Oleh: Sudjarwo*
SAYA beruntung sempat mendengarkan langsung pidato kenegaraan Proklamator dan Presiden Pertama RI Ir. Soekarno pada HUT Kemerdekaan RI. Walau lewat radio tabung, kesannya melekat hingga kini, vokalisasi maupun nilai-nilai yang disampaikannya.
Mereka yang lahir satu periode dengan kelahiran penulis walau kala itu masih kecil tentu punya kesan yang sama, bagaimana gayanya yang khas berapi-api beretorika bagai aktor panggung yang sedang memerankan tokoh Hamlet dalam karya William Shakespeare.
Rakyat selalu antusias ingin mendengarkan langsung pidato Presiden Soekarno walau lewat radio dan harus berjalan kaki cukup jauh. Radio pada masa itu barang mewah yang tak semua warga satu desa sekalipun memilikinya.
Radio tabung yang ada pada masa itu merek Philips atau Ralin. Ada juga yang menyebut radio mata kucing karena ada lampu berwarna biru bagai mata kucing dengam batere dalam kotak besar dan memiliki antine yang ditarik ke atas pohon kelapa.
Siempunya rumah dengan ikhlas rumah dan halamannya didatangi orang sekampung untuk mendengarkan radio, bahkan tidak jarang mengeluarkan air teh manis seadanya dengan singkong rebus; tanpa pamrih ini disajikan.
Dalam ingatan penulis bagaimana suara khas itu menggema dengan pemilihan diksi yang tepat, penguasaan massa yang baik, bahasa yang lugas diselingi istilah-istilah bahasa dalam banyak bahasa yang memang beliau kuasai dengan baik.
Pidato kenegaraan Presiden Soekrno membius pendengarnya, melupakan penderitaan hidup karena baru merdeka; semua rakyat seolah terbakar semangatnya. Pidato yang berjudul GANEFO, TRITURA, DWIKORA dan masih banyak lagi; semua seolah membahanakan hati rakyat untuk bangga menjadi ORANG INDONESIA.
Kala itu secara ekonomi negara kita dalam kondisi amat pahit, penulis masih ingat bagaimana kelangkaan pangan yang parah, barang tidak ada di pasar, ada harga tidak ada barangnya.
Banyak rakyat harus makan gadung (umbi beracun makanan hewan hutan), makan jagung adalah makanan mewah saat itu, jangan bermimpi ada beras di pasar, kecuali hasil panen sendiri. Namun rakyat tetap bangga menjadi bangsa Indonesia dengan segala kekurangan itu tidak menyurutkan untuk tetap patuh dan taat pada presidennya.
Menariknya pada waktu itu jika ada perayaan seperti ini anak-anak sekolah dilibatkan, Soekarno paling suka dengan anak-anak sekolah. Saat itu sekolah dasar di sebut Sekolah Rakyat (SR), semua perlengkapan gratis diberikan oleh negara.
Penulis masih ingat mendapatkan Buku Gambar dengan Cap Departemen Pendidikan dan Kebudajaan Republik Indonesia (Ejaan Soewandi), bergambar Garuda. Mendapatkan Batu Tulis atau juga dikenal dengan sabak, dan grif sebagai alat tulisnya; semua diperoleh secara gratis.
Saat itu ada perkumpulan orangtua murid organisasinya disebut Persatuan Orangtua Murid dan Guru disingkat POMG. Oganisasi ini membantu guru-guru yang tidak mendapatkan gaji dari pemerintah dengan mengumpulkan sumbangan beras atau makan pokok lainnya kemudian didistribusikan kepada guru, yang waktu itu disebut Guru Bantu.
Hal yang menarik sampai penulis tamat Sekolah Rakyat tidak pernah terdengar ada korupsi bantuan untuk para guru bantu, semua lancar jaya. Tampaknya Soekarno mampu membius Indonesia saat itu, sekalipun rakyatnya kelaparan, tetapi pemimpinnya tidak korupsi, atau paling tidak jejak itu tidak ditemukan dalam sejarah.
Soekarno sudah lama tiada, banyak tonggak sejarah dipancangkan, salah satu diantarany 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila. Pertanyaan yang tersisa, masihkah ada dalam sanubari bangsa ini untuk bergelora semangatnya membangun negeri?
Pertanyaan ini menjadikan mulut terkunci manakala membaca media sosial akhir-akhir ini. Mari kita bayangkan di negeri ini yang katanya pendidikan sudah dibantu lewat BOS ditambah lagi BOSDA, ada Komite Sekolah; namun masih ada anak didik yang tidak bisa ambil ijasah hanya karena belum bayar Komite Sekolah tujuh juta rupiah.
Berita ini aneh bin ajaib karena Komite Sekolah itu didirikan atau dibuat bukan untuk “mencekik” leher orangtua siswa, tetapi untuk membantu kelancaran pendidikan. Seharusnya ini dibayar dari “honor” sebagai Komite Sekolah, bukan menerima honor tetapi menterlantarkan siswa.
Jika ini yang terjadi tidak salah jika ada suara sayup-sayup terdengar “Bubarkan saja Komite Sekolah”. Masih ada prasarana jalan yang itu merupakan kuwajiban negara dalam hal ini pemerintah, bertahun-tahun seperti kubangan kerbau.
Begitu diingatkan merasa kebakaran jenggot dan salah tingkah; kemudian merespon peringatan dari rakyatnya dengan membusungkan dada, menunjukkan taring.
Sampai-sampai jurnalis yang sedang menjalankan tugasnya harus menanggung disemprot untuk tidak menyiarkan; tanpa sadar bahwa perilaku melarangnya menjadi viral karena diluar nalar normal.
Bagaimana pula ceritanya ada menteri yang seharusnya menjadi pembantu Presiden bisa korupsi Rp8 triliunan anggaran pembangunan BTS. Menjadi pertanyaan, uang sebegitu banyaknya itu untuk apa, untuk siapa, digunakan siapa guna menjadikan siapa.
Karena jika itu untuk kepentingan pribadi, apakah masuk akal; karena uang sebanyak itu bisa untuk memenuhi hajat hidup orang satu provinsi di negeri ini.
Mari dengan semangat 1 Juni kita merenung diri, apa yang sudah kita perbuat untuk negeri ini; apakah kita hanya menjadi benalu bagi negeri ini.
Setiap hari hanya ingin menghisap hasilnya tanpa hirau akan nasibnya. Jika itu yang kita lakukan sudah seharusnya malu diri dengan pendiri negeri ini, yang sudah rela meninggalkan kepentingan pribadinya untuk kemaslahatan bangsanya.
Bagi pemerintah sendiri sudah sangat mendesak Pancasila bukan hanya dijadikan mata pelajaran semata, sudah selayaknya dicarikan formulasi agar nilai-nilai pancasila itu terinternalisasi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.
Jika masa lalu P4 dirasakan sebagai indoktrinasi; maka sekarang harus ada formulasi baru bagaimana membumikan pancasila sebagai nilai-nilai luhur yang memang dimiliki oleh bangsa ini sejak dahulu kala.
Upaya sistimatis, ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan harus segera diwujudkan, sebelum keadaan semakin parah dengan menjamurnya perilaku menyimpang dari asas bernegara yang semakin jauh.
Ir. Soekarno sudah lama tiada dan kita tidak akan dan tidak pernah akan ketemu lagi pemimpin sepertinya, kekurangannya melengkapi kesempurnaannya sebagai manusia. Sebagai penerus semangatkanya, Jangan lupakan sejarah (jas merah). Meminjam istilah anak milenial, 1 Juni, auto rindu Sang Bapak Bangsa.
* Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila
