Dari Ruang Autopsi ke Layar Lebar: Kisah Nyata Sumy Hastry Banggakan Alumni FK Undip

Senin, 7 September 2026 14:58
Masayu Anastasia Sumy Hastry, Riyuka Bunga. Suasana Nobar, dan adegan film Autopsy

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Keluarga besar alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) yang tergabung dalam IKA Medica Undip menggelar kegiatan silaturahmi dan nonton bersama film Autopsy: Dead Body Can Talk di XXI Mal Tentrem, Semarang, Sabtu, 5 September 2026.

Kegiatan ini menjadi momentum istimewa untuk mempererat hubungan antaralumni sekaligus memberikan dukungan terhadap film yang mengangkat kisah nyata salah satu alumni FK Undip, Brigjen Pol Dr dr Sumy Hastry Purwanti SpF DFM.

Sekretaris Jenderal IKA Medica Undip, dr Chandra Aquino Tambunan SpB., FINACS MH CMed., mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya ditujukan sebagai agenda hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun komunikasi, kebersamaan, dan rasa kekeluargaan di antara para alumni.

“Film Autopsy menjadi sangat istimewa bagi kami karena diangkat dari kisah nyata Alumni FK Undip. Kisah yang ditampilkan tidak hanya menarik, tetapi juga inspiratif, karena menggambarkan perjalanan, dedikasi, serta nilai-nilai kemanusiaan dan profesionalisme seorang dokter dalam menjalankan tugas dan pengabdiannya,” ujar Chandra.

Film yang disutradarai Ozan Ruz dan diproduksi Karya Kreatif Utama itu resmi tayang pada 3 September 2026. Mengusung genre psychological thriller, crime, dan forensic thriller, film ini menghadirkan dunia kedokteran forensik melalui sosok dr. Sumy Hastry yang diperankan oleh Masayu Anastasia.

Cerita film berangkat dari keyakinan bahwa jasad dapat mengungkapkan banyak hal tentang peristiwa yang terjadi sebelum kematian. Luka, memar, kondisi organ, dan berbagai bukti ilmiah menjadi petunjuk penting bagi dokter forensik untuk menemukan kebenaran.

Baca juga: Aura Bintang di MLSC Semarang 2026, Ketajaman Sang Top Scorer dan Ketangguhan Best Player Jadi Sorotan

Dalam film tersebut, dr Sumy digambarkan menangani kasus penemuan jasad perempuan tanpa identitas. Penyelidikan kemudian berkembang menjadi rangkaian misteri yang mempertemukan bukti ilmiah, tekanan pekerjaan, persoalan keluarga, serta konflik batin. Film ini juga menghadirkan kasus seorang anak bernama Dara dan proses ekshumasi kasus pembunuhan ibu dan anak.

Masayu Anastasia tampil bersama Samuel Rizal yang memerankan dr Hary Tjahjanto, Teuku Rifnu Wikana sebagai Rendra, Ge Pamungkas, Riyuka Bunga sebagai Yatna, serta Indra Frimawan. Melalui para pemainnya, film ini tidak hanya memperlihatkan sisi menegangkan dunia forensik, tetapi juga menggambarkan profesi dokter forensik yang bersinggungan dengan persoalan keluarga, keadilan, dan tanggung jawab kemanusiaan.

Mengangkat Dedikasi dan Sisi Manusiawi Dokter

Sumy Hastry menyebut kegiatan nonton bersama tersebut sebagai momen yang luar biasa. Ia mengapresiasi kehadiran para sahabat, alumni, dan rekan dari kepolisian yang ikut menyaksikan film tersebut. Sumy juga menilai Masayu Anastasia sangat sesuai memerankan sosok dokter forensik.

Masayu yang hadir dalam acara itu mengungkapkan bahwa Autopsy memberinya pengalaman baru. Untuk mendalami karakter, ia mempelajari berbagai hal mengenai kedokteran forensik, mulai dari proses autopsi, penggunaan peralatan, toksikologi, hingga teknik menjahit luka. Ia juga berusaha memperoleh gambaran langsung mengenai pekerjaan dokter forensik agar perannya terasa lebih meyakinkan.

