Helo Indonesia

Ketika “Darah Juang” Menggema, Koperasi Rakyat Menemukan Jalan Pulang

Herman Batin Mangku - Ekonomi
1 jam 19 menit lalu
    Bagikan  
Eksponen 98 Lampung
HELO LAMPUNG

Eksponen 98 Lampung - RAT KMP SeBINus.

BANDARLAMPUNG, HELOINDONESIA. COM — Ada sesuatu yang terasa berbeda ketika Darah Juang kembali dinyanyikan. Lagu yang lahir dari rahim gerakan mahasiswa pada awal 1990-an itu bukan sekadar rangkaian nada. Ia menyimpan ingatan tentang keberanian, tentang anak-anak muda yang pernah bermimpi mengubah keadaan, tentang keyakinan bahwa perubahan tidak lahir dari diam.

Sabtu, 8 Agustus 2026, lagu ciptaan mendiang John Tobing—Johnsony Maharsak Lumban Tobing—itu kembali menggema. Kali ini bukan di tengah jalanan yang dipenuhi demonstrasi, melainkan di Ruang Sidang Gedung Staf Ahli Gubernur Lampung.

Yang sedang dibicarakan bukan lagi perubahan politik. Mereka sedang membicarakan kemandirian ekonomi rakyat. Para pelaku usaha, aktivis sosial, penggerak UKM dan UMKM, profesional, pekerja koperasi, komunitas ojek dan pengemudi daring, pelaku usaha jasa dan perjalanan, perusahaan pertambangan, koperasi tenaga kerja bongkar muat pelabuhan, tokoh masyarakat, asesor, fasilitator koperasi, hingga perwakilan DEKOPIN Lampung duduk dalam satu ruang.

undefined

Sidang Pleno II dipimpin Abu Hasan sebagai ketua,

Mereka datang dari dunia yang berbeda. Namun hari itu mereka dipertemukan oleh satu gagasan: kekuatan ekonomi akan jauh lebih berarti ketika dibangun secara bersama-sama.

Dari ruang itulah Koperasi Multi Pihak Sentral Bisnis Nusantara atau KMP SeBINus, yang diinisiasi kalangan Eksponen 98 Lampung, mencoba menyusun kembali langkahnya.

Bukan sekadar menghidupkan sebuah badan usaha, melainkan menghidupkan kembali gagasan lama tentang ekonomi kerakyatan dalam wajah yang lebih sesuai dengan zaman.

Dari Semangat Perubahan ke Perjuangan Ekonomi

Rapat Anggota Tahunan (RAT) KMP SeBINus mengusung tema yang cukup besar: “Transformasi Demokrasi Ekonomi dan Penguatan Koperasi sebagai Pilar Ekonomi Kerakyatan Berbasis Kolektivisme.”

Tema itu bukan tanpa konteks. Di tengah ekonomi yang semakin kompetitif, ketika modal, teknologi, dan jaringan bisnis sering menjadi penentu siapa yang mampu bertahan, koperasi menawarkan jalan berbeda.
Jalan yang bertumpu pada kekuatan anggota.

Pada kebersamaan. Pada keyakinan bahwa orang-orang kecil, ketika berhimpun dan mengelola kekuatan secara kolektif, dapat memiliki daya tawar yang lebih besar.

Gagasan itu juga sejalan dengan agenda pemerintah Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan koperasi sebagai salah satu instrumen penguatan ekonomi rakyat.

undefined

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal sedianya membuka RAT tersebut. Namun karena berhalangan hadir, sambutan dan pesan gubernur disampaikan melalui Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Lampung.

Pembukaan RAT ditandai dengan penyematan PIN koperasi kepada sejumlah peserta, di antaranya Rustam Nawawi, Bastari, Bella Suzantona, Sandi, Heri K. Endang, dan Nonha Sartika.

Sebuah simbol sederhana. Tetapi dari simbol-simbol kecil seperti itulah sebuah organisasi sering kali memulai perjalanan panjangnya.

Menjaga Soliditas di Tengah Perubahan

Tri Indah Noviana, Ketua Pengawas KMP SeBINus periode 2023–2028 yang mewakili kelompok badan usaha dan pengurus demisioner, melihat masa depan koperasi ini sangat ditentukan oleh soliditas pengurus.

