Oleh Herman Batin Mangku*
HARI ini, seorang guru besar kampus saya, Profesor Sudjarwo menggelar prosesi pelepasan dirinya sendiri sebagai guru besar Universitas Lampung (Unila). Puncak dedikasinya terhadap ilmu pengetahuan dan nilai-nilai etika dan moralitas selama 43 tahun.
Hari ini adalah hari sangat bersejarahnya, hari sangat istimewa, hari yang seharusnya disambut sangat suka cita, penuh kebanggaan seluruh civitas akademika. Sang profesor berusia 70 tahun lebih 11 hari ini (20/5/1953) telah mulus mengabdikan dirinya sejak masuk ke FKIP Unila tahun 1980.
Selama ini, dia juga kerap menyumbangan pemikiran dan keilmuan di sejumlah perguruan tinggi swasta seperti Universitas Muhammadiyah, STKIP PGRI Bandarlampung, dll serta narasumber musrenbang baik kota maupun provinsi.

Prof. Sudjarwo
Mulus dan tak memalukan, sang profesor tak mengakhiri apalagi menghabiskan puncak gelar akademiknya karena memplesetkan kata korupsi jadi infak hingga masuk prodeo dan bikin malu se-Indonesia atau kutak-katik dana penelitian.
Mulus dan tak memalukan kampus dan keluarga besarnya, sang profesor menuntaskan dedikasinya tanpa pernah tercoreng skandal memangku apalagi meraba-raba mahasiswinya.
Mulus dan membanggakan sebagai Kasubag Akademi Kemahasiswaan, Ketua Program Study, Ketua Jurusan, Kepala UPBJJ Universitas Terbuka, dekan dua periode, bahkan pernah menjadi ketua Forum Pimpinan FKIP Negeri se-Indonesia dan terakhir direktur Pascasarjana.
Mulus menambah pengetahuan dan wawasan di Pusat Penelitian Ilmu Ilmu Sosial di Makasar, Univeritas Philipinna Los Banos dan pascasarjana di Universitas Padjadjaran Bandung.
Mulus dan meninggalkan banyak amal jariah mencerdaskan ribuan mahasiswanya, meninggalkan buku-buku ilmu pengetahuan, ikut merancang sertifikasi guru dan dosen pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Team Adhock Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi, Badan Standarisasi Nasional sejak tahun 2003 dan terakhir 2018.

Sketsa kuliah terakhir pada valediktorinya
Sang Profesor yang tak hanya duduk di "Menara Gading", ngintip lokak seseran atau hanya pulang pergi ke kampus mengajar Filsafat Ilmu pada Pascasarjana Unila ini selalu gelisah melihat carut-marut di luar kampus. Profesor Sudjarwo adalah penulis opini aktif di media massa.
Alumni Universitas Sriwijaya yang pernah menjadi guru hingga wakil kepala sekolah ini ingat betul kata punggawa jurnalis Rosehan Anwar ketika dirinya masih bujang,"Hakekat jurnalis tidak bisa diganti dengan apapun, karena itu jiwa dan roh yang menyatu dalam rasa." Yah, di antara ratusan profesor di kampusnya, terselip jiwa seorang "jurnalis".
Sungguh sebuah perjalanan panjang yang tak mudah sebagai akademisi, tembok pertahanan idealisme, ilmu pengetahuan, moral, dan etika sebagai seorang profesor di tengah gelombang nilai-nilai hedonisme, individualistik, dan lainnya yang tak Pancasilais.
Hari ini, Sang Profesor yang dilahirkan dari pasangan gerilyawan yang setelah kemerdekaan RI memutuskan jadi guru sekolak rakyat, M.Sastroatmodjo dan Sumiatu, pamit meninggalkan kampus yang sangat dicintainya lebih dari separuh usianya, detak jantung, jiwa raganya.
Saya belum pernah bertemu langsung dengannya, namun komunikasi via whatsapp beberapa bulan ini tak hanya mendekatkan saya dengannya sebagai pengelola media dan narasumber tapi juga saling mengetahui isi kepala dan hati masing-masing.
Hari ini, "Sang Guru Besar" melepaskan gelar profesor yang melekat dengan namanya sejak 20 tahun lalu, 2007. Di hari pentingnya, saya batalkan agenda ke Kota Metro bersama kawan-kawan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Lampung untuk hadir pada valediktorinya di Aula K FKIP Unila, Rabu (31/5/2023), pukul 14.00 WIB.
Saya harus hadir, walau Sang Profesor sudah sangat siap, mental hingga acara valediktorinya yang disiapkannya sendiri. Tulisan-tulisan ringan dan jenakanya beberapa bulan terakhir tak bisa menyembunyikan kegalauannya menghadapi hari ini dan kondisi sosial akhir-akhir ini.
Coretan terakhirnya di "Helo Indonesia Lampung" berjudul: Saatnya Menepi, Setiap Orang Ada Waktunya, Setiap Waktu Ada Orangnya. Tulisan yang mengingatkan semua orang, terutama pemimpin, agar jangan terjebak urusan dunia, semua akhirnya urusan akherat.
Saya harus hadir mendengar langsung kuliah terakhirnya yang dari draf yang saya peroleh ingin menyampaikan pesan pentingnya: Ilmuwan itu akan bermakna manakala menunjukkan ahlakul kharimah karena puncaknya ilmu itu ada pada adab dan etika.
Ah, saya jadi merasa tak beradab dan beretika jika mengabaikan undangan kehormatan khususnya. Kasihan juga, Sang Profesor meninggalkan kampusnya dibiarkan sendiri. Ibarat jelangkung, datang tak diundang pergi tak diantar.
Begitulah, Unila sebagai pusat ilmu pengetahuan, adab dan moral terbaik se-Lampung, kampus yang masuk terhebat di Indonesia, tak ada tradisi prosesi melepas para guru besarnya.
Profesor Sudjarwo mencoba sendiri, biaya sendiri, mengumpulkan orang-orang kesayangannya sendiri, menyiapkan menu sendiri buat valediktorinya. Dia tak ingin pulang jadi jelangkung di kampusnya, Unila: Datang tak diundang pulang tak diantar.
Rasanya, sungguh tak beradab dan tak bermoral, membiarkannya pulang sendiri. Tenang Profesor, besok Hari Kelahiran Pancasila, teruslah merentangkan sayap dan menjelajah untuk berbuat baik kepada siapapun tanpa pamrih selagi nyawa masih di kandung badan, lewat pikiran dan tulisan. Sukses selalu Sang Jurnalis!
* Pimred Helo Indonesia
