Helo Indonesia

Semangat Hari Kebangkitan Nasional di Era Nitizen

Annisa Egaleonita - Lain-lain
Jumat, 19 Mei 2023 10:39
    Bagikan  
Prof. Sudjarwo

Prof. Sudjarwo - (Foto Ist.)

Oleh Sudjarwo*

TEPAT hari Sabtu, 20 Mei 2023, adalah peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), hari tumbuhnya kesadaran nasionalisme para pemuda Nusantara. Setelah l05 tahun, pertanyaannya untuk siapa peringatan kebangkitan nasional itu?

Pertanyaanya kemudian, kenapa harus dipertanyakan? Akhir-akhir ini, semangat nasionalisme itu terkesan tidak terinternalisasi dengan baik kepada generasi penerusnya. Tidak semua generasi milenial paham terhadap semangat kelahirannya.

Ketika ada yang bertanya kepada 10 pelajar SLTA tanggal berapa Harkitnas? Yang menjawab dengan benar, hanya satu orang. Terlepas dari kesahihan metodologi dan sample, fenomena tersebut cukup buat menunjukkan keprihatinan kita.

Rasa nasionalisme kebangsaan sebagai Bangsa Indonesia tampaknya perlu diperhatikan dengan serius oleh semua pihak, bukan insan pendidikan saja. Bisa dibayangkan jika internalisasi hafalannya saja banyak yang sudah tak tahu, bagaimana dengan aplikasi nilai-nilainya?

Bukan hal yang mustahil, di satu masa, bangsa ini akan tercerabut dari sejarahnya sendiri. Indikasinya sudah bertebaran dimana-mana, terutama di layar media sosial sebagai alat penduga awal.

Komentar-komentar tentang rasa nasionalisme sudah sangat sedikit sekali, justru yang ada adalah merbaknya paham individualis dan hedonis.

Negara tidak melarang orang senang, karena kesenangan adalah hak asasi namun bagaimana mengekspresikan kesenangan agar tidak mengganggu kepentingan umum yang lebih besar dan utama.

Negara tidak melarang warganya menjadi orang kaya, hanya bagaimana mengekspresikan kekayaan itu agar bermanfaat bagi orang lain, bukan membuat cideranya perasaan orang lain.

Sikap dan perilaku nasionalisme terhadap negerinya, terutama bagi generasi penerus, perlu dicarikan formulasi agar proses internalisasi nilai-nilai dapat berlangsung efektif sesuai dengan tuntutan zamannya.

Jangan sampai, kita kelak tidak disalahkan karena kealpaan kita untuk mengajari mereka pentingnya rasa nasionalisme untuk negeri ini.

Kita tidak perlu terbawa perasaan dalam menyikapi perkembangan rasa nasionalisme pada akhir-akhir ini, sebab bisa jadi kondisi ini terjadi karena sumbangan kita terhadap mereka sehingga mereka jadi seperti ini.

Diantaranya kita merasa berkuasa sehingga bisa mengatur apa saja kepada siapa saja; begitu berhadapan dengan anak muda yang berbeda nilai dan jamannya, kita seolah-olah kebakaran jenggot.

Padahal mereka sudah tidak takut lagi dengan kekuasaan ala Orde Baru. Mereka manusia bebas yang normanya sudah sangat berbeda dengan kita.

Nasionalisme tidak sama dengan patriotisme. Kedua kata ini biasanya digunakan dengan cara yang sangat samar. Tetapi harus ada perbedaan antara keduanya, karena dua ide yang berbeda dan bahkan berlawanan itu sangat terlibat perbedaannya.

Dengan ‘patriotisme’ dimaksudkan pengabdian kepada tempat tertentu dan cara hidup tertentu, yang mana dipercayai sebagai yang terbaik di dunia tetapi tidak memiliki keinginan untuk memaksa orang lain.

Pandangan ini bersemi di konsep kepala para milenial kita, sehingga memaknai sesuatu bisa bersifat transnasional. Mereka tidak perlu jumpa tetapi begitu sama frekuwensinya, maka mereka berubah jadi nitizen.

Inilah kewarganegaraan baru bagi mereka yang jika tidak kita bina rasa nasionalismenya, maka mereka akan lepas dari kendali ideology negara ini.

Perpektif mereka tidak lagi mengenal lokasi daerah atau waktu, mereka hanya mengenal kesamaan frekuensi, yang ini menembus batas apapun yang manusia miliki.

Oleh karena itu bekal rasa nasionalisme dalam arti keindonesiaan adalah sesuatu keharusan, jika negeri ini ingin selamat dari keberlanjutan generasi.

Banyak negara-negara lain di luar sana yang iri dengan kita, ada yang ingin belajar dalam pengelolaannya, tetapi tidak sedikit yang ingin menghancurkannya. Upaya sistematis mereka lakukan untuk mencapai kehendak mereka akan negeri ini.

Oleh karena itu, sebelum terlambat tidaklah salah jika mempersiapkan semuanya saat ini guna menghadapi mereka; salah satu diantaranya dengan cara memperkuat rasa nasionalisme kepada generasi penerus kita.

Adapun metoda dan caranya, mari kita rumuskan bersama tanpa harus menjadinya proyek yang siap untuk dikorupsi.


* Guru besar Ilmu-Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila