Helo Indonesia

Jejak Kemanusiaan Unila di Aceh Tamiang, IPA Mobile ITB di Langsa

Herman Batin Mangku - Ragam -> Kesehatan
Minggu, 11 Januari 2026 05:44
    Bagikan  
BENCANA ALAM
HELO LAMPUNG

BENCANA ALAM - DONASI - IPA Mobile ITB di Langsa, tim medis Unila di Aceh Tmiang. | dok. ITB/Unila/Muzzamil/Helo Indonesia

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Duka bencana Sumatra juga memantik ruh Tri Dharma Perguruan Tinggi terpanggil misi kemanusiaan. Salah satunya, ulang sukses 2018 kirim Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mobile saat gempa Lombok, NTB; Institut Teknologi Bandung (ITB) berkirim bantuan senada dukung pemenuhan kebutuhan air bersih penyintas terdampak bencana di Kota Langsa, pun Unila kirim tim medis ke Aceh Tamiang, Desember 2025.

Dari Bandung pas momen HUT RI 2018 lalu, sivitas ITB saat itu mengirim IPA Mobile ke lokasi terdampak dua kali gempabumi: gempa darat 6,4 Mw 29 Juli 2018 pukul 06.47 WITA, episentrum 47 Km timur laut Mataram kedalaman 24 Km, guncangan terasa di Lombok, Bali, Sumbawa,; disusul gempa tektonik 6,9-7 Mw 5 Agustus 2018 pukul 18.46 WITA menewaskan 500 orang.

Gempa, ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB saat itu (kini mendiang) Sutopo Purwo Nugroho, bersumber dari aktivitas sesar naik Flores di kedalaman 15 Km pada 18 Km barat laut Lombok.

ITB memutuskan berkirim IPA Mobile bantu atasi krisis air bersih: ubah sumber air keruh jadi air layak minum, penuhi kebutuhan air bersih dan MCK penyintas, ujud komitmen penanganan kondisi darurat dan dukung pemulihan pascabencana, dan pengabdian kepada masyarakat via teknologi tepat guna.

ITB mengirim IPA Mobile kapasitas produksi 18.000 liter air bersih per jam setara 5 liter per detik, cukup buat 500 KK (setara 2 ribu jiwa dalam kondisi normal) hingga 5 ribu jiwa (kondisi darurat) ini, melalui Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), join dengan Yayasan Solidarity Forever, dan produsen PT Tekno Mas Tirta.

PIC program, Dr Bagus Budiwantoro dari Kelompok Keahlian Perancangan Mesin FTMD ITB, Agustus 2018 bilang, perangkat dirancang portabel untuk digunakan di wilayah dengan keterbatasan akses air bersih pun kondisi darurat, untuk kebutuhan penduduk yang belum memperoleh layanan PDAM, dengan sumber air baku sungai, danau, situ, atau embung. Perangkat efektif beroperasi setibanya 22 Agustus 2018.

Kali ini, dari Bandung 2025, ITB berkirim perangkat serupa berkapasitas lebih kecil, yakni IPA Mobile kapasitas produksi 2 liter per detik atau 7.000 liter per jam, mampu cukupi kebutuhan 200 KK setara 800 orang dalam kondisi normal, dapat ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1.200 hingga 1.600 orang pada kondisi darurat.

PIC program masih orang yang sama, kali ini telah guru besar, Prof Dr Bagus Budiwantoro menjelaskan poin teknis kebermanfaatan semirip. Nun pengiriman kali ini kerja sama Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB di bawah koordinasi Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi plus FTMD, Ikatan Alumni ITB, Rumah Amal Salman (RAS), Yayasan Pembina Masjid Salman ITB, serta Yayasan LAPI ITB.

Adapun teknis cara kerja IPA Mobile hasilkan air bersih ini antara lain melalui proses awal pengolahan air sungai atau sumber air baku lain yang kotor tak layak konsumsi, dipompa masuk ke dalam unit IPA.

Lalu ditambahkan zat koagulan, bahan kimia untuk mengikat kotoran-kotoran kecil di situ, dan menggumpalkan partikel-partikel halus (koloid) penyebab kekeruhan (lumpur, tanah liat, alga), diubah menjadi gumpalan besar (flok atau koagulum) sehingga lebih mudah dipisahkan lewat proses pengendapan (sedimentasi) atau penyaringan (filtrasi).

