Helo Indonesia

Petani Singkong Kini “Mandi Dolar”, Harga Tembus Rp2.000 per Kg

Herman Batin Mangku - Ekonomi -> Bisnis
Kamis, 21 Mei 2026 11:12
    Bagikan  
SINGKONG
HELO LAMPUNG

SINGKONG - Foto ilustrasi Dasrul tersenyum bahagia mencabut singkong berbuah dollar. (AI Helo)

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM – Ada kabar mengejutkan dari sentra pertanian di Provinsi Lampung. Saat nilai dolar Amerika Serikat terus menguat dan harga pangan dunia bergejolak, petani singkong justru ikut "mandi dolar". Padahal, Gubernur Mirza baru saja berjuang sukur alot agar harga singkong bisa bikin petani bahagia sekitar Rp1300-an/kg.

Kini, harga ubi kayu di sejumlah pabrik tapioka malah melonjak hingga Rp2.000–Rp2.050/kg, tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, di bawah Rp1000/kg, para petani dari segala penjuru baru saja menggeruduk DPRD dan Pemprov Lampung. 

Baca juga: Luka Lama Harga Singkong, Mirza Apresiasi Kepatuhan Pabrik pada Pergub

Kenaikan harga tersebut sudah berlangsung sekitar tiga bulan terakhir dan membuat banyak petani mulai kembali bergairah menanam singkong.
Di sejumlah pabrik tapioka di Lampung, harga singkong kini berada di kisaran Rp1.600 hingga Rp2.050 per kilogram.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan beberapa tahun sebelumnya ketika petani sering mengeluhkan harga anjlok yang bahkan tidak mampu menutup biaya produksi. 

Kelangkaan bahan baku disebut menjadi penyebab utama harga singkong terus merangkak naik. Banyak petani kini beralih menanam padi, jagung, dan tebu karena ketiga komoditas tersebut juga sedang mengalami tren harga yang baik.

undefined

Gubernur Mirza ketika menyepakati harga singkong dengan para pengusaha pabrikan tapioka (Foto HBM/Helo) 

“Penyebab singkong langka karena banyak petani beralih menanam padi, jagung, dan tebu. Harga ketiga komoditas itu tahun ini juga bagus,” ujar Ketua Perkumpulan Petani Ubi Kayu Indonesia (PPUKI), Dasrul, kepada Heloindonesia.com, Kamis (21/5/2026).

Meski demikian, masih banyak petani yang tetap bertahan menanam ubi kayu. Cuaca yang mendukung serta membaiknya harga membuat komoditas singkong kembali dilirik sebagai sumber penghasilan yang menjanjikan.

Menurut Dasrul, kenaikan harga singkong berpotensi bertahan lama jika petani mulai mengubah pola tanam dan tidak lagi bergantung pada satu komoditas saja.

“Petani harus mengubah pola pikir. Jangan semua lahan ditanami singkong, tetapi harus diselingi juga dengan jagung atau tanaman lain. Kalau pasokan terlalu banyak, harga bisa kembali jatuh,” tegasnya.

Baca juga: Gubernur Lampung dan Menko Perekonomian Bahas Tata Niaga Singkong, Hasilkan Empat Kesepakatan

Berikut harga singkong di sejumlah pabrik di Lampung:

1. GB 7 Lampung Tengah: Rp2.050/kg, potongan 15 persen

2. BKM (BX) Lampung Tengah: Rp2.000/kg, potongan 12 persen

3. Sinar Laut Kalicinta, Kotabumi, Lampung Utara: Rp1.600/kg, potongan 15 persen

4. Muara Jaya Lampung Timur: Rp2.050/kg, refaksi 15 persen. 

Kondisi ini membuat banyak petani mulai menyebut singkong sebagai “ladang dolar” baru di Lampung. Di tengah naiknya biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi, ubi kayu justru menjadi harapan yang kembali menghidupkan dapur para petani.
(Zen Sunarto)

Baca juga: Demo Harga Singkong Hujan Batu, Mirza Yakinkan Massa Dirinya Peduli Petani

undefined