Fasciorica UGM Pakai Biji Pepaya dan Carica Perangi Cacing Hati Ternak Sapi

Kamis, 24 September 2026 20:39
Tim Fasciorica, Tim PKM-RE UGM Yogyakarta. | dok. UGM/Muzzamil/Helo Indonesia

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Mahasiswa tergabung Tim Fasciorica, Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogya 2026 mengembangkan penelitian pemanfaatan ekstrak biji pepaya (Carica papaya L.) dan biji carica (Vasconcellea pubescens) sebagai kandidat agen ovisidal atau agen pembasmi penghambat perkembangan telur Fasciola sp. penyebab (vektor) infeksi cacing hati hewan ternak sapi.

Tim beranggotakan lima mahasiswi angkatan 2024: Nabila Hanifa Putri (Fakultas Kedokteran Hewan), Annisa Azka Nadine Wiseman (Fakultas Biologi), Aulia Tamara Jannati (Prodi Gizi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan), Fitriana Tsabita Utami (Fakultas Kimia), dan Putri Lala Kirana (D4 Pengembangan Produk Agroindustri Sekolah Vokasi).

Melalui inovasi penemuan herbal cacing hati ini, mereka menawarkan jelajah insight terbarukan pemanfaatan bahan alam limbah pengolahan pangan jadi alternatif pandu kendali parasit pada hewan ternak.

Dalam pengantar penelitian disebutkan, infeksi cacing hati atau fasciolosis tidak hanya mengganggu kesehatan sapi, tetapi juga dapat menurunkan produktivitas ternak dan merugikan peternak —pun konsumen akhir daging sapi.

Cacing Fasciola sp. biang organ hati sapi yang terinfeksi harus diafkir saat pemeriksaan pascapemotongan, sisi lain jua merupakan parasit zoonotik yang dapat menginfeksi manusia melalui konsumsi pangan atau paparan lingkungan terkontaminasi metaserkaria, bentuk infektif parasit ini.

Pengingat, Fasciola sp. berbeda dengan Fasciola hepatica, tak sepenuhnya sama tapi saling terkait sebab Fasciola hepatica ialah salah satu spesies spesifik kelompok genus Fasciola sp. (species tunggal yang tak disebut namanya).

Perbedaan utamanya, Fasciola hepatica ini nama spesies spesifik dari cacing hati (disebut cacing hati domba atau umum). Fasciola sp. merujuk marga (genus) Fasciola atau dipakai saat peneliti temukan cacing genus Fasciola tapi belum menemukenali spesies pastinya (Fasciola hepatica, Fasciola gigantica, atau lainnya).

Genus Fasciola punya beberapa spesies utama dan yang paling top ya Fasciola hepatica dan Fasciola gigantica ini. Jadi, setiap Fasciola hepatica adalah Fasciola sp., tetapi tidak semua Fasciola sp. otomatis Fasciola hepatica.

Adapun metaserkaria ialah stadium terakhir larva infektif dari cacing pipih parasit jenis trematoda yang dibungkus dinding kista. Definisi lain, metaserkaria ini stadium larva kista dari trematoda digenea yang berkembang usai serkaria menempeli substrat yang sesuai atau menembus inang perantara kedua lalu berubah menjadi metaserkaria.

Sedang trematoda, cacing isap parasit pemilik dua alat isap (di ventral dan oral), tubuhnya dilapisi tegumen pelindung organisme ini dari lingkungan dengan menjalankan fungsi sekresi dan absorpsi.

Siklus hidup trematoda umumnya bermula dari telur —ada yang menetas langsung di lingkungan air, ada yang tertelan dan menetas dalam tubuh inang (biasanya moluska). Hasil tetasannya disebut mirasidium (larva bersilia yang dapat berenang bebas) lantas tumbuh berkembang dalam inang perantara jadi struktur menyerupai kantung (sporokista), atau tumbuh dan akhirnya pecah hasilkan larva kedua (redia); keduanya dapat hasilkan larva serkaria yang motil dan mampu berenang bebas. Serkaria itu lantas bisa menginfeksi inang vertebrata (inang perantara kedua).

