Helo Indonesia

Puluhan Tahun Berdiri, SDN 22 Tulang Bawang Udik Kini Butuh Revitalisasi

57 menit lalu
    Bagikan  
Puluhan Tahun Berdiri, SDN 22 Tulang Bawang Udik Kini Butuh Revitalisasi

Kondisi sekolah saat ini (foto Rohman)

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM----Lebih dari lima dekade menjadi tempat anak-anak menimba ilmu, SD Negeri 22 Tulang Bawang Udik (TBU) di Tiyuh (Desa) Gunung Katun Tanjungan, Kecamatan Tulang Bawang Udik (TBU), Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba), Lampung, kini menghadapi persoalan serius pada sejumlah sarana dan prasarana pendidikan.

Sekolah yang berdiri sejak 1975 itu masih menjadi tempat belajar bagi 105 peserta didik. Namun, di balik aktivitas pembelajaran setiap hari, sejumlah bangunan dan fasilitas sekolah mulai dimakan usia dan membutuhkan perhatian pemerintah.

Hasil pantauan di lokasi menunjukkan, kerusakan terlihat pada sejumlah bagian bangunan. Atap mulai mengalami kerusakan, plafon tidak lagi dalam kondisi baik, sementara sejumlah kusen telah lapuk dan sebagian jendela bahkan tidak memiliki kaca.

Kondisi tersebut membuat sedikitnya empat ruang kelas dinilai sudah tidak layak digunakan. Tidak hanya ruang belajar, sejumlah fasilitas penunjang pendidikan seperti perpustakaan, Unit Kesehatan Sekolah (UKS), laboratorium, ruang administrasi, hingga kantin juga membutuhkan pembenahan.

Plt. Kepala SD Negeri 22 Tulang Bawang Udik, Ruliansasi, mengatakan pihak sekolah telah mengusulkan rehabilitasi kepada pemerintah untuk memperbaiki sejumlah fasilitas yang mengalami kerusakan.

“Sudah kami ajukan untuk rehabilitasi empat ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, administrasi, kantin sehat, dan UKS,” kata Ruliansasi saat ditemui media, Sabtu (8/8/2026).

Menurutnya, kondisi bangunan yang sudah berusia puluhan tahun membuat rehabilitasi menjadi kebutuhan mendesak. Sekolah berharap usulan tersebut dapat direalisasikan sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan lebih aman dan nyaman.

Saat ini, SD Negeri 22 Tulang Bawang Udik memiliki 105 peserta didik. Dengan jumlah tersebut, ketersediaan ruang belajar yang aman dan layak menjadi kebutuhan mendasar, bukan hanya untuk menunjang proses pembelajaran, tetapi juga menyangkut keselamatan siswa dan tenaga pendidik.

Persoalan sarana dan prasarana di sekolah tersebut bukan hal baru. Bantuan pembangunan terakhir yang diterima SD Negeri 22 Tulang Bawang Udik dari pemerintah tercatat pada 2021.

Saat itu, pemerintah memberikan bantuan pembangunan empat ruang kelas. Namun, sejumlah fasilitas lain yang telah berusia puluhan tahun belum mendapatkan penanganan serupa.

Seiring berjalannya waktu, kondisi bangunan yang terus mengalami penurunan kualitas membuat kebutuhan rehabilitasi semakin mendesak.

Pihak sekolah kini berharap usulan tersebut dapat masuk dan direalisasikan melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026.

“Kami berharap tahun 2026 ini bisa direalisasikan, karena kondisi bangunan memang sudah tidak layak digunakan,” ujar Ruliansasi.

Sekolah tidak hanya berharap dukungan dari Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga diharapkan dapat memberikan perhatian melalui program revitalisasi satuan pendidikan tahun 2026.

Bagi sekolah, rehabilitasi bukan sekadar memperbaiki bangunan yang rusak atau memperindah tampilan fisik sekolah. Lebih jauh, pembenahan sarana pendidikan berkaitan langsung dengan hak anak untuk memperoleh lingkungan belajar yang aman, sehat, dan layak.

Apalagi, SD Negeri 22 Tulang Bawang Udik telah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan masyarakat Gunung Katun Tanjungan selama lebih dari 50 tahun.

Di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan, keberadaan sarana dan prasarana yang memadai menjadi salah satu fondasi penting. Kualitas pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh guru dan kurikulum, tetapi juga oleh lingkungan tempat proses pendidikan berlangsung.

Bangunan sekolah yang menua dan mengalami kerusakan pada sejumlah bagian pada akhirnya tidak hanya menjadi persoalan fasilitas. Jika dibiarkan tanpa penanganan, kondisi tersebut berpotensi mengganggu kenyamanan bahkan keselamatan siswa dan tenaga pendidik.

Kini, sekolah yang telah melahirkan dan mendampingi generasi demi generasi masyarakat Gunung Katun Tanjungan itu menanti realisasi usulan rehabilitasi.

Harapannya sederhana: usia panjang sekolah tidak menjadi beban bagi proses belajar, tetapi justru menjadi bukti panjangnya perjalanan pendidikan yang terus dijaga dan diperbaiki.

Sebab, bagi 105 anak yang setiap hari datang ke sekolah, ruang belajar yang aman dan layak bukanlah kemewahan. Itu adalah kebutuhan dasar untuk memastikan mereka dapat belajar dan tumbuh dengan baik.

(Rohman).