Menurutnya, peluang dan tantangan ke depan akan semakin besar. Karena itu, kepengurusan baru harus mampu menyatukan berbagai potensi yang telah berhimpun.

“Saya yakin dengan kepengurusan KMP SeBINus ke depan akan lebih maju. Apalagi berkumpul rekan-rekan profesional, pelaku koperasi dan UMKM, ditambah lagi ada kawan-kawan Eksponen 98 Lampung,” katanya.

Pernyataan itu sekaligus menggambarkan wajah KMP SeBINus. Di dalamnya ada pengalaman aktivisme, dunia usaha, koperasi, UMKM, profesionalisme, dan berbagai komunitas ekonomi. Sebuah keragaman yang bisa menjadi kekuatan—jika mampu dikelola dalam satu arah.

Dua Sidang Menentukan Arah

RAT berlangsung dalam dua sidang pleno. Sidang Pleno I dipimpin Husni Thamrin dan Peni Wahyudi. Forum membahas pernyataan kuorum, pengesahan agenda dan jadwal RAT, serta pembahasan dan pengesahan tata tertib. Sidang kemudian dihentikan untuk ishoma sekitar pukul 12.00 WIB.

Satu jam kemudian, forum kembali bergerak. Sidang Pleno II dipimpin Abu Hasan sebagai ketua, Bagas Irawan sebagai sekretaris, dan Heti K. Endang sebagai anggota. Di forum inilah arah organisasi dibicarakan lebih jauh: pembahasan AD/ART serta penetapan pengurus KMP SeBINus masa bakti 2026–2031.

Sekitar pukul 15.00 WIB, seluruh rangkaian sidang selesai. Forum kemudian ditutup oleh Ketua Umum terpilih, Rustam Nawawi. Hasil RAT menetapkan: Ketua Umum: Rustam Nawawi, Sekretaris: Husni Thamrin, Bendahara: Heti K. Endang, Ketua Pengawas: Desmarita Tanjung

Setelah Lagu Berhenti, Perjuangan Dimulai

Ruang sidang akhirnya kembali sunyi.
Kursi-kursi yang sebelumnya dipenuhi peserta perlahan kosong. Suara percakapan menyusut menjadi langkah-langkah kaki yang meninggalkan ruangan. Namun sesungguhnya, bagi KMP SeBINus, pekerjaan baru saja dimulai.

Sebab koperasi tidak pernah cukup dibangun dengan nama pengurus, rapat, atau dokumen organisasi.
Ia dibangun oleh kepercayaan.
Oleh kesediaan untuk berbagi.
Oleh keberanian untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan sendiri. Dan terutama oleh kesabaran untuk bekerja ketika hasil belum segera terlihat.

Ada ironi sekaligus harapan ketika Darah Juang dipilih menjadi salah satu lagu yang mengawali pertemuan itu.
Dulu, lagu tersebut menjadi suara anak-anak muda yang menuntut perubahan politik. Kini, generasi yang pernah melewati masa itu berhadapan dengan medan perjuangan yang berbeda.

Jika dahulu yang diperjuangkan adalah demokrasi politik, maka hari ini salah satu medan perjuangannya adalah demokrasi ekonomi. Sebab demokrasi tidak akan pernah benar-benar lengkap jika rakyat hanya memiliki suara, tetapi tidak memiliki kekuatan ekonomi.
Koperasi, dalam konteks itu, bukan sekadar lembaga bisnis.

Ia adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa rakyat tidak selamanya menjadi penonton di tengah pertumbuhan ekonomi yang mereka sendiri ikut menciptakannya. Dan mungkin, itulah makna paling dalam dari Darah Juang yang menggema pagi itu. Bahwa perjuangan tidak pernah benar-benar selesai.

Ia hanya berganti wajah. Dari jalanan menuju ruang-ruang ekonomi. Dari demonstrasi menuju koperasi. Dari tuntutan perubahan menuju kerja nyata. Darah juang itu kini sedang mencari bentuk baru: menjadi keberanian untuk membangun, bekerja bersama, dan berdiri di atas kaki sendiri. (HBM)