Menurut model dan bintang FTV itu, film ini menjadi tantangan tersendiri secara akting sekaligus membuka wawasan tentang profesi yang belum banyak diangkat dalam perfilman Indonesia. Ia berharap Autopsy dapat diterima masyarakat luas dan mendorong generasi muda untuk mengenal lebih jauh, bahkan tertarik mendalami, ilmu kedokteran forensik.

Riyuka Bunga, yang memerankan tokoh asisten, juga mengaku mendapatkan banyak pengetahuan dari Sumy Hastry dan keluarganya. Ia bahkan berseloroh bahwa jika sejak muda memiliki kesempatan memilih profesi, dirinya mungkin akan tertarik menjadi dokter forensik.

Alur Menarik

Apresiasi terhadap film tersebut turut disampaikan dr Irwin Lamtota MKed9OG, SpOG, yang bertugas di RSD KRMT Wongsonegoro, RSUD Sultan Fatah, dan Charlie Hospital Demak. Ia menilai film ini memiliki alur yang menarik, sinematografi yang kuat, serta penampilan para pemain yang meyakinkan.

Irwin mengaku terkesan melihat sosok Sumy Hastry tidak hanya sebagai dokter kepolisian dan ahli forensik, tetapi juga sebagai seorang istri dan ibu. Menurutnya, film ini cukup berhasil menampilkan sisi profesional sekaligus sisi manusiawi seorang dokter. Ia juga menilai cerita yang diangkat telah didukung riset medis sehingga terasa realistis dan layak dikembangkan menjadi serial.

Hal senada disampaikan Dr Hervyasti Purwiandari, SpOG, yang bertugas di RSD KRMT Wongsonegoro dan RSIA Anugerah Semarang. Ia mengapresiasi detail serta sinematografi film yang dinilai mendekati realitas dunia kedokteran forensik.

Menurut Hervyasti, keberanian film menghadirkan proses medis secara terbuka menjadi salah satu kekuatannya, terutama karena penyajiannya telah disesuaikan dengan klasifikasi usia penonton. Ia berharap karya-karya serupa terus dikembangkan dengan mengangkat dunia kedokteran, kepolisian, dan profesi lain secara lebih mendalam melalui riset yang kuat
.
Dengan demikian, film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi yang membantu masyarakat memahami profesi dan tanggung jawab para dokter.

Bagi IKA Medica Undip, Autopsy memiliki makna lebih dari sekadar keberhasilan sebuah film menembus layar lebar. Film ini menjadi pengingat bahwa kisah nyata alumni dapat diangkat menjadi karya yang menginspirasi sekaligus memperkenalkan nilai pengabdian profesi kepada masyarakat.

“Kami merasa bangga ketika kisah nyata Alumni FK UNDIP dapat diangkat menjadi sebuah karya film yang memberikan inspirasi kepada masyarakat luas. Semoga Autopsy tidak hanya menjadi sebuah tontonan, tetapi juga membawa pesan tentang pengabdian, integritas, keberanian, dan tanggung jawab seorang dokter terhadap profesi dan masyarakat,” kata Chandra.

Ia berharap kegiatan tersebut semakin memperkuat semangat kekeluargaan alumni FK Undip dan menjadi momentum untuk saling mendukung, menginspirasi, serta memberikan kontribusi terbaik bagi almamater, profesi, dan masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap semangat kekeluargaan Alumni FK UNDIP semakin kuat serta menjadi momentum untuk saling mendukung, menginspirasi, dan bersama-sama memberikan kontribusi terbaik bagi almamater, profesi, dan masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan nonton bersama itu pun ditutup dengan semangat yang menjadi identitas keluarga besar alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro: IKA Medica Undip — Guyub Rukun Saklawase. (Aji)

Berita Terkini