LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Tragedi harga singkong (Manihot esculenta) anjlok sudah menjadi ritual sejak hampir 30 tahun lalu. Namun, hingga enam gubernur dan penjabat belum ada satu pun yang bisa memecahkan persoalan petani singkong ini.
Akar masalahnya, tingginya harga pokok produksi (HPP), rendahnya produktivitas, serta tingginya supply-demand gap, belum ada solusi atau kebijakan cenderung berupa pendekatan "pemadam kebakaran", kesepakatan harga tak pernah efektif.
Helo Indonesia menjajaki Dr. Ir. Erwanto, MS, akademisi dari Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Faperta Unila). Dia berpendapat masalah menahun ini harus ada jalan keluar jangka panjang agar petani tak selalu dihantui anjloknya harga dan pemerintah tak selalu jadi pemadam kebakaran.
Untuk solusi jangka pendek, menurut dia, ada empat langkah, yakni:
1. Adanya kesepakatan baru tentang harga minimum dan rafaksi maksimum.
2. Kesepakatan tahun 2021 dapat menjadi acuan kesepakatan baru dengan memperhitungkan interest rate atau angka inflasi.
3. Kesepakatan baru harus lebih rinci dan ada ada implikasi sanksi.
4. Perlu dibentuk tim monitoring dan evaluasi implementasi kesepakatan baru.
Jangka panjangnya, kata Erwanto, perlu grand design transformasi agribisnis ubi kayu. Ada lima design yang harus dilakukan para pemangku kebijakan, yakni design pengembangan kelembagaan, SDM, R and D-inovasi-teknologi-dan hilirisasi, skema pembiayaan, dan design pengembangan kerja sama.
1. Design Pengembangan Kelembagaan Sistem Agribisnis (kemitraan terkawal, korporasi petani, dll).
2. Design Pengembangan SDM Entreprenuer (inkubator bisnis ubi kayu hulu-hilir).
3. Design Pengembangan R and D Inovasi, Teknologi, dan Hilirisasi (bahan tanam, media tanam, budidaya, pascapanen, pengolahan hasil, pemasaran, dll).
4. Design Pengembangan Skema Pembiayaan Agribianis (koperasi, asuransi, start up bisnis, aneka insentif, dll).
5. Design Pengembangan Kerja Sama Pemasaran Produk (festival cassava, expo, dll)
Menurut Erwanto, ubi kayu merupakan komoditas harapan, yakni sebagai bahan pangan, energi, kosmetik, farmasi, material maju, pangan fungsional, dkk. "Produksi ubi kayu Indonesia berada pada peringkat enam dunia (4, 8 persen atau 14,58 juta metrik ton hitungan tahun 2919) .
Ubi kayu prospektif untuk ketahanan pangan dan energi, kesejahteraan petani, pertumbuhan ekonomi, serta komoditas ekspor.
Namun, peluang emas itu kadang malah jadi tragedi. Sebagian besar petani possionnya adalah bercocok tanam ubi kayu namun untuk pindah ke komoditas lain tak mudah. Agribisnis ubi kayu yang tak terurus berujung pada economic loss yang setara sekitar Rp1-2 triliun lebih per tahun.
"Jika berhasil diselamatkan, dana lepas tersebut akan mengalir ke petanu, industri, PAD, dan dapat membiayai program mediated partnership," katanya. Permasalahan petani, kesulitan modal, sarana produksi, air, bibit, saya dukung lahan, penasaran, sisa panen belum dapat dimanfaatkan.
Senin siang ini (23/12/2024), Pj Gubernur Lampung Samsudin memanggil para direktur 29 perusahaan singkong terkait anjloknya harga singkong yang berdampak pada bergejolaknya para petani di beberapa kabupaten.
Dijadwalkan lewat surat yang bersifat penting No.500.6.11.1/6827/V.21/2024, undangan pertemuan diadakan di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur Provinsi Lampung, Senin (23/12/2024), pukul 14.00 WIB. (HBM)
-