Oleh Prof. Sudjarwo*
MINGGU-MINGGU ini, kita dipertontonkan drama kemanusiaan yang tidak manusiawi berjudul “Balada Pulau Rempang”. Semua peristiwa terekam detail pada piranti sosial dunia maya, pembelaan dan sanggahan terus mencari pembenaran.
Seribu dalil dan narasi hukum ditebar. Anak negeri dan penguasa negeri ini saling berhadapan, saling mencari pembenaran sampai lupa catatan kelam negeri ini sejak zaman dulu manakala jadi pelindung oligarki berlebihan akan berujung malapetaka.
Catatan sejarah kelam dari jaman kerajaan dulu kemudian dilanjutkan VOC dan seterusnya. Apakah kita ingin mengkopi dengan tidak mau mengakui, tidak ada pembangunan kawasan yang tidak meminta korban meminggirkan.
Baca juga: Tidak Semua Orang Bisa Mengonsumsi Madu, Inilah Alasan Seseorang Harus Menghindarinya
Sayangnya yang dipinggirkan adalah mereka yang berposisi lemah secara sosial-ekonomi, sehingga pembangunan itu tidak menetes ke bawah, tetapi mengisi pundi-pundi orang tertentu saja.
Memang Rempang jauh jaraknya dari Jakarta, namun gaungnya sudah merambah kemana-mana. Semula banyak orang berharap pada pemerintahan ini yang tinggal menghitung hari akan berakhirnya periodesasi, menutupnya dengan khusnulkhotimah.
Tampaknya jauh panggang dari api, karena “panas setahun akan musnah dengan hujan satu hari” bak pepatah melayu, tampaknya itu bisa menjadi kenyataan jika pendekatan: tekan, gusur, paksa lebih dikedepankan, dibandingkan dengan pendekatan manusiawi.
Perintahnya apa, pelaksanaannya bagaimana, itu gambaran narasi mantan orang tertinggi di angkatan perang negeri ini melihat peristiwa Rempang.
Pimpinan tertinggi negeri ini tampaknya sudah ditelikung oleh para pembantunya sendiri, karena sebentar lagi bakal masuk barisan “Laskar Tak Begune”, sehingga waktu yang tersisa dimanfaatkan untuk mengejar ”ikan kakap di sungai dalam".
Baca juga: Dugaan Korupsi BLT Sumberejo, Inspektorat Lamtim Kirim Surat ke BRI Wayjepara
Tetapi, ada yang tersisa dari itu semua, biasanya anak muda negeri ini sensitif dan proaktif manakala ada kesewenang-wenangan terjadi di Bumi Pertiwi.
Tetapi saat ini mereka sibuk dengan hal remeh temeh di sekitar dirinya saja. Apakah ini dampak dari "belajar merdeka" tentu saja masih perlu kajian yang lebih dalam.
Justru yang sibuk memberikan perhatian adalah seorang pemuka agama yang selama ini diposisikan sebagai oposisi dengan sigap beliau membagikan sepinggan nasi untuk anak negeri yang korban demontrasi. Tapi apa yang dia terima, harus dipanggil polisi.
Memang ternyata benar pesan para Pepunden kita dulu…”hati-hati yang menarik itu belum tentu baik, jangan tinggalkan yang baik demi yang menarik”…. Atasnama investasi kita bisa lupa diri tega kepada anak negeri, hanya karena investasi kita tega menendang priuk-nasi penunggu negeri.
Mengembangkan negeri dengan memajukan ekonomi, itu sangat dianjurkan dan tidak salah. Persoalannya ada pada bagaimana meningkatkan ekonomi tidak harus dengan mengusir anak negeri dari tempatnya berpijak.
Baca juga: Mahasiswi Asal Mesuji Buang Bayi Kembar ke Sungai di Yogyakarta
Mengusir jangan disulihgantikan dengan memindahkan, itu hanya mengganti fonem dalam berbahasa, tetapi ber-esensi sama, senangnya di sana, sakitnya di sini. Memang kemajuan ekonomi dan kesejahteraan itu beriring dalam berjalan, namun bukan bermakna satu di siring yang lain di jalan.
Pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan harus diposisikan sama dan sebangun, tidak dengan harus saling membunuh atau membatalkan. Mari duduk bersama dengan kepala dingin mencari solusi dengan tidak saling memaksakan kehendak satu sama lain.
Kelompok-kelompok masyarakat sudah bergerak, minus anak muda terdidik negeri ini, belakangan sejumlah Guru Besar yang peduli juga menyuarakan pendapatnya. Kali ini walau sendiri Guru Besar yang satu ini, tetap akan memperingatkan dan menyuarakan jika ada kesalahurusan negeri ini.
Terlepas apakah teriakan itu bagai gema dipandang pasir, namun mengubah dunia tidak selamanya dengan senjata, dan tidak harus juga merasa paling berjasa.
Tinggal yang tersisa jika yang dulu meninggalkan Hambalang sebagai kado akhir masa jabatan, apakah untuk yang sekarang harus meninggalkan Pulau Rempang sebagai penutup layarnya?
* Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
