PEKALONGAN, HELOINDONESIA.COM -Kauman Batik Art Fest 2024 yang diselenggarakan selama tiga hari, 24-26 Oktober 2024 lalu sukses memberdayakan potensi yang dimiliki warga Kauman, Kota Pekalongan. Event yang mulai tertata sejak Tahun 2018 lampau itu, benar-benar menjadi ruang kreasi seluruh lapisan masyarakat.
Selama tiga hari, Perkumpulan Kampung Batik Kauman (PKBK) Kota Pekalongan mengkesplore sumber daya yang ada. Mulai dari performance anak-anak hingga dewasa, pemberdayaan UMKM dan juga workshop berkain, sebuah ide yang boleh dibilang out of the box.
Baca juga: Kauman Batik Art Fest 2024 jadi Ruang Kreasi Seluruh Lapisan Masyarakat
Pada workshop yang diselenggarakan pada hari terakhir, kain batik yang selama ini identik penggunaannya pada saat acara-acara resmi, melalui workshop berkain mentor ‘memprovokasi’ batik juga bisa digunakan sehari-hari. Hang out misalnya, atau dengan cara kasual.
‘’Sekarang ini berkain batik bisa dengan out of the box, bisa diluar konteks. Peserta workshop anak-anak muda, mahasiswa, pekerja-pekerja kantoran. Bahkan ada sepasang bapak dan ibu yang ikut, ketika kami tanya jawabannya karena bosan dengan berpakaian batik resmi. Ingin ada inovasi baru cara berkain dengan batik,’’ ujar Ketua Perkumpulan Kampung Batik Kauman (PKBK) Kota Pekalongan, Muhamad Husni Mubarok.
Kolaborasi
Peserta workshop berkain dibatasi 50 orang. Peserta sebagian besar anak-anak muda, mulai dari mahasiswa dan pekerja kantoran. Mentor didatangnkan dari Kendal, karena kolaborasi berkain Kendal dan Pekalongan. Mentor memprovokasi berkain batik saat ini bisa dengan gaya apa saja.

Peserta workshop langsung praktek cara berkain dengan model sekarang. Memberi pemahaman kepada orang jika membeli kain batik tidak bingung digunakan untik apa, karena selama ini hanya dijahit jadi baju atau bawahan. Namun tapi di workshop diberi materi-materi cara berkain dengan jaman anak muda sekarang yang modern.
Kain batik tidak hanya untuk acara-acara resmi, tapi untuk jalan-jalan atau hango out dan kasual juga bisa. ‘’Sekarang ini berkain batik bisa dengan out of the box, bisa diluar konteks. Peserta workshop anak-anak muda, mahasiswa, pekerja-pekerja kantoran. Bahkan ada sepasang bapak dan ibu yang ikut, ketika kami tanya jawabannya karena bosan dengan berpakaian batik resmi. Ingin ada inovasi baru cara berkain dengan batik,’’ ujar Husni.
Event ini sendiri mengusung tema Sarung Batik Festival. Makna tema Sarung Batik Festival gelaran Kauman Batik Art Fest tahun ini dikarenakan pengrajin dari Kauman kebanyakan kain batik dan sarung batik. Bahkan ada beberapa ciri khas yang sudah dikenal oleh para pemina seperti Tema Kembang Warna, Sarung Batik Pakem Kaumanan. Motif yang sudah ada dikombinasikan dengan motif yang sudah ada.
Pada hari pertama event, Kauman Mencari Bakat bertujuan, memberi ruang kepada anak-anak PAUD, SD dan SMP untuk berkreasi, performance dengan kreasi masing-masing. ‘’Tujuan kami tidak lain agar kreasi yang muncul dapat menambah khasanah perbatikan, di mana Kota Pekalongan sudah terkenal dengan sebutan Kota Batik,’’ tambah Husni.
Anak-anak Muda
Kauman Batik Art Fest sendiri setiap tahun digelar pada bulan Oktober, di mana momentumnya adalah berkaitan dengan Hari Batik yang selalu diperingati setiap tanggal 2 Oktober. ‘’Namun tahun ini dikarenakan sesuatu hal, Kauman Batik Art Fest kami undur pelaksanaannya,’’ tambah Husni, panggilan akrab pria berusia 45 tahun tersebut.

Perkumpulan Kampung Batik Kauman Kota Pekalongan berdiri Tahun 2007, sedangkan Akte Notaris ditetapkan Tahun 2014. Sedangkan event Kauman Batik Art Fest mulai tertata sejak Tahun 2018. Kepengurusan Perkumpulan Kampung Batik Kauman Kota Pekalongan masa periode Tahun 2018 beberapa dihuni anak-anak muda, sehingga tumbuhkembang dengan kreativitasnya.
Di event tersebut pemberdayaan UMKM warga juga dilakukan, namun demikian juga tetap mengakomodir keikusertaan warga luar Kauman. Stand-stand kuliner tetap mengutamakan warga Kampung Kauman, ada sekitar 20 stand kuliner sementara untuk stand batik ada di salah satu rumah dengan display motif batik khas Kauman Pekalongan.
Motif Batik
Komunitas-komunitas yang ada juga dirangkul untuk berpartisipasi, seperti komunitas barang-barang antik, tosan aji, dan mural. Mereka sengaja diajak untuk memberikan warna event yang dari tahun ke tahun selalu ditunggu oleh penikmat tontonan. ‘’Kami selalu mendapat pertanyaan dari warga dan pihak-pihak yang berminat, kepastian penyelenggaraan event,’’ tambah Husni.
Bahkan pada hari kedua event, berbarengan lomba mewarnai untuk anak-anak umur 4-7 Tahun disediakan motif batik, dengan tema Motif Batik Sarung Kaumanan. Selain itu juga ada kegiatan bhakti sosial berupa donor darah.
Hari pertama, mulai jam sore yang membuka Camat Pekalongan Timur, Darminto, setelah sambutan dibuka, pengisi acara dengan Kauman Mencari Bakat, memberi ruang kepada anak-anak SD, SMP untuk berkrasi, performace dengan kreasi masing-masing.
Panitia memberikan reward untuk penampilan terbaik pertama sampai ketiga. ‘’Reward yang kami berikan memang tidak besar, semata-mata untuk memberikan apreasi dan semangat. Selain uang pembinaan kami juga memberikan piagam,’’ papar Husni.
Dua Sesi
Hiburan live music band-band kota Pekalongan juga turut menyemarakan jalannya event. Selama penyelenggaraan event, ada dua sesi setiap harinya. Sesi pertama mulai pukul tiga sore selesai maghrib, dilanjut sesi kedua setelah waktu salat Isya. Berbagai penampilan mulai fashion show Taman Kanak-Kanak, pencak silat, kesenian rebana dari berbagai sekolah disekitar Kampung Kauman dengan komunitas Kauman.
Dukungan dari Dinas Pariwisata Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kota Pekalongan, Disperinaker Kota Pekalongan dan Disporapar Jawa Tengah sangat membantu pada event yang dibuka oleh Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kota Pekalongan mewakili Pj Walikota Pekalongan Salahudin STP.
Tujuan event tidak lain untuk mempromosikan produk-produk sarung yang ada di Kauman terutama Sarung Batik Pakem Kaumanan, kemudian memperkenalkan UMKN Kauman di kancah perbatikan nasional. Tujuan lainnya faktor pelesterian, ‘’Sebagai insan batik kami memiliki kewajiban melestarikan warisan budaya menjadi identitas,’’ sambung Husni. (ADE)