Dan metaserkaria atau mesoserkaria—bergantung siklus hidup spesies trematoda itu—lalu akan menginfeksi inang vertebrata atau dikeluarkan lewat feses pun urine inang.

Jadi, metaserkaria berasal dari larva serkaria yang keluar dari inang perantara pertama (biasanya siput air tawar) lalu menempel pada substrat (seperti tanaman air, rumput) atau menembus inang perantara kedua (seperti ikan, kepiting) lalu berubah menjadi metaserkaria.

Saat mana, sifat infektif metaserkaria ini terlihat? Saat ia "santuy" dalam kondisi istirahat (dorman) dan siap menulari inang definitif (hewan ternak atau manusia) jika tertelan. Di dalam saluran pencernaan inang akhir, kista akan pecah dan larva berkembang menjadi cacing dewasa.

BERANGKAT DARI ALAM

Kulik motif terbesar riset impresif tim ini, secara garis besar linimasa sejarah telah banyak bukti penggunaan biji pepaya sebagai obat cacing (anthelmintik) tradisional pada hewan diterapkan warga dunia pelbagai sudut terutama zona tropis di mana ia hidup subur, sejak berabad silam.

Hanya saja bicara khasiat turun-temurun berkat kandungan enzim proteolitik didalamnya: papain dan senyawa karpain, cuma manjur atasi cacing usus atau saluran pencernaan (misal cacing gilig Ascaridia galli pada unggas, nematoda pada kambing atau sapi).

Sementara, cacing hati berstruktur tubuh dan siklus hidup jauh berbeda sebab menyerang organ hati dan kantung empedu. Sebab itu, ramuan tradisional pengusir cacing usus biasanya tiak mempan buat cacing hati.

Soal keterpilihan biji pepaya biji carica, Ketua Tim Fasciorica Nabila Hanifa Putri mengutarakan timnya memilihnya sebab dinilai masih kurang dimanfaatkan. "Padahal biji pepaya dan buah carica mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan sebagai agen ovisidal alami," tutur Nabila, dicuplik dari publikasi kampus, Rabu (16/9/2026) pekan lalu.

Diketahui, pepaya berasal dari Meksiko selatan dan utara Amerika Selatan, mula pertama ditemukan. Menyebar ke Indonesia berkat orang Spanyol dan Portugis yang bawa biji pepaya ke Asia Tenggara abad ke-16.

Hingga kini pepaya turut daratkan kontribusi prospektif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sektor hortikultura dan pendapatan langsung bagi petani, dengan volume produksi 12.813.072 kuintal setara 1,28 juta ton (2025), naik dari 12,07 juta kuintal (2024) dan sentra penghasil terbesar Jawa Timur (2,8 juta kuintal), Jawa Tengah (1,5 juta kuintal), Sumatra Utara (1,3 juta kuintal).

Indonesia jua lima besar produsen pepaya terbesar di dunia bareng India, Brasil, Meksiko, Nigeria; jadikannya salah satu penopang utama ketahanan pangan buah tropis nasional.

Biji carica, bagian dari buah carica (pepaya gunung) yang mirip biji markisa, diselimuti selaput putih, memiliki rasa asam manis segar, acap diproses bersama daging buahnya untuk hasilkan sirup dan manisan carica khas Wonosobo atau Dataran Tinggi Dieng, potensial dibudidaya untuk hasilkan karakter khas di dataran tinggi yang dingin.

Secara statistik, dalam pencatatan data pertanian nasional, komoditas buah carica masih dikategorikan sebagai dan digabung dalam kelompok produksi tanaman buah pepaya. Itu sebab, secara resmi Badan Pusat Statistik (BPS) tidak mencatat data volume produksi biji carica secara terpisah.