Dikenal dalam pengolahan air bersih dan air limbah (memisahkan partikel tersuspensi) bahkan dalam proses pembekuan darah (dilepaskan saat luka untuk memulai proses penggumpalan); kerja koagulan ini: bikin partikel saling tarik menarik, menggumpal.

Tugas zat inilah, menetralkan muatan listrik partikel halus yang antar partikel dalam air itu lazimnya saling menolak sebab sama muatan listriknya (umumnya negatif).

Zat koagulan yang bermuatan berlawanan ditambahkan untuk netralkan muatan. Usai netral, partikel kecil jadi labil, saling tarik menarik, bergabung bentuk gumpalan lebih besar lebih berat yang disebut flok tadi itu.
Prosesnya disebut flokulasi atau koagulasi. Flok lebih besar itu lebih mudah dihilangkan dari cairan via proses sedimentasi/filtrasi.

Di keseharian, dikenal koagulan organik misal polimer sintetik atau alami (misal biji kelor), dan koagulan anorganik misalnya Aluminium Sulfat (tawas), Ferric Chloride, dan Poly Aluminium Chloride (PAC).

Bagus bilang, IPA Mobile dikirim ini mampu mengolah berbagai jenis sumber air baku sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah (PP) 82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Pun air hasil pengolahan telah memenuhi standar air minum berdasar Permenkes 492/2010.

Walau begitu, "Masyarakat tetap kami anjurkan untuk memasak air sebelum dikonsumsi, mengingat proses distribusinya menggunakan wadah yang kebersihannya tak sepenuhnya dapat dijamin," ujar Bagus, perangkat hasil pengembangan kolaboratif tim lintas keahlian di ITB itu diharapkan bisa digunakan optimal bantu penuhi kebutuhan air bersih penyintas dan dukung pemulihan.

Tercatat, perangkat telah diberangkatkan via darat Bandung-Jakarta menuju Pelabuhan Tanjung Priok (19 Desember) lanjut via laut didaratkan di Lhokseumawe, 24 Desember 2025 lalu. Setibanya, berdasar koordinasi OPD penanganan bencana setempat, ditempatkan di Taman Krueng Langsa bersumber air baku Sungai (Krueng) Langsa. Air hasil pengolahan didistribusikan pakai mobil tangki ke posko-posko pengungsian.

Sesuai rentang dengan fase pemulihan pascabencana dan kebutuhan warga di pengungsian, IPA Mobile ITB ditarget beroperasi hingga Maret 2026 mendatang.

Tim Medis Unila Cus 12 Desember

Terpisah sebelumnya, mengangguki arahan direktif Presiden Prabowo Subianto dilatari kekurangan tenaga medis nyaris di seluruh wilayah atau 53 kabupaten/kota tiga provinsi terdampak banjir bandang longsor 21-26 November 2025 akibat infrastruktur dan aktivitas lumpuh total tak terkecuali para tenaga medis, tenaga kesehatan (nakes).

Orang nomor satu di Indonesia itu lantas menginstruksikan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, Teknologi (Kemendiktisaintek) terjunkan tim dokter magang (internship) dan nakes PTN guna bantu tangani penyakit pascabencana seperti diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan penyakit kulit.

Dari Lampung, Unila bergerak. Ditandai senam pagi dan doa bersama serta galang donasi kemanusiaan lingkup sivitas dipimpin Rektor Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng., kampus negeri tertua di Bumi Ruwa Jurai ini melepas keberangkatan Tim PKM Tanggap Darurat Bencana Unila dari halaman belakang gedung Rektorat, kampus hijau Gedongmeneng, Rajabasa, Bandarlampung, Jum'at (12/12/2025).

