✕

Eropa Membara, Kerusuhan Merembet dari Prancis ke Italia, Belgia, Spanyol, Portugal hingga Albania

Senin, 19 Oktober 2026 18:05
Kerusuhan di Prancis HELO LAMPUNG

HELOINDONESIA.COM -- Gelombang demonstrasi yang dipicu tekanan biaya hidup, kenaikan harga energi dan BBM, persoalan pendidikan, serta krisis perumahan melanda sejumlah negara Eropa pada Sabtu (17/10/2026). Di Prancis, Italia, Belgia, Portugal, Spanyol, hingga Albania massa turun ke jalan hingga terjadi bentrok fisik dan pengrusakan.

Prancis: Ratusan Ribu Massa

Prancis menjadi salah satu pusat demonstrasi terbesar. Menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis, lebih dari 550.000 orang mengikuti demonstrasi di berbagai wilayah pada 17 Oktober. Aksi tersebut berkembang dari gelombang protes pelajar yang telah berlangsung selama beberapa pekan.

Persoalan pendidikan menjadi salah satu pemicu awal. Para pelajar menyoroti kekurangan guru, ruang kelas yang padat, kondisi gedung sekolah yang memburuk, jadwal belajar yang melelahkan, serta persoalan sistem penerimaan mahasiswa.

Gelombang protes kemudian meluas setelah mahasiswa, serikat pekerja, dan kelompok masyarakat lainnya ikut menyuarakan keberatan terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok, mahalnya energi, serta penurunan kualitas pelayanan publik.

Di sejumlah kota, demonstrasi yang semula berlangsung damai berubah menjadi kekacauan. Toko-toko dijarah, kendaraan dan bangunan dirusak, sedangkan aparat kepolisian berhadapan dengan kelompok demonstran yang melemparkan benda-benda ke arah petugas.

Di Limoges, gedung balai kota bersejarah mengalami kebakaran hebat setelah dibakar oleh kelompok bertopeng. Sejumlah fasilitas pemerintahan di kota lain juga dilaporkan dirusak, sementara toko-toko di Paris, Marseille, Nice, Bordeaux, dan sejumlah kota lainnya menjadi sasaran penjarahan.

Jumlah penangkapan sempat dilaporkan berbeda selama perkembangan situasi. Laporan awal menyebut sekitar 1.200 orang ditangkap, sedangkan laporan lanjutan pada 18 Oktober menyebut jumlahnya mencapai sekitar 2.400 orang.

Italia: Milan Membara, Demonstrasi Berujung Bentrokan

Di Italia, demonstrasi berlangsung di Milan dan Bologna, dengan aksi massa yang juga berkaitan dengan persoalan ekonomi, kenaikan harga, dan penolakan terhadap perang. Di Milan, demonstrasi yang awal awai berubah ricuh ketika kelompok bertopeng melempar polisi antihuru-hara.

Sejumlah penghalang jalan dibakar, sementara toko dan fasilitas di pusat kota mengalami kerusakan. Polisi menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa. Kawasan Piazza del Duomo dan pusat perbelanjaan di sekitarnya menjadi salah satu titik yang terdampak bentrokan.

Kantor berita LaPresse melaporkan sekitar 50 demonstran, banyak di antaranya masih di bawah umur, diamankan di Milan. Sedikitnya dua anggota kepolisian dilaporkan terluka dalam bentrokan tersebut.

Belgia: Brussel dan Liege Dihadapkan pada Kericuhan

Di Belgia, demonstrasi berlangsung di Brussel dan Liege. Di ibu kota, mahasiswa sebelumnya telah menggelar aksi selama beberapa pekan untuk memprotes persoalan biaya pendaftaran perguruan tinggi dan kebijakan pendidikan.

Pada 17 Oktober, situasi di sejumlah titik berubah tegang. Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa yang dituduh melemparkan benda ke arah petugas serta menyalakan api.

Di Liege, kota di bagian timur Belgia, aparat juga mengerahkan meriam air untuk mengendalikan situasi. Angka sekitar 195 orang yang diamankan beredar dalam laporan mengenai kericuhan di Belgia.

Portugal: Krisis Perumahan dan Upah Jadi Sorotan

Berbeda dengan sejumlah titik kerusuhan di Prancis dan Italia, demonstrasi di Lisbon, Portugal, terutama menyoroti persoalan biaya hidup, upah, dan kesulitan memperoleh tempat tinggal yang terjangkau.

Puluhan ribu orang diperkirakan mengikuti aksi yang dimobilisasi oleh serikat pekerja utama Portugal, CGTP. Mereka menuntut kenaikan upah dan pensiun, perbaikan pelayanan publik, serta kebijakan yang mampu menekan beban kebutuhan sehari-hari.

Krisis perumahan menjadi salah satu persoalan paling menonjol. Harga rumah di Portugal dilaporkan telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2017, sedangkan harga sewa untuk kontrak baru juga melonjak tajam.

