Rudal Harpoon Tiba di Taiwan, Diam-diam Batalion Lapis Baja Taiwan Berlatih di AS

Minggu, 13 Oktober 2024 21:26
Rudal Harpoon bisa dipasang di pantai Istimewa

HELOINDONESIA.COM - Pada 27 September, kiriman tahap pertama peralatan rudal Harpoon berbasis darat (juga disebut berbasis pantai) yang dibeli oleh Taiwan dari Amerika Serikat telah tiba di Kaohsiung, Taiwan.

Taiwan telah membeli total 100 set sistem rudal anti-kapal Harpoon dan 400 buah rudal Harpoon dari Amerika Serikat yang pengirimannya akan dibagi menjadi dua tahap : total 32 set sistem rudal dan 128 buah rudal Harpoon akan dikirimkan pada akhir tahun 2026. Dan sisanya selambatnya pada tahun 2028.

Model yang dibeli Taiwan adalah model Block II (U). U mewakili model peningkatan kinerja terbaru. Ia memiliki jangkauan 148 kilometer, yang sebenarnya lebih jauh jangkauannya daripada peralatan tombak aktif milik militer AS. Lebar rata-rata Selat Taiwan adalah 180 kilometer, yang pada dasarnya dapat menjangkau seluruh perairan di sisi Taiwan dari garis tengah Selat Taiwan.

Rencana Taiwan adalah menggabungkan 400 buah rudal anti-kapal “Harpoon” dan rudal anti-kapal seri “Hsiung Feng” buatan Taiwan untuk membentuk empat kelompok peluncuran yang ditempatkan di utara, tengah, selatan dan timur pulau guna pertahanan.

Baca juga: Pilot Eurofigter: F-35 akan Membunuh Saya di Luar Jangkauan Visual

Presiden Taiwan Lai Ching-te memimpin pertemuan pertamanya di Komite Ketahanan Pertahanan Seluruh Masyarakat yang baru ia bentuk pada 26 September. Lai menekankan perluasan kerja sama pemerintah-sipil dan integrasi kesiapan tempur yang komprehensif dan aktif untuk menjadikan Taiwan lebih tangguh secara strategis.

Ketahanan yang diusulkan oleh Lai Ching-te tidak hanya mengacu pada kesiapan militer saja, namun mencakup empat aspek dengan perspektif yang lebih luas dan berwawasan ke depan : yaitu, meningkatkan empat ketahanan Taiwan secara keseluruhan yaitu pertahanan nasional, penghidupan masyarakat, pencegahan bencana, dan demokrasi.

Seakan menyambut pernyataan yang dikeluarkan oleh Presiden Lai Ching-te, Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri (European Council on Foreign Relations. ECFR), sebuah lembaga pemikir independen, baru-baru ini merilis ringkasan kebijakan berjudul “Kejam, cepat dan akurat : Implikasi sanksi terkait Ukraina terhadap konflik Taiwan” yang berisikan tekanan bahwa Uni Eropa harus siap mengambil sanksi yang cepat dan tegas untuk menghadapi kemungkinan krisis.

Baca juga: Kevin Diks Dikabarkan Segera Gabung Timnas Indonesia, Erick Thohir : prosesnya berjalan

Selain itu juga menyebutkan, bahwa meskipun sanksi terhadap Rusia gagal mencegah invasi mereka ke Ukraina, tetapi pembelajaran dari sanksi tersebut sangat penting untuk melawan potensi tindakan Tiongkok terhadap Taiwan. Penulis ringkasan tersebut bahkan menyatakan secara langsung : “Jika Uni Eropa secara jelas mengeluarkan ancaman sanksi terhadap isu Taiwan, hal itu dapat mengubah cara Partai Komunis Tiongkok memperlakukan Taiwan”.

Berbeda dengan negara-negara Eropa yang ingin menggunakan sanksi ekonomi untuk menghalangi Partai Komunis Tiongkok menginvasi Taiwan, Amerika Serikat memberikan bantuan militer kepada Taiwan untuk mencapai tujuan mengalahkan musuh tanpa berperang.***

Berita Terkini