Helo Indonesia

Anjing Nikah Pakai Adat Jawa Tuai Kontroversi, Antara Cederai Budaya Adiluhung dan Pemenuhan Animal Welfare

Selasa, 25 Juli 2023 06:10
    Bagikan  
Anjing Nikah Pakai Adat Jawa Tuai Kontroversi, Antara Cederai Budaya Adiluhung dan Pemenuhan Animal Welfare

Pernikahan anjang Jojo dan Luna yang mengenakan adat Jawa menuai kontroversi

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Pernikahan dua ekor anjing yang menggunakan tatacara adat Jawa dan berlangsung mewah di sebuah mal Pantai Indah Kapuk Jakarta, beberapa waktu lalu dan viral di platform media sosial) menuai kontroversi.

Pegiat budaya Jawa dan juga paguyuban pranatacara di Semarang, Jawa Tengah, mengkritisi acara pernikahan sepasang anjing ras Alaska Malamute bernama Jojo dan Luna yang menghabiskan dana Rp 200 juta itu.

Mereka berpendapat, tidak selayaknya adat budaya Jawa yang adiluhung yang sarat pesan kebaikan yang biasa dilaksanakan orang dalam adat mantu, diperuntukkan untuk prosesi pernikahan anjing sebagai objeknya. Pelaku budaya Jawa menganggap hal tersebut mencederai adat budaya adiluhung.

Baca juga: Wali Kota Semarang Mbak Ita Ajak Masyarakat Dengarkan Suara Anak Indonesia

Edi Purnomo, Ketua Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani) Cabang Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah, mengecam keras para pelaku yang menyelenggarakan acara pernikahan anjing dengan menggunakan adat Jawa tersebut.

“Permadani selaku pihak-pihak yang ingin melestarikan budaya-budaya luhur bangsa Indonesia ini yang selalu menjaga marwah kehormatan anak bangsa sangat menyayangkan dan mengecam keras acara tersebut,” kecamnya, seperti dilansir Metropos.id, belum lama berselang.

Dia tak sependapat dengan budaya luhur yang telah dirintis oleh para leluhur keraton Kasunanan dalam menjaga nilai bermasyarakat dan berbudaya ini diterapkan untuk binatang.

Baca juga: Punya Manfaat yang Sama Hilangkan Jerawat, ini Perbedaan Fungsi Acne Face Serum dan Acne Face Toner

Dikatakannya, prosesi adat pernikahan yang diterapkan pada anjing tersebut sangatlah tidak tepat, tidak pada empan papannya (tempatnya) untuk diberlakukan pada hewan.

“Tidak pada empan papan dan cenderung merendahkan budaya kita sendiri. Seharusnya kita harus nguri-uri menjaga nilai-nilai luhur budaya adiluhung,” bebernya.


Edi berharap pihak-pihak yang telah melaksanakan kegiatan prosesi adat pernikahan anjing tersebut murni karena ketidaktahuannya saja sehingga bisa dimaklumi. Namun jika itu karena kesengajaan demi mencari sensasi , maka perlu diklarifikasi.

Di bagian lain, Ketua Komite Seni Budaya Nasional (KSBN) Jawa Tengah Agus Waryanto menilai, sebenarnya kegiatan tersebut tidak menjadi masalah asalkan bertujuan untuk kesenian ataupun semacam event atau kontes semata.

Dirinya menganggap hal tersebut dengan menggunakan istilah Animal Welfare (perlakuan kesejahteraan terhadap hewan yang dilakukan oleh manusia).
Menurutnya hal tersebut dilaksanakan hanyalah sebagai pengembangan budaya dan tidak menyengsarakan hewan itu sendiri.

“Itu ada aturannya, orang yang tidak menjaga pada kesejahteraan hewan ya itu nanti akan kena,” ujar dia.

Agus menganggap hal tersebut tidak ada unsur eksploitasi terhadap hewan, namun dirinya hanya melihat dari sebuah kreativitas.  Sepanjang itu hanya sebuah event, sebenarnya bisa dimaklumi. (Aji)