Namun, berdasar karakteristik industri pengolahan manisan khas Dataran Tinggi Dieng Wonosobo Jawa Tengah, volume produksi buah carica di sentra utama (Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, dan Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara), umumnya berkisar 4.000-11.000 ton per tahun tergantung jumlah pohon produktif dan cuaca.

Estimasi kapasitas produksi ini didukung pemulihan sektor pariwisata Dieng jelang akhir 2025 yang buat UMKM dan industri rumah tangga pengolahan carica kembali stabil. Adapun industri menengah ke atas rerata berkapasitas produksi di atas 1.000-1.200 cup per hari.

Porsi biji carica dalam proses produksi? Ambil misal dalam rantai produksi manisan carica, buah dipisah menjadi dua bagian utama. Yaitu, daging buah serba dipotong menjadi isian utama manisan, biji dan plasenta buah (bagian biji yang diselimuti lendir dan justru inilah komponen penting karena direbus diperas diambil sarinya dan sari biji inilah yang menjadi kuah sirup alami manis-asam khas manisan carica yang membedakannya dari manisan biasa).

Sisanya, limbah biji keras (sisa biji hitam yang mengeras) usai diperas umumnya berakhir jadi limbah organik padat, atau mulai dikembangkan skala laboratorium atau penelitian sebagai bahan baku biokoagulan dan kosmetik. Misal untuk kegunaan penelitian akademik atau rencana bisnis, estimasi volume biji bisa ditentukan mandiri pakai rumus persentase rendemen (rerata bobot biji carica berkisar 15–25% dari total bobot utuh satu buah).

Sebagai informasi, harga keekonomian produk manisan carica khas Dieng Wonosobo bervariasi Rp15-120 ribu tergantung ukuran kemasan, jumlah isi per dus.

Beranjak dari latar potensi ketersediaan bahan baku itu, tim berdosen pembimbing Dr. drh. Vika Ichsania Ninditya dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM meneliti ini untuk mengeksplor potensi bahan alam yang selama ini ternyata belum banyak dimanfaatkan dalam pengendalian fasciolosis. Padahal, seperti Nabila tuturkan di atas.

Pemanfaatan biji pepaya dan biji carica lebih spesifik juga lantaran ketersediaannya sebagai sisa proses pengolahan buah, dinilai cukup melimpah. “Kami ingin melihat apakah bahan yang selama ini dianggap sebagai sisa pengolahan buah dapat memiliki nilai tambah dalam pengendalian parasit,” tukas Nabila.

Namanya meneliti, dalam prosesnya, menilik tingginya kasus angka kejadian (prevalensi) di lapangan muaranya turut pula mengerucutkan kesimpulan tim yang melihat pengendalian fasciolosis ini terhitung urgen.

Misal merujuk penelitian sebelumnya di Kabupaten Sleman, DIY, prevalensi fasciolosis pada sapi setempat tercatat 47,2%. Sementara pengendalian parasit pada ternak masih banyak bergantung penggunaan obat antiparasit sintetis.

“Penggunaan obat itu menghadapi sejumlah tantangan, termasuk potensi resistensi dan perbedaan efektivitas terhadap stadium parasit,” imbuh ia menandaskan.

Sekadar ilustrasi peneguhan riset tim, kendati usai ditelisik tak ada satu angka prevalensi nasional tunggal yang dirilis pemerintah khusus Agustus 2026. Namun berdasar ragam studi literatur, riset lapangan dan pemantauan berkala di Indonesia hingga 2026, prevalensi fasciolosis pada sapi di Indonesia bervariasi antarwilayah: antara 4-90%.

Prevalensi berbasis wilayah dan riset terbaru 2025–2026, berdasar pemeriksaan post-mortem hewan kurban/RPH, studi kasus post-mortem dipublikasikan 2026 menunjukkan prevalensi cukup tinggi pada organ hati sapi: 66,6%.

