Oleh Herman Batin Mangku*
LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Kita baru saja kehilangan tokoh pendidikan asal Provinsi Lampung, Prof. Dr. Ir. H. Sitanala Arsyad bin H. Mukhtar. Saya mengenal pertama kali dirinya ketika pulang dari Bogor menggelar prosesi adat di kampung halamannya, Kecamatan Gunungsugih, Kabupaten Lampung Tengah, tahun '90-an.
Ketika itu, saya baru memulai karir sebagai jurnalis di SKH Lampung Post. Pada masa itu, tak banyak liputan yang mengulas soal kebudayaan, apalagi mencatat detail berikut nilai-nilai filosofisnya prosesi adat. Kepulangan sang profesor untuk melaksanakan upacara adat, saya manfaatkan buat melakukan liputan khusus.
Media mainstrem yang baru bergabung dengan grup Surya Persindo milik Surya Paloh, ketum DPP Nasdem saat ini, memberikan porsi satu halaman untuk saya mencatat prosesi yang digelar rektor pertama Universitas Lampung (Unila) rentang 1973-1981 tersebut. Saat itu, SKH Lampung Post masih berkantor di Sekretariat Nasdem Saat ini.
Baca juga: Sekdaprov Fahrizal dan Danrem 043/Gatam Ikuti Launching Program Dapur Masuk Sekolah
Respon pembaca di luar dugaan, Samsul B Nasution, pimred pada masa itu yang kini memimpun Lampung Tv (LTV) memutuskan melanjutkan tulisan liputan-liputan tentang budaya daerah ini. Sitanala Arsyad walau terbang tinggi mendalami ilmu konservasinya hingga Amerika, jadi rektor, dan profesor ameritus, selalu pulang ke akar budayanya.
Walau mampu cas-cis Bahasa Inggris, ia selalu terlihat lebih bangga dan selalu berbahasa Lampung dengan para kerabatnya. Sitanala Arsyad selalu merawat nilai-nilai budayanya yang kemudian turut mewarnai semangat para kerabat, anak-anaknya, dan para mantunya mencintai kebudayaan Lampung sebagai identitas diri dan tali pengikat kekerabatan.
Baca juga: PKS Sebut Tim Pemenangan Pemilu Anies-Cak Imin Mulai Kick Off Hari Ini
Kebetulan, seorang menantunya, teman SMA yang kini jenderal TNI juga mengikuti jejak sang mertua dalam pelestarian budaya.
Terakhir, akademisi Unila dan budayawan Lampung, Prof. Dr. Eng. Admi Syarif Rajo Mergo sempat memuat kunjungan atau manjau keluarga besar Pangeran Kesuma Ningrat (Tiuh Kuto Bumei Marga unyi) pada prosesi adat (begawei) Sitanala Arsyad (Tiuh Negara Bumei Ilir, Marga Buai Nyerupa) di media siber yang saya sempat asuh, Poskota Lampung, tahun lalu.
Dirinya sempat resah juga dengan budayanya. Pada tahun 1999, dalam seminar sehari penelitian Asim tentang “Aksara Lampung” di Unila, Sitanala Arsyad mengungkapkan prediksi kemungkinan punahnya Bahasa Lampung dalam
waktu 75- 100 tahun jika tidak adanya usaha untuk pelestariannya.
Baca