Helo Indonesia

Tak Hanya di Bumi, Pertanian Seluler Berpotensi jadi Sumber Makanan Astronot Saat Menjelajah Luar Angkasa

Syahroni - Teknologi
Senin, 12 Juni 2023 19:57
    Bagikan  
Astronot.
Doc/ NASA

Astronot. - Pertanian selular dapat membantu astronot dalam memenuhi kebutuhan makannnya di luat angkasa.

HELOINDONESIA.COM - Pertanian seluler memiliki potensi untuk merevolusi, tidak hanya cara kita menghasilkan makanan di Bumi, tetapi juga cara menghasilkan makanan bagi astronot dan membantu dalam penjelajahan planet lain, seperti Mars. Pertanian seluler sendiri merupakan bidang pertanian yang berfokus pada produksi pertanian dari kultur sel. Pertanian ini memanfaatkan kombinasi bioteknologi, rekayasa jaringan, biologi molekuler, dan biologi sintetik untuk membuat dan merancang metode baru dalam memproduksi protein, lemak, dan jaringan yang biasanya berasal dari pertanian tradisional.

Karena populasi global terus bertambah dan permintaan akan sumber makanan berkelanjutan meningkat, pertanian seluler menawarkan solusi yang menjanjikan untuk memenuhi tantangan ini. Selain itu, kemampuan untuk menghasilkan makanan di luar angkasa dapat secara signifikan mengurangi biaya dan kerumitan misi luar angkasa berdurasi panjang dan memungkinkan pembentukan pemukiman manusia permanen di planet lain.

Salah satu tantangan utama perjalanan luar angkasa dan penjelajahan di antariksa adalah menyediakan pasokan makanan yang berkelanjutan dan bergizi bagi para astronot. Saat ini, astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) mengandalkan makanan kemasan yang dikirim dari Bumi, yang mahal dan padat sumber daya. Selain itu, makanan ini memiliki umur simpan yang terbatas dan mungkin tidak menyediakan semua nutrisi yang diperlukan untuk misi jangka panjang, seperti perjalanan ke Mars.

Baca juga: Dua Astronot Saudi Bersiap Lepas Landas untuk Perjalanan Bersejarah Misi Luar Angkasa

Pertanian seluler menawarkan solusi potensial untuk masalah ini dengan memungkinkan astronot menghasilkan makanan segar di luar angkasa, mengurangi kebutuhan misi pasokan ulang, dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan penjelajah luar angkasa secara keseluruhan.

Beberapa perusahaan dan lembaga penelitian sedang mengembangkan teknologi pertanian seluler untuk aplikasi luar angkasa. Misalnya, Aleph Farms, sebuah perusahaan rintisan Israel, berhasil memproduksi daging laboratorium pertama di luar angkasa pada tahun 2019. Perusahaan menggunakan bioprinter 3D untuk membuat sepotong kecil jaringan otot dari sel sapi di atas ISS, menunjukkan kelayakan produksi daging. dalam kondisi mikrogravitasi. Pencapaian ini menandai tonggak penting dalam pengembangan sumber makanan berkelanjutan untuk misi luar angkasa dan koloni Mars di masa depan.

Selain daging, pertanian seluler juga dapat digunakan untuk menghasilkan produk hewani lainnya, seperti susu dan telur, serta makanan nabati. Para peneliti di Penn State University sedang mengembangkan metode untuk menghasilkan cyanobacteria yang bergizi dan dapat dimakan, juga dikenal sebagai ganggang biru-hijau, hanya menggunakan air, karbon dioksida, dan sinar matahari. Proses ini, yang disebut "biomanufacturing", dapat menyediakan sumber protein berkelanjutan dan nutrisi penting lainnya bagi astronot dalam misi jangka panjang atau tinggal di habitat luar angkasa.

Keuntungan lain dari pertanian seluler di luar angkasa adalah potensinya untuk mengurangi dampak lingkungan dari produksi pangan. Peternakan tradisional merupakan kontributor utama emisi gas rumah kaca, penggundulan hutan, dan polusi air.

Dengan memproduksi produk hewani tanpa memerlukan pertanian skala besar, pertanian seluler dapat secara signifikan mengurangi jejak lingkungan dari produksi makanan. Ini sangat penting untuk kolonisasi Mars, karena sumber daya planet yang terbatas dan lingkungan yang keras membuat pertanian tradisional menjadi suatu hal yang sulit dilakukan.

Baca juga: Amerika Tercatat Sebagai Negara yang Paling Sering Didatangi Mahluk Luar Angkasa, Ini Dia Alasannya...

Selain itu, teknologi pertanian seluler juga dapat berkontribusi pada pengembangan sistem pendukung kehidupan untuk habitat luar angkasa. Misalnya, produk limbah yang dihasilkan oleh proses pertanian seluler, seperti karbon dioksida dan air, dapat didaur ulang dan digunakan untuk mendukung pertumbuhan tanaman dalam sistem hidroponik atau aeroponik. Pendekatan loop tertutup ini akan meminimalkan limbah dan memaksimalkan efisiensi sumber daya, yang sangat penting untuk keberlanjutan permukiman ekstraterestrial.

Kesimpulannya, pertanian seluler sangat menjanjikan untuk mengatasi tantangan memberi makan astronot dan penjelajahan Mars. Dengan memungkinkan produksi makanan segar dan bergizi di luar angkasa, teknologi inovatif ini dapat mengurangi ketergantungan pada misi pasokan berbasis Bumi, meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan penjelajah luar angkasa, dan membuka jalan bagi pembentukan pemukiman manusia permanen di planet lain.

Selain itu, manfaat lingkungan dari pertanian seluler menjadikannya solusi yang menarik untuk produksi pangan berkelanjutan di Bumi dan sekitarnya. Karena penelitian dan pengembangan di bidang ini terus maju, impian koloni Mars yang mandiri akan segera menjadi kenyataan.