Data Rumah Potong Hewan Payakumbuh, Sumatra Barat, misal mencatat prevalensi 33,3% pada sampel feses. Di Jawa Timur riset mencatat prevalensi fascioliasis sapi di Jember 56,6%. Sebaliknya di peternakan sapi perah rakyat dengan pengambilan sampel feses di Pacitan (2026), jauh lebih rendah prevalensinya: 4% setara 2 dari 50 ekor sapi.

Di daerah lain? Secara historis, wilayah basah (bercurah hujan tinggi) macam Jawa Barat dan DIY memiliki riwayat prevalensi tinggi: 40-90%. Wilayah beriklim lebih kering misal Nusa Tenggara Timur mencatat prevalensi berbasis surveilans feses jauh lebih kecil: 1,69%.

Dari sekian penentu prevalensi, sedikitnya 3 faktor utama: sistem pemeliharaan (risiko sapi yang dilepasliarkan di area penggembalaan basah atau dekat persawahan jauh lebih tinggi dibanding yang dikandangkan intensif), faktor musim atau kondisi iklim setempat (kasus infeksi melonjak pesat di musim hujan/bulan basah ulah populasi siput air tawar —inang perantaranya berkembang biak cepat), dan metode deteksi (pemeriksaan feses atau antemortem lebih rendah persentasenya dibanding pemeriksaan langsung pada organ hati saat pemotongan atau post-mortem).

Selanjutnya pada tahap pemrosesan, Tim FASCIORICA yang memperoleh bahan dasar biji pepaya dari sisa pengolahan buah di Sleman dan biji carica dari sentra pengolahan buah carica di Wonosobo Jawa Tengah, mengolahnya menjadi ekstrak untuk selanjutnya diuji terhadap telur Fasciola sp.

Pengujian, tiga metode: menggunakan ekstrak biji pepaya, menggunakan ekstrak biji carica, menggunakan kombinasi keduanya dalam beberapa konsentrasi.

Setelah itu telur diinkubasi, diamati via mikroskop melihat respons umpan baliknya. Perkembangan telur hasil tiga perlakuan berbeda lantas dibandingkan untuk mengetahui kemampuan ekstrak menghambat perkembangan dan menurunkan viabilitas telur (tingkat kemampuan hidup telur untuk berkembang, bertahan hidup, dan menetas normal).

Sesuai asal katanya: viability (kemampuan hidup), viabilitas pada telur (hewan, unggas, parasit/serangga) ini mengukur seberapa besar persentase telur yang masih hidup, sehat, dan berpotensi menetas atau melanjutkan siklus hidupnya.

Viabilitas telur dipengaruhil oleh suhu penyimpanan (terlalu panas, terlalu dingin dapat menurunkan atau mematikan viabilitas), kelembaban (terlalu kering atau terlalu basah memengaruhi kondisi fisik dan embrio dalam telur), lama penyimpanan (makin lama disimpan sebelum ditetaskan atau diproses, biasanya viabilitasnya semakin menurun), kualitas induk atau fertilisasi (berlaku: yang tak dibuahi atau infertil tak memiliki viabilitas), paparan zat kimia atau alami (pemberian zat tertentu misal ekstrak bahan alami atau asam dapat menurunkan viabilitas telur hama atau parasit).

Hasil penelitiannya? "Hasilnya menunjukkan perlakuan ekstrak menyebabkan perubahan morfologi telur berupa perubahan bentuk, kerusakan atau terbukanya dinding telur, serta keluarnya isi telur," ungkap Nabila.

"Setelah 48 jam, mortalitas telur meningkat, terutama pada perlakuan kombinasi ekstrak biji pepaya dan carica yang mencapai sekitar 50–65 persen," lanjut ia, hasil analisis juga menunjukkan adanya perbedaan signifikan antarkelompok perlakuan (p<0,05).

