LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM .---- Beternak itik petelur salah satu peluang bisnis menjanjikan. Di Kabupaten Lampung Timur, sejumlah pemodal mencoba peruntungan dengan bisnis unggas berleher panjang bak angsa itu.
Mal'an, peternak asal Desa Labuhanratu Dua Kecamatan Way Jepara menuturkan, dirinya tertarik berternak itik petelur karena melihat sejumlah peternak lain yang lebih dulu menekuni usaha tersebut. Dari bisnis itu, mereka mampu meraup keuntungan jutaan tiap bulan. Keuntungan itu didapat dari hasil berjual telur.
"Terinspirasi dari teman-teman peternak dengan untung lumayan besar, sayapun mencoba peruntungan," ujar Mal'an.
Untuk memulai usaha beternak unggas bertelur itu, memang butuh modal lumayan besar. Pembuatan kandang kapasitas 300 ekor dapat menghabiskan biaya sekitar Rp 15 jutaan. Setelah kandang siap isi, itikpun didatangkan dari Subang Jawa Barat. Dalam satu ekor, pihak penyalur mematok harga Rp70 ribu per ekor dengan masa pelihara selama 1,5 bulan baru bertelur. Selama menunggu itik mulai belajar bertelur, dibutuhkan biaya pakan antara Rp 8 juta hingga Rp 9,5 juta.
"Dari awal persiapan pembuatan kandang, belanja itik dan biaya pakan sampai mulai bertelur bisa menghabiskan biaya hampir Rp 50 jutaan," kata Mal'an.
Meskipun modal awal lumayan besar, hal itu tak membuat peternak unggas warna abu-abu itu patah semangat atau khawatir modal tak kembali. Sebab, jika unggas tersebut sudah mulai rutin bertelur, hal itu peternak pun sudah ada pendapatan dari hasil berjual telur.
Dari 300 ekor, paling tidak menghasilkan 250 butir tiap hari dengan estimasi 50 ekor belum bertelur. Selama empat hari akan menghasilkan seribu butir telur dengan harga jual paling rendah Rp 2 ribu perbutir. Artinya,selama empat hari akan menghasilkan pendapatan sekitar Rp2 juta.
"Jika tiap hari rutin 250 butir, maka tiap bulan kita akan dapat keuntungan sekitar Rp4,5 juta. Itu kalau berternak 300 ekor," tandasnya.
Dari beragam jenis itik petelur yang dipelihara, peternak di kabupaten itu lebih memilih itik jenis mojosari. Unggas yang besarnya hampir sama dengan jenis itik lainnya itu memiliki beberapa kelebihan seperti ukuran telur lebih besar, tahan penyakit serta masa bertelur lebih lama dibanding jenis itik lainnya.
"Hampir semua peternak itik di Lampung Timur memilih itik jenis mojosari dari Subang. Pemeliharaannya sangat sederhana dan tahan penyakit,"ujarnya.
Karena untuk memulai usaha berternak unggas petelur itu butuh modal besar, peternak daerah itu butuh campur tangan pemerintah. Campur tangan dimaksud seperti bantuan pengadaan bibit, pakan atau bantuan lain yang dapat meringankan beban peternak.
"Selama ini peternak bergerak sendiri tanpa ada campur tangan pemerintah. Ke depan, kami berharap pemerintah peduli dengan peternak itik di kabupaten ini,"pungkasnya.
(Khairuddin)
