Pascaerupsi Anak Krakatau, Lahir Pulau Baru 30,3 Ha, Cucu Krakatau?

Kamis, 24 September 2026 07:22
Pulau baru belum ada nama di Selat Sunda HELO LAMPUNG

LAMPUNG SELATAN, HELOINDONESIA.COM -- Lahir pulau baru pascaerupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, tepatnya di antara GAK dan Pulau Sertung, Kabupaten Lampung Selatan.

Daratan tersebut terbentuk secara bertahap dari material vulkanik yang dimuntahkan GAK selama erupsi beberapa waktu terakhir. Material berupa lava, batuan, pasir dan abu vulkanik terakumulasi membentuk pulau.

Kepala Pos Pemantauan GAK Suwarno, membenarkan keberadaan daratan baru tersebut pada Rabu (23/9/2026). "Ya, hasil dari letusan kemarin itu. Kurang lebih 30,3 hektare," ujar Suwarno

Daratan baru seluas 30,3 hektare itu pun belum memiliki nama. Ia masih seperti halaman kosong yang baru saja ditulis alam. Apakah kelak menjadi bagian permanen dari peta Selat Sunda, kembali terkikis laut, atau menjadi awal perubahan vulkanik berikutnya, waktu dan penelitian ilmiah yang akan menjawabnya.

Yang jelas, pascaerupsi kali ini GAK tidak hanya meninggalkan jejak abu dan batu. Ia kini meninggalkan daratan baru.

Aktivitas GAK meningkat sejak statusnya Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026. Saat ini, statusnya telah diturunkan menjadi Level II (Waspada) pada 21 September 2026 setelah penurunan aktivitas erupsi, kegempaan dan deformasi

Menurut Suwarno, munculnya daratan pascaerupsi tidak otomatis terbentuk pusat gunung api baru. Pergerakan magma di bawah permukaan bumi juga tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan perubahan bentuk daratan di permukaan.

"Kalau masalah akan keluar cucunya, belum kita ketahui," ujarnya. Dengan demikian, daratan baru tersebut masih harus dilihat sebagai bagian dari dinamika GAK yang terus berubah.

Pemantauan aktivitas vulkanik, deformasi, kegempaan serta perkembangan bentuk daratan menjadi penting untuk mengetahui apakah kawasan itu akan tetap menjadi endapan vulkanik atau berkembang menjadi struktur vulkanik baru.

GAK Terus Mengubah Wajah Selat Sunda

GAK sendiri merupakan gunung api yang tumbuh dari kawasan kaldera Krakatau. Sejak kemunculannya, tubuh gunung tersebut terus berubah mengikuti aktivitas erupsi dan proses pengendapan material vulkanik.

Fenomena terbaru ini kembali memperlihatkan bahwa erupsi bukan hanya soal letusan, asap dan abu yang membubung ke langit. Di bawah permukaan laut, material yang dilontarkan gunung api juga dapat perlahan-lahan membangun daratan baru.

Dalam hitungan waktu geologis, apa yang hari ini tampak sebagai gundukan material vulkanik dapat menjadi bagian dari sejarah baru kawasan Krakatau.
Tetapi bagi manusia, perubahan itu juga menyimpan pesan kewaspadaan.

Sebab, daratan baru tersebut berada di kawasan gunung api aktif dan masih dalam pemantauan. Meski status turun, masyarakat tetap dilarang melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif. (HBM)



.

Berita Terkini