"Pada pengamatan 24 jam, ekstrak carica menunjukkan efek ovisidal yang lebih cepat dibandingkan ekstrak pepaya, sedangkan kombinasi kedua ekstrak menunjukkan potensi aktivitas ovisidal terhadap telur Fasciola gigantica."

Efek ovisidal dimaksud Nabila: kemampuan suatu zat atau bahan (misal ekstrak alami, pestisida, tawas) untuk membunuh, merusak, menghambat penetasan telur hama dan vektor penyakit ini, lazim bekerja dengan tiga cara pula.

Yakni, dengan masuk ke dalam telur dan merusak embrio di dalamnya (penetrasi internal); mengganggu metabolisme dalam telur tanpa merubah bentuk luar (efek fisiologis); dan merusak atau melarutkan korion (cangkang luar) telur (efek litik).

DIKEMBANGKAN SERIUS, BISA SEPERTI ATSIRI

Contoh lain penerapan pemanfaatan bahan alami selain biji pepaya dan biji carica menjadi agen ovisidal sang empunya efek ovisidal ini sebelumnya, misal penggunaan minyak atsiri untuk menekan populasi telur Aedes aegypti, jenis nyamuk kosmopolitan si pembawa virus demam berdarah dengue (DBD), demam kuning (yellow fever), Bancroft's filariasis, chikungunya, demam Zika disebabkan virus Zika.

Lantaran penyebaran luasnya nyaris seluruh zona tropis dunia, di mana sebagai vektor dengue, Aedes aegypti merupakan primary vector dan bersama Aedes albopictus ciptakan siklus persebaran dengue di desa dan kota. Pun mengingat keganasan demam berdarah disebabkannya, turut meroketkan produk minyak atsiri yang terus beroleh pasar baru dan seperti sulit mati gaya.

Geliat ekonomi industrinya di Tanah Air didukung faktor keberlimpahan bahan baku, dengan Van Aroma berbasis di Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, dirian 2006 jadi korporat pabrikan produsen sekaligus eksportir minyak atsiri terbesar di Indonesia dengan produk utama minyak nilam (patchouli oil), minyak pala, minyak cengkeh, minyak sereh wangi, akar wangi, bunga kenanga, isolat alami, bahan kimia aromatik, ekstrak tumbuhan jahe, kopi, kencur.

Disusul beberapa lain yang mendominasi pasar ekspor dan penyulingan minyak atsiri nasional terdaftar Dewan Atsiri Indonesia seperti Delta Atsiri Prima (Klaten) berpabrik pengolah produk berbasis minyak atsiri tersertifikat CPOTB.

Lalu ada Esential Atsiri Indonesia (Bandung, Jawa Barat) di perdagangan dan pemrosesan turunan atsiri; Kreasi Indah Cemerlang (Pasuruan, Jawa Timur) fokus perkebunan dan penyulingan minyak nilam; Rumah Atsiri Indonesia (Karanganyar, Jawa Tengah) mulanya pabrik minyak atsiri terbesar Asia Tenggara era Soekarno kini dikembangkan jadi pusat eduwisata, riset, dan produksi aromaterapi.

Data Kementerian Pertanian: Aceh, Bengkulu, Sumatra Barat, Lampung notabene penghasil terbesar minyak nilam yang mendominasi 54 persen total ekspor atsiri Indonesia.

Di Lampung, pabrikan atsiri umumnya didominasi Industri Kecil dan Menengah (IKM), pengepul besar, penyulingan tradisional (bukan pabrik korporasi manufaktur raksasa). Mereka menyuling komoditas unggulan lokal (cengkeh, lada, lemon, nilam, pala) lalu diserap eksportir besar di Jawa atau diolah jadi produk turunan (parfum lokal komersial). Industrialis lokalnya seperti IKM Sebatin di Kalianda dan kelompok penyulingan tradisional di Pesawaran.

