Helo Indonesia

Banyak Pasangan Indonesia Bercerai karena Beda Pilihan Politik dan Judol

Satwiko Rumekso - Lain-lain
Kamis, 21 November 2024 21:01
    Bagikan  
Perceraian
Istimewa

Perceraian - Perceraian di Indonesia karena beda pilihan politik dan judi online

HELOINDONESIA.COM - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar membeberkan data mengejutkan terkait penyebab perceraian di Indonesia.

Salah satu faktor utama adalah maraknya judi online, disusul perbedaan pilihan politik antara pasangan suami istri.

Menurut Nasaruddin, jumlah perceraian akibat judi online mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

“Sebelum marak judi online, jumlah perceraian tahun 2019 itu hanya 1.000-an. Tapi setelah judi online merebak, data terbaru menunjukkan angkanya melonjak hingga lebih dari 4.000 kasus perceraian akibat judi online. Itu yang terdata,” ungkap Nasaruddin, Kamis (21/11), sebagaimana dikutip dari laman resmi Kementerian Agama.

Baca juga: China Masters 2024: Ana/Tiwi ke Perempat Final

Selain itu, perbedaan pilihan politik juga menjadi salah satu penyebab perceraian yang cukup mencolok.

Nasaruddin menyebut, terdapat satu provinsi yang mencatat hingga 500 kasus perceraian akibat pasangan memiliki preferensi politik berbeda.

“Suaminya memilih kandidat A, istrinya memilih kandidat B, lalu cerai. Begitu rapuhnya sebuah perkawinan,” tuturnya.

Menanggapi tingginya angka perceraian, Nasaruddin mendorong Badan Penasehat Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) untuk lebih serius mengkaji data kuantitatif.

Hal ini dinilai penting guna menemukan solusi yang tepat dalam menekan angka perceraian.

“Saya paling suka data angka. Sekarang sudah zamannya kita berbicara dengan data yang konkret,” katanya.

Baca juga: Kabar Terakhir Kesehatan Megawati, Ko Hee Jin Marah Besar

Sementara itu, Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Kamaruddin Amin, menyatakan bahwa mulai tahun 2025, seluruh calon pengantin diwajibkan mengikuti program bimbingan perkawinan sebelum menikah.

Langkah ini diyakini efektif dalam membangun ketahanan keluarga.

“Kami menemukan korelasi signifikan antara bimbingan pernikahan dengan ketahanan keluarga. Pasangan yang mendapatkan pembekalan cenderung memiliki keluarga yang lebih kuat, tidak rentan terhadap perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, atau melahirkan anak-anak stunting,” jelas Kamaruddin.***