan sebagai sanggul.
Bunga Culan ini ditanam di anjuang paling ujung. Ada tempat-tempat tertentu untuk menanam tumbuh-tumbuhan ini.
Kedua, tanaman Inai, Piladang Hitam dan Sidingin. Tanaman-tanaman ini umumnya itu ditanam di dekat tangga.
Namun ketiga tanaman ini tidak mengeluarkan aroma harum. Umumnya ini digunakan untuk obat-obatan.
Baca juga: Gandeng Mendagri, Mendes PDT: Kolaborasi Mempercepat Kemajuan Pembangunan Desa
"Sehingga ketika ada yang sakit dan sebagainya mereka tidak terlampau jauh untuk mencari bahan-bahan yang dapat digunakan untuk obat," papar Prof Amri.
Dikatakan Prof Amri, tanaman Inai, Piladang Hitam dan Sidingin ini dimanfaatkan untuk menurunkan panas dan demam. Biasanya Sidingin ditempelkan ke kepala.
Ketiga, bunga melati. Sama seperti bunga culan yang diletakkan di Anjuang atau paling ujung, maka bunga melati ditanam di bawah jendela.
Dengan demikian aroma melati itu pada sore atau pagi hari ini akan masuk ke dalam rumah sehingga akan harumnya bisa menyegarkan bagi penghuninya.
Baca juga: Camat Padangcermin Ditegur Warganya, Pulang Kantor Malam Berdua Janda
Keempat, bunga Cempaka. Kalau nama Minangkabau bunga Cimpago Langgo dan Dalimo Angso .
Bunga Cempaka itu ditanam di depan anjuang. Kalau pohon buah delima di belakang anjuang. Pohon delima ini selain sebagai obat juga buah-buahan.
Kelima, bunga bango atau Kenanga. Biasanya ditanam di sekitar rumah.
Bunga-bungaan ini bermanfaat dan menyegarkan sebagai aromaterapi.
Keenam, bunga rayo atau kembang sepatu dan pandan. Kedua tanaman itu ditanam di jalan ke tapian.
Baca juga: 10 Parpol di Rembang Sampaikan LPJ Bantuan Keuangan ke BPK dengan Tepat Waktu
"Tapian itu sumur. Kalau kita sumur.
Tapi biasanya di rumah gadang ini beberapa puluh meter ada sumur dan tempat mandi," tambah Prof Amri.
Jadi di sepanjang jalan itu ditanam berbagai tanaman. Termasuk bunga rayo atau kembang sepatu dan pandan.
"Kalau berbunga bisa buat cendol, kue dan sebagainya. Pulang dari sumur dari tapian itu sumur tempat mandi nah maka bisa langsung di ambil tanamannya," kata Prof Amri.
Ketujuh, tanaman rempah. Beberapa tanaman di situ berupa serai dapur, salam belimbing, mangkokan (Tapak Leman).
Baca juga: Gandeng Mendagri, Mendes PDT: Kolaborasi Mempercepat Kemajuan Pembangunan Desa
"Kalau kita menggulai kalau untuk tempe nah itu wajib pakai tapak leman. Daun salam juga begitu," tandas Prof Amri.