Bicara valuasi bicara cuan, meski hingga kini belum ada rilis angka pasti akumulasi valuasi ekspor dan keuntungan (laba) bersih produk minyak atsiri Indonesia khusus untuk periode berjalan per Agustus 2026. Pun terkait data laba di mana lembaga pemerintah seperti Kementerian Perindustrian pun BPS secara umum hanya merilis data valuasi ekspor bruto (fob value) dan volume barang, bukan margin keuntungan bersih industri karena komponen biaya produksi dan operasional tingkat perusahaan swasta sangat bervariasi.

Tetapi, misal data komprehensif yang dirilis Kementerian Perindustrian akhir Agustus lewat menunjukkan, performa tahunan kumulatif (data final tahun penuh terbaru) total valuasi ekspor minyak atsiri RI mencapai USD 348,7 juta setara Rp6,2 triliun (catatkan lonjakan pertumbuhan 34,4%) dibanding periode 2025 sebesar USD 259,5 juta.

Komoditas andalan minyak nilam menyumbang porsi terbesar dengan capaian valuasi ekspor mencapai USD 173,4 juta (tumbuh 22,7%) sekaligus memosisikan Indonesia eksportir minyak atsiri terbesar kelima di dunia.

Akan halnya potret peluang raya pengembangan dari hasil penelitian Tim FASCIORICA UGM soal inovasi penggunaan kombinasi spesifik ekstrak biji pepaya dan biji carica untuk mengatasi cacing hati pada sapi ini hingga tapak penerapan pemanfaatan massalnya oleh dunia industri, cukup cerah.

Mengingat sampai kini belum ada perusahaan obat hewan komersial di Indonesia yang tercatat memproduksi massal atau menjual luas produk obat cacing hati hewan ternak dengan kombinasi spesifik ekstrak biji pepaya dan biji carica.

Namun dengan jamaknya ditemui praktik baik pemanfaatan biji pepaya secara tunggal sebagai obat cacing ternak skala lokal (misal sebagai jamuan etnoveteriner) oleh kelompok tani dan peternak lokal sentra peternakan sapi dan kambing seperti Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, di mana peternakan rakyat olah mandiri biji pepaya kering menjadi bubuk atau infusa untuk campuran pakan ternak sebagai obat cacing tradisional.

Didukung pula upaya peningkatan kapasitas SDM petani peternak melalui program pelatihan teknis produksi sediaan herbal berbasis biji pepaya untuk hewan ternak maupun kesehatan manusia, seperti ditaja Universitas Lampung (Unila), dan Universitas Majalengka, Jawa Barat kepada Kelompok Usaha Masyarakat (KUM) setempat sebagai eksekusi Tri Darma Perguruan Tinggi.

Memang, hasil penelitian Tim FASCIORICA ini notabene masih taraf riset ilmiah dan pengembangan akademis. Tahapannya masih membutuhkan serangkaian uji klinis lanjutan pada hewan hidup (uji in vivo) sebelum kelak dapat dikomersialisasikan ke pasar luas bahkan ekspor.

Namun dengan mengutipkan kabar gembira hasil penelitian yang menunjukkan kombinasi kedua ekstrak biji sebagai agen ovisidal alami yang efektif merusak dinding kista dan mematikan hingga 50–65 persen telur cacing hati dalam 48 jam. Yang dinanti selanjutnya bak bunyi pantun: "ikan kakap ikan gabus, makin lengkap makin bagus".

Pun dengan digelendoti harapan besar Tim FASCIORICA bahwa lewat penelitian ini, pemanfaatan bahan alam dari limbah pengolahan buah diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif yang menerus dikembangkan dalam pengendalian parasit pada sektor peternakan.

“Penelitian ini tidak hanya mengeksplorasi alternatif pengendalian parasit, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan hasil samping pengolahan buah menjadi bahan bernilai tambah,” asa Nabila mewakili empat rekan, mengunci keterangannyi.

Ini baru tonggak awal. Nabila, Annisa, Aulia, Fitriana, dan Putri, semangat! (Muzzamil)

Berita Terkini