Helo Indonesia

Strategi Perang Supit Urang di Meja Makan Jokowi dan 3 Capres

Annisa Egaleonita - Lain-lain
Jumat, 3 November 2023 05:57
    Bagikan  
Strategi Perang Supit Urang di Meja Makan Jokowi dan 3 Capres

Gufron Aziz Fuadi

Oleh Gufron Aziz Fuadi

ORANG Indonesia, utamanya Jawa, kaya dengan bahasa simbolik. Bentuk raga wayang menggambarkan simbol simbol tertentu yang berbeda satu sama lain. Macam macam motif batik pun memiliki filosofi dan simbol tertentu dari siapa yang boleh menggunakan suatu motif dan kapan waktunya.

Begitupun makanan, seperti lepet dan kupat (ketupat) yang selalu menyertai lebaran. Sehingga terasa belum lebaran kalau tidak ada ketupat dalam menu makanan hari raya.

Ada cerita seorang suami yang beristrikan wanita Jawa, yang dalam suatu perjalanan, saat melewati rumah makan, istrinya bilang,"Mas lapar nggak?". "Nggak," kata suaminya.

Pertanyaan yang sama beberapa kali dilontarkan sang istri saat melewati rumah makan hingga mereka sampai di rumahnya.

Baca juga: FGII Ungkap 3 Masalah Besar Tewasnya Pelajar Akibat Tawuran

Begitu sampai di rumah, istrinya dengan gemetaran segera mencari makanan saking laparnya, akibat suami tidak pandai membaca bahasa simbol dari istrinya yang sedang kelaparan.

Oleh karena itu, tidak heran bila makan siang Presiden dengan ketiga capres kemarin dari mulai baju yang dikenakan, makanan yang ditawarkan kepada masing masing capres oleh presiden sampai posisi tempat duduk mereka diperbincangkan makna simboliknya.

Diantara yang paling banyak disoal adalah posisi tempat duduk yang ditengarai sebagai model gelaran pasukan supit urang atau capit udang.

Saya tidak tahu apakah mereka duduk secara bebas atau tempat duduk itu sudah diatur lebih dahulu oleh Paspampres atau protokol istana. Dimana posisi presiden berseberangan atau berhadapan langsung dengan Anies, sedangkan Ganjar disisi kanan dan Prabowo disisi kiri presiden.

Dalam bahasa Jawa, Supit berarti jepit atau penjepit. Sementara urang adalah udang. Capit urang adalah strategi perang yang populer dalam perang di Jawa.

Baca juga: Jateng Bersholawat Bersama Az-Zahir d Demak, Pj Gubernur Jateng Ajak Masyarakat Cerdas Memilih

Cara perang ini sering digunakan oleh pasukan Majapahit, oleh Panembahan Senopati dari Mataram, pangeran Diponegoro dan oleh Jendral Sudirman dalam Palagan Ambarawa yang memukul mundur pasukan Sekutu dan Nica.

Hardjowirogo dalam buku Sejarah Wayang Purwo menulis, Siasat perang ini merupakan siasat perang yang menyerupai seekor udang dengan kedua supitnya. Siasat perangnya menggunakan gerak-gerik yang amat teliti, karena pemimpin selalu mengetahui serangan musuh yang akan dilawan dengan siap sedia. Dengan ketangkasan supitnya, musuh akan mendapat bahaya.

Cara ini digunakah oleh Pandawa dalam perang Baratayudha, dimana Drustajumena bertindak sebagai ujung supit kanan, dan Gatotkaca memimpin supit kiri, Raden Setyaki sebagai mulut, dan Prabu Darmaputra berada di kepala, diiringi oleh para raja pembantu. Abimanyu (Angkawijaya) berada di sungut. 

Intinya seperti yang dilakukan oleh Jenderal Sudirman saat menyerang sekutu. Yang mendobrak musuhnya dari arah depan dan secara serentak atau bersamaan menjepit dari arah Selatan dan Barat sehingga sekutu tidak punya jalan lain kecuali mundur kearah Timur.

Karena itu tidak sedikit orang yang mencoba membaca posisi duduk pada makan siang tersebut sudah diatur sedemikian rupa sehingga yang pro perubahan ada diseberang dan yang pro melanjutkan adalah (capit) kanan kirinya yang tidak terpisah dari induknya.

Tetapi saya berhusnudzan, bahwa tempat duduk itu tidak diatur sebelumnya, melainkan duduk secara bebas. Mungkin saja Anies agak belakangan masuknya keruangan sehingga kursi disebelah kanan kiri presiden sudah terisi yang lain.

Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)