Bertugas sepekan pertama terhitung sejak tiba, tim ini ujar Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan, Dr Habibullah Jimad, terdiri dua dokter umum, satu dokter spesialis, satu bidan, dua perawat, enam mahasiswa koas; dari Fakultas Kedokteran (FK) Unila.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FK Unila, dr. Rasmi Zakiah Oktarlina, S.Ked., M.Farm, ketua tim; didampingi Dr. dr. Syazili Mustofa, S.Ked., M.Biomed., Terza Alfika Happy, S.Keb., Bd., M.Ked.Trop, dan Andriansyah, S.Si., M.Biomed (ketiganya dosen), nakes Klinik Unila, Ns. Delta Farid Pradata dan Rika Pratiwi, A.Md.Keb., S.KM.

Mahasiswa koas: Aina Wijdan Chairunisa, Bilal Achmad, Christoforus Prabowo, Desvira Ayu Putrianta, Faridi Pani, dan Nixon Steven.

“Mudah-mudahan Tim PKM Tanggap Darurat Bencana Unila ini bisa laksanakan tugasnya dan memberikan manfaat untuk saudara-saudara kita di sana,” pidato Rektor Lusy saat pelepasan, merujuk Kabupaten Aceh Tamiang, lokus dituju.

Bertolak Ahad (14/12/2025), per koordinasi dengan Universitas Teuku Umar dan Dinkes setempat, tim menempati posko kesehatan yang butuh tambahan nakes pelaksana program respons kesehatan komprehensif.

Tak cuma berkirim nakes, Unila jua langsung salurkan donasi hasil galang 12 Desember 2025 total Rp60 juta, disetor ke rekening tiga penerima: Universitas Teuku Umar, Aceh); Universitas Sumatera Utara (USU), Medan; Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Sumatra Barat; masing-masing Rp20 juta sebagai bagian kolaborasi antarperguruan tinggi untuk disalurkan ke warga penyintas.

"Semoga bantuan ini dapat bermanfaat dan meringankan beban masyarakat terdampak, dukung percepatan penanganan darurat dan pemulihan awal bagi masyarakat yang terdampak,” ujar rektor, sesuai dinamika kebutuhan lapangan, Unila terus galang salur donasi kemanusiaan, beberapa tapak.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi, Prof. Dr. Ayi Ahadiat, M.B.A, mengimbukan, dukungan moral dan semangat jua Unila gelorakan melalui Posko ULT Unila, tempat koordinasi tim bencana libatkan berbagai pihak di antaranya dosen Amril, dosen FISIP Unila Gita Paramitha Djausal, dosen FK Unila dr. Syazili, Unit Kegiatan Mahasiswa Korps Suka Rela (KSR) PMI Unila, dan relawan lainnya.

Kang Ayi sapaannya menyebut upaya itu, langkah berkesinambungan Unila untuk terus hadir ringankan beban penyintas bencana Sumatra, dan perkuat solidaritas akademika dalam penanggulangan bencana.

Dari Aceh Tamiang, Ketua Tim PKM Tanggap Darurat Bencana Unila, dr. Rasmi Zakiah Oktarlina melaporkan, timnya melakukan mobilisasi pelayanan kesehatan di wilayah terdampak di sini, 15–16 Desember 2025.

Layanan diberikan, sesuai prediksi rerata keluhan penyakit diderita terutama yang umum muncul di lingkungan terdampak bencana seperti penyakit kulit, ISPA, dan gangguan saluran cerna.

Seperti dua tim kecil ia komandoi. Rasmi —bareng perawat Delta Farid Pradata, bidan Rika Pratiwi, dokter muda Faridi Pani, serta mahasiswa koas Christoforus Prabowo dan Aina Wijdan Chairunisa (mahasiswa); yang diterjunkan di posko kesehatan di Gampong (Desa) Sekerak, Kecamatan Sekerak dan Desa Upah, Kecamatan Bendahara. Ragam keluhan penyakit diderita warga, ya itu.

Hari pertama 40 terlayani di Posko Sekerak, 21 laki-laki 19 perempuan, dengan keluhan ditangani infeksi kulit (dermatitis, tinea corporis, tinea cruris, tinea pedis); gangguan pernapasan (common cold 3 kasus, faringitis 6 kasus, ISPA 3 kasus), keluhan lain dari hipertensi, konstipasi, 3 kasus luka robek, mialgia, migrain, osteoartritis hingga vertigo.

