Helo Indonesia

Waspada, Lesbian dan Biseksual Lebih Berisiko Terkena Penyakit Jantung Loh, Ini Alasannya!

Syahroni - Ragam -> Kesehatan
Rabu, 17 Mei 2023 18:00
    Bagikan  
ilustrasi
Doc/ Study.com

ilustrasi - Studi: lesbian dan Heteroseksual lebih berisiko terkena penyakit jantung.

HELOINDONESIA.COM - Peneliti di Prancis menyarankan para pakar kesehatan jantung untuk menanyakan orientasi seksual pasiennya selama pemeriksaan. Hal ini berkaitan dengan hasil penelitian yang baru saja mereka terbitkan.

Rekomendasi ini sendiri berdasarkan dari sebuah penelitian yang menemukan bahwa wanita lesbian dan biseksual berisiko lebih tinggi terkena penyakit jantung daripada rekan mereka yang heteroseksual. Sementara itu, laki-laki gay memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan laki-laki heteroseksual pada usia yang sama.

Para petugas medis menyebut, mengetahui orientasi seksualitas pasien dapat 'membantu meningkatkan' perawatan kesehatan yang akan diberikan kepasa pasien. Memang, menanyakan orientasi seksual pasien bukanlah hal lumrah. Namun dibidang medis, orientasi sensual seseorang ternyata mempengaruhi risiko penyakitnya.

Baca juga: Aplikasi SATUSEHAT Mobile Bisa Pantau Detak Jantung, Suhu Tubuh, Gula Darah

Penulis studi utama, Dr Omar Deraz, seorang kandidat PhD di Universite Paris Cite di Prancis, mengatakan: 'Meningkatkan kompetensi budaya dan kesadaran akan risiko penyakit kardiovaskular di antara orang dewasa minoritas seksual dapat membantu meningkatkan komunikasi antara dokter dan pasien tentang kesehatan kardiovaskular, termasuk pencegahan dan pengelolaan.

“Memahami dan mengatasi hambatan terhadap akses perawatan kesehatan sangat penting untuk meningkatkan pencegahan dan perawatan penyakit kardiovaskular pada minoritas seksual.” Ujarnya dikutip dari Dailymail.

Dalam studi tersebut, peneliti mengamati 170.000 orang warga Prancis yang berusia sekitar 46 tahun. Dari 91.000 wanita, 93 persen mengatakan mereka heteroseksual sementara 3,5 persen mengatakan mereka biseksual dan satu persen diidentifikasi sebagai lesbian. Sementara, dari 78.550 pria, 90 persen mengaku heteroseksual, 3,5 persen mengaku biseksual, dan tiga persen mengaku gay. Di kedua kelompok, sekitar tiga persen peserta menolak menjawab.

Setiap peserta kemudian ditanya tentang faktor kesehatan jantung, termasuk pola makan, aktivitas fisik, status merokok, tidur, indeks massa tubuh (BMI) dan data dari tes darah. Angka-angka tersebut kemudian digunakan oleh para ilmuwan untuk menghitung skor kesehatan jantung mereka menggunakan metode yang dirancang oleh American Heart Association.

Baca juga: PeduliLindungi Berubah Jadi SATUSEHAT Mobile, Fitur Baru Bisa Cek Jantung, Gula Darah

Hasilnya menunjukkan bahwa, di antara wanita, mereka yang lesbian atau biseksual memiliki skor kesehatan jantung yang lebih rendah daripada rekan-rekan mereka yang heteroseksual. Namun di antara wanita yang pernah hamil, mereka yang berstatus minoritas seksual memiliki skor kesehatan jantung yang lebih baik.

Untuk pria, mereka yang diidentifikasi sebagai gay memiliki skor kesehatan jantung yang lebih baik daripada rekan-rekan mereka yang heteroseksual. Para peneliti menyarankan bahwa orang dari minoritas seksual mungkin berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan jantung karena masalah kesehatan mental.

Ini berada pada tingkat yang lebih tinggi dalam kelompok, kemungkinan karena tekanan masyarakat, dan dapat mendorong perilaku koping yang tidak sehat, seperti minum lebih banyak alkohol, merokok, dan gaya hidup yang tidak banyak bergerak.