Helo Indonesia

Otaknya Labil, Sikapnya Berubah-ubah, Pandangannya Sinis, Psikolog UI Ungkap Alasan Orang Mudah Stres

M. Haikal - Ragam -> Kesehatan
Rabu, 29 Oktober 2025 19:23
    Bagikan  
Stres
Foto: pexels

Stres - Healing journey ini bukan sekadar produk, tapi bagaimana tubuh kita bisa merespon suatu permasalahan di sekitar kita.

HELOINDONESIA.COM - Diprediksikan, dalam beberapa tahun ke depan, yang bisa lebih sukses itu bukan cuman orang yang mengerti atau expert di bidangnya.

Tapi dia juga memahami teknologi artificial inteligent (AI). Yang harus dipahami tentu literasinya gimana atau penggunaannya itu seperti apa.

"Ini kan hal-hal yang baru terjadi. Tapi makin lama makin tajam dan ini yang membuat perubahan kondisi semakin cepat," papar psikolog.dari UI, Saskhya Aulia Prima seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Rabu (29/10/2025).

Beberapa contoh perubahan cepat itu semua orang mungkin sudah tahu bahwa angka pengangguran makin naik.

Baca juga: Tanggul Kali Bodri Masih Kritis, Warga Kebonharjo Mengadu ke Ketua DPRD Kendal

"Karena itu kemampuan kita belajar cepat dan beradaptasi harus lebih cepat banget," tambahnya.

Dikatakan Saskhya bahwa kita butuh teknikal-teknik plus skill yang banyak.

Menurutnya, memang zaman saat ini lebih advances dibanding dengan zaman milenial dulu atau sebelumnya.

"Dunia kerja saat ini udah enggak laku lagi atau enggak bisa kita memandang situasi kerjaan, cara belajar karyawan, cara belajar kita sendiri dengan hal-hal yang dulu," jelasnya.

Karena memang, sambungnya, saat ini banyak orang lebih pintar. Apalagi didukung dengan informasi yang lebih banyak.

Baca juga: Ditunggu Warga dan Ditantang Mahasiswa, Prabowo Batal Panen ke Lampung

"Dengan cepatnya perubahan tersebut sebenarnya kalau secara di level manusia gitu ya otak kita itu senang banget sama sesuatu yang terprediksi sebelumnya," urainya.

Dengan kondisi demikian akan membuat kita tenang. Sesuatu yang berubah-ubah, sesuatu yang berganti-ganti itu tuh bikin otak stres.

"Tidak ada pattern yang bisa ditangkap. Zaman sekarang ini yang konsisten adalah sesuatu yang inkonsisten," tambahnya.

Karena itu, sambung Saskhya, kita harus terbiasa dengan inkonsistensi.

Baca juga: Panen Kedelai di Lampung Utara Jadi Simbol Kolaborasi Pemerintah dan TNI Wujudkan Kedaulatan Pangan Nasional

"Itu memang berat banget karena melawan nature kita. Makanya teman-teman yang zaman sekarang itu lebih mudah untuk stres. Mengalami kelelahan secara mental dan fisik," ujarnya.

Saskhya menggambarkan seseorang yang stres itu memandang sesuatu dengan sinis atau jadi pengin enggak bersinggungan lagi dengan hal-hal yang dikerjakan.

Tak hanya itu, lanjutnya, kita juga sering terjebak hustle culture.

"Kita pinginnya saingan terus kayak kerja terus gitu. Sementara secara fisik dan mental seseorang ada batasannya," jelasnya.

Baca juga: Tim Pakar USM Kaji Inovasi Smart Battery Management System Milik ITB

Kemudian digital fortigue. Dengan kondisi yang sangat melelahkan capek banget biasanya kita enggak sadar dengan kondisi di lingkungannya.

"Orang-orang di zaman digital tanpa disadari ternyata ngaruh banget di kita misalnya double speed watching, terus kita bangun pagi lihatnya notification atau misalnya kita gampang banget ganti-ganti screen," jelasnya.

Kondisi tersebut tentu berkontribusi terhadap masalah mental seseorang. Tanda-tandanya fokus mulai menurun.

"Kita juga jadi lebih sering merasakan capek dan lain sebagainya," tandasnya.