OKI, HELOINDONESIA.COM — Bangunan yang digadang-gadang tercanggih di Sumatera dengan teknologi Artificial Intelegence (AL) itu berdiri tanpa kehidupan. Rumput liar menutup halaman, pintu tertutup rapat, dan tak satu pun penanda aktivitas. Inilah kondisi terkini Museum Bende Seguguk di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Museum Bende Seguguk mulai dibangun pada Tahun Anggaran 2023 oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten OKI dengan nilai proyek Rp1.977.500.000. Lokasinya berada di lahan eks Rumah Sakit Lama Kayuagung, Kelurahan Sidakersa, Kecamatan Kayuagung. Proyek ini disebut-sebut sebagai upaya pelestarian sejarah dan budaya lokal.
Namun, sejak awal, proyek tersebut meninggalkan banyak pertanyaan. Tak ada informasi terbuka mengenai kajian kebutuhan, konsep museologi, rencana pengelolaan, hingga target waktu operasional. Yang terlihat hanya pembangunan fisik gedung yang kini selalu tertutup pagarnya.
Pada Tahun Anggaran 2024, proyek ini kembali disuntik dana melalui Bantuan Gubernur Sumatera Selatan. Meski mendapat tambahan anggaran, museum tempat menyimpan benda bersejarah kabupaten setempat tetap belum dapat difungsikan.
Hingga akhir 2024, bangunan belum rampung secara operasional dan tidak dibuka untuk publik. Memasuki Tahun Anggaran 2025, alokasi anggaran untuk proyek Museum Bende Seguguk dihentikan.
Sejak itu, pembangunan terhenti total. Tak ada aktivitas lanjutan, tak ada perawatan memadai, dan tak ada penjelasan resmi kepada publik mengenai kelanjutan proyek tersebut.
Pantauan di lapangan menunjukkan bangunan museum dibiarkan tanpa pengelolaan. Area sekitar dipenuhi semak belukar, papan informasi proyek tak lagi terpasang, dan tidak tampak upaya pemeliharaan. Bangunan yang dibiayai uang rakyat itu kini tampak seperti aset terlantar.
Seorang warga OKI yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebut proyek ini sebagai contoh buruk perencanaan pembangunan daerah. Menurutnya, museum tersebut dibangun tanpa urgensi yang jelas, di tengah kondisi keuangan daerah yang sedang tertekan.
“Daerah sedang defisit, utang belum selesai, tapi anggaran hampir Rp2 miliar bisa keluar untuk museum yang sekarang mangkrak,” ujarnya.
Ia mempertanyakan dasar perencanaan proyek tersebut. Menurutnya, hingga kini tidak ada penjelasan ke mana arah pemanfaatan museum, siapa yang akan mengelola, serta bagaimana keberlanjutan pembiayaan operasionalnya.
“Kalau perencanaannya matang, tidak mungkin berhenti di tengah jalan. Ini terlihat seperti proyek fisik semata, bukan pembangunan yang berorientasi manfaat,” katanya.
Mandeknya Museum Bende Seguguk memunculkan dugaan lemahnya perencanaan dan pengawasan anggaran. Uang negara telah digelontorkan, tetapi hasilnya belum bisa dirasakan masyarakat. Tidak ada kontribusi terhadap pendidikan, kebudayaan, maupun sektor pariwisata daerah.
“Uangnya sudah keluar, bangunannya ada, tapi manfaatnya nol. Ini yang harus dijelaskan ke publik,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten OKI mengenai alasan terhentinya anggaran pada 2025, capaian pembangunan yang telah direalisasikan, maupun rencana penyelamatan aset tersebut.
Kasus Museum Bende Seguguk menambah daftar proyek daerah yang menyisakan bangunan, namun minim akuntabilitas. Di tengah keterbatasan fiskal, publik kini bertanya: apakah proyek ini lahir dari perencanaan yang serius, atau sekadar meninggalkan jejak anggaran tanpa pertanggungjawaban yang jelas?
MESEUM CANGGIH
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata OKI Ahmadin Ilyas awal tahun yang dikutip dari Detik Sumsel mengatakan, pembangunan museum Bende Seguguk ada beberapa tahapan lagi yang harus dilalui sebelum benar-benar digunakan dan dibuka untuk umum.
Proses berikutnya, pihaknya masih akan melakukan rancangan dan pembuatan interior baik itu di lantai satu ataupun lantai dua, yang rencananya jika memungkinkan di lantai dua sebagian akan dijadikan kantor Disbudpar ataupun untuk staf Upt Museum.
Selain itu, pada pengadaan mobiller sebelumnya juga harus melalui pembuatan rancangan denah oleh pihak konsultan (DED) rencananya museum ini juga akan berbasis visual digital AL (Artificial Intelegence) yang selain itu juga memamerkan benda-benda bersejarah.
"Jadi masih memerlukan beberapa tahap lagi, jika dana memungkinkan baik itu melalui APBD maupun Bangub bahkan Pusat. Insyaallah, dalam tahun 2025 dan 2026 ini bisa diselesaikan dan kemungkinan ditahun 2026 akhir atau 2027 sudah bisa di-launching," imbuhnya.
Ia juga mengungkapkan, saat ini pihaknya masih menginventarisir barang-barang ataupun bentuk-bentuk kegiatan budaya yg akan ditampilkan nantinya di Museum AI (Artifical Intelegence) pertama di Sumatera.
"Nantinya juga akan diajukan terlebih dahulu Perda atau Perbub untuk pembentukan UPT Museum Bende Seguguk tersebut. Mohon do’a dan dukungannya kepada semua masyarakat OKI agar ini bisa cepat terwujud," tambahnya.
Ia pun berharap, dibawah kepemimpinan Bupati yang baru pasangan H Muchendi Mahzareki dan Supriyanto bisa mewujudkan dan melanjutkan secara tuntas yg telah dirintis oleh Bupati sebelumnya yakni H Iskandar SE dan Pj Bupati Ir Asmar Wijaya. (Iwan)