Kondisi tersebut memberi tekanan besar kepada pekerja berpenghasilan rendah, keluarga muda, dan masyarakat yang tinggal di pusat kota. Bagi kelompok ini, persoalannya bukan hanya kenaikan harga barang, tetapi juga semakin sulitnya memenuhi kebutuhan dasar dengan penghasilan yang tersedia.

Di Lisbon, demonstran mendirikan tenda sebagai simbol protes terhadap mahalnya sewa dan keterbatasan hunian. Aksi itu memperlihatkan bahwa krisis perumahan telah berkembang menjadi persoalan sosial yang menyentuh akses masyarakat terhadap tempat tinggal layak.

Spanyol: Perumahan dan Ketidakpastian Masa Depan Generasi Muda

Di Spanyol, persoalan perumahan dan tekanan ekonomi menjadi bagian penting dari gelombang ketidakpuasan masyarakat. Harga sewa yang tinggi, kesulitan memperoleh hunian, dan ketidakpastian ekonomi menjadi beban bagi sebagian pekerja serta generasi muda.

Laporan mengenai demonstrasi di Spanyol mengaitkan mobilisasi massa dengan persoalan penggusuran dan tuntutan agar pemerintah memperkuat perlindungan penyewa. Gerakan masyarakat sipil juga mendorong pembatasan kenaikan sewa serta langkah untuk memperluas ketersediaan rumah terjangkau.

Persoalan perumahan di Spanyol menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak otomatis membuat seluruh masyarakat mampu mengakses kebutuhan dasar. Bagi warga yang penghasilannya tidak sebanding dengan harga sewa, kenaikan aktivitas ekonomi belum tentu berarti peningkatan kesejahteraan.

Albania: Pendidikan, Lapangan Kerja, dan Protes terhadap Proyek Pembangunan

Di Albania, demonstrasi mahasiswa dan kelompok masyarakat menyoroti kondisi pendidikan, terbatasnya peluang kerja, persoalan tata kelola, serta kontroversi pembangunan di kawasan pesisir.

Di ibu kota Tirana, mahasiswa menyuarakan keberatan terhadap buruknya fasilitas perguruan tinggi dan terbatasnya prospek pekerjaan setelah lulus. Persoalan tersebut berkaitan dengan kekhawatiran generasi muda mengenai masa depan mereka di dalam negeri.

Kontroversi proyek pembangunan resor mewah juga menambah ketegangan. Bagi kelompok yang menentang proyek tersebut, pembangunan berskala besar menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi pengambilan keputusan, kepentingan publik, serta manfaat ekonomi yang benar-benar diterima masyarakat setempat.

Laporan media internasional menyebut aksi di Albania berkembang menjadi bentrokan dan penangkapan. Namun, rincian mengenai jumlah orang yang diamankan, durasi kerusuhan, dan hubungan setiap insiden dengan proyek pembangunan tertentu harus dipisahkan berdasarkan laporan masing-masing peristiwa.

Persoalan di Albania memiliki karakter tersendiri dibandingkan dengan demonstrasi di negara-negara Uni Eropa. Meski demikian, terbatasnya kesempatan kerja, kualitas layanan pendidikan, dan tuntutan transparansi memperlihatkan persoalan yang juga menjadi perhatian generasi muda di berbagai negara.

Bukan Satu Gerakan, tetapi Keluhan yang Beririsan

Meluasnya demonstrasi di sejumlah negara Eropa tidak serta-merta menunjukkan adanya satu gerakan terorganisasi yang dikendalikan dari satu pusat. Laporan Al Jazeera pada 17 Oktober menyebut aksi-aksi tersebut berlangsung secara terpisah dan tidak terkoordinasi secara menyeluruh, meskipun terdapat kesamaan keluhan.

Kesamaan itu terlihat pada tekanan biaya hidup, mahalnya energi dan perumahan, persoalan pendidikan, serta kekhawatiran terhadap kesempatan kerja. Faktor-faktor tersebut membentuk latar ketidakpuasan yang berbeda-beda sesuai kondisi masing-masing negara.

Data yang dikutip Euronews pada 19 Oktober menunjukkan harga pangan dan minuman nonalkohol di Uni Eropa meningkat sekitar 34 persen antara Agustus 2021 dan Agustus 2026. Angka agregat tersebut membantu menjelaskan tekanan harga yang dihadapi masyarakat, meskipun dampaknya berbeda menurut negara, pendapatan, dan komposisi pengeluaran setiap rumah tangga.

Ketika penghasilan tidak meningkat sebanding dengan pengeluaran untuk pangan, energi, transportasi, dan tempat tinggal, ruang bagi rumah tangga untuk menabung maupun memenuhi kebutuhan lainnya semakin terbatas. Keluhan ekonomi kemudian dapat bertemu dengan persoalan pelayanan publik, pendidikan, dan kepercayaan terhadap pemerintah. (HBM)

Berita Terkini