Menghidupkan Ruh TBRS: Ngesti Pandowo Jadi Wajah Baru Wisata Semarang

Minggu, 19 Juli 2026 19:00
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng dengan busana wayang orang saat memberikan tresna kepada keturunan pendiri WO Ngesti Pandowo

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Pemerintah Kota Semarang menyiapkan Wayang Orang Ngesti Pandowo sebagai ikon wisata budaya melalui pertunjukan berkala di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Komitmen tersebut ditegaskan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti saat menghadiri peringatan HUT ke-89 Wayang Orang Ngesti Pandowo, Sabtu malam 18 Juli 2026.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali TBRS sebagai pusat kegiatan seni sekaligus memperkuat identitas budaya Kota Semarang.

Pada peringatan HUT bertema "Lestari Budayaku, Bersama Kita Maju, Membangun Semarang Semakin Hebat", Agustina juga turut tampil dalam pagelaran Wanito Tangguh lakon Wahyu Purbo Sejati bersama istri Forkopimda.

Baca juga: Sukoharjo Spektakuler Run 2026: Di Balik UMKM Menguat, Ada Kisah Hangat Ahmad Luthfi Dorong Kursi Roda Sang Putra

Rangkaian kegiatan selama tiga hari turut diisi bursa sanggar seni, pentas seni, bazar UMKM, workshop tari, hingga pameran arsip, foto, dan video sebagai ruang kolaborasi pelaku seni dan masyarakat.

Menurut Agustina, setiap kota wisata harus memiliki identitas yang membedakannya dengan daerah lain. Karena itu, Wayang Orang Ngesti Pandowo yang telah berusia 89 tahun diproyeksikan menjadi atraksi budaya unggulan yang hadir secara rutin di Kota Semarang.

"Kalau melihat beberapa pusat pariwisata dunia, tentu harus ada sesuatu yang berbeda dari tiap destinasi. Kota Semarang punya wayang orang dan masyarakatnya gemar nonton wayang, maka sudah cocok kita akan membuat pertunjukan berkala,'' katanya.

Baca juga: Cegah Bullying Sejak Dini, Alumni Inspiratif Kampanyekan Gerakan Sayang Teman di MPLS SDN Petompon 02

Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemerintah Kota Semarang menyerahkan secara simbolis seperangkat busana wayang orang lengkap kepada Ngesti Pandowo yang diterima Joko Purnomo selaku Ketua Ngesti Pandowo untuk digunakan dalam pementasan.

Tanda Tresna

Bersamaan dengan itu, lima keluarga pendiri Ngesti Pandowo, yakni keturunan Ki Sastrosabdo, Ki Narto Sabdo, Ki Darso Sabdo, Ki Kusni, dan Ki Sastro Soedirdjo, menerima tanda tresna dari Wali Kota.

Agustina menjelaskan, bantuan tersebut tidak sekadar mengganti kostum lama, tetapi juga menjadi bagian dari upaya merawat sejarah Ngesti Pandowo.

"Baju ini simbolnya hanya satu, tapi kami membuatkan banyak untuk menggantikan baju wasiat yang selama ini dipakai teman-teman pemain wayang orang. Baju yang sangat tua nantinya masuk ke museum supaya nanti menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya,'' terangnya.

Baca juga: Wali Kota Bandarlampung Resmi Buka Festival Kendaraan Hias dan Pawai Budaya Begawi Bandar Lampung 2026

Selain bantuan kostum, Pemkot Semarang telah merenovasi gedung pertunjukan di TBRS, memperbarui peralatan pendukung, serta menyiapkan dukungan berkelanjutan bagi para seniman, mulai dari pemeriksaan kesehatan hingga perhatian terhadap pendidikan anak-anak mereka.

Menurut Agustina, pengembangan Ngesti Pandowo merupakan bagian dari strategi besar menjadikan TBRS sebagai rumah bagi berbagai kegiatan seni, mulai dari pertunjukan wayang orang, macapat, geguritan, hingga agenda budaya lain yang akan masuk dalam kalender event Kota Semarang.

Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi penggerak ekosistem seni dan pariwisata kota. (Aji)

Berita Terkini