Hari kedua lanjut di Posko Gampong Upah, tim kedua dikomandoi seorang dokter dan dokter muda lakukan layanan rawat jalan total 65 warga (40 laki-laki, 25 perempuan).

Kasus ditangani, terbanyak ISPA dan GEA (gastroenteritis akut/diare) masing-masing 13 kasus, hipertensi 11 kasus, dan faringitis akut 8 kasus. "Selain itu, tim menangani trauma luka, asma, osteoartritis, gingivitis, hingga vulnus laceratum," terang Rasmi, kehadiran mereka didukung penuh Dinkes dan Tim HEOC setempat.

Di sudut lain, terpisah sebelumnya, "kisah kasih" kemanusiaan senada terhadap sesama umat Allah yang sedang diberikan cobaan bencana, jua ditunjukkan seseorang berkebangsaan Palestina, Raed Arada, yang berkebetulan juga salah satu alumnus Unila.

Bareng Imran rekannya, seorang mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Raed salurkan paket donasi kemanusiaan terhimpun Brand Pasar Palestina dan Majelis Ta’lim Baitussyakirin: makanan siap santap, perlengkapan mandi, peralatan kebersihan (hygiene kit), dan uang tunai; langsung ke titik-titik terdampak, 3–7 Desember 2025.

Pemuda yang baru saja kelar S2 UI Jakarta ini mengaku memahami betul bagaimana perasaan warga penyintas bencana Sumatra yang terpaksa harus kehilangan rumah, harta benda bahkan nyawa orang-orang terdeka, juga rasa aman akibat bencana.

Pengalaman didera kehilangan dan segala keterbatasan di tanah kelahiran, itulah latar alasan terkuat dia dibalik aksi kemanusiaan yang ditempuhnya. Belum berkesempatan bantu langsung keluarga dan rakyat negeri kampung halamannya itu sekurun dua warsa terakhir akibat genosida zionis Israel, bikin Raed terketuk empati tergerak kaki gegas putuskan terjun bantu penyintas bencana Sumatra. "Saudara tidak sedarah"nya.

“Selama ini saya belum bisa bantu langsung di Gaza. Ketika di Indonesia terjadi bencana, semaksimal mungkin saya ingin sekali bantu saudara-saudara saya di sini,” tutur dia, ada banyak donatur mengontak buat titip donasi terpaksa dia tolak ulah keterbatasan tenaga, waktu, dan bentang alam ekstrem wilayah terdampak nann lumpuh total. Jalan lumpuh, jembatan putus, listrik dan internet mati.

Kepiluan Raed saat menembus medan sulit demi tunaikan amanat kemanusiaan ini, dia sebut juga sempat mengingatkannya akan kondisi Gaza, keluarga, kerabat, dan rakyat Palestina umumnya yang kehilangan rumah, harta benda, bahkan kehidupan yang layak. Dirudapaksa menahun zionisme Israel.

Empati mengkristal tekad terkepal, "Langkah kemanusiaan ini juga bentuk solidaritas dan rasa terima kasih saya kepada Indonesia yang selama ini tak pernah diam dukung bantu rakyat Palestina. Saya terpanggil balas kepedulian itu, dengan hadir bantu masyarakat Indonesia saat landa musibah," ujar dia, berharap semangat kepedulian sosial antar kedua negara ini terus terjaga, ada tak ada bencana.

Sementara, hingga H+42 pascabencana, merujuk pembaruan data dinamis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per data Rabu (7/1/2026) pukul 21.30 WIB, jumlah korban tewas bencana Sumatra telah mencapai 1.178 jiwa. Masih hilang 147 jiwa.

Dari total 3,3 juta jiwa terdampak di total kini 53 kabupaten/kota, total penyintas yang terpaksa harus mengungsi masih tersisa 238,5 ribu jiwa. Terbanyak di Kabupaten Aceh Tamiang, 74,7 ribu jiwa.

Duka Sumatra bukan cuma duka ITB, bukan cuma duka Unila, bukan cuma duka Raed. Duka Sumatra, duka dunia. Hutan hujan tropis Sumatra adalah paru-paru dunia. Terganggunya itu, tak cuma celaka duabelas tetapi alamat bisa celaka dunia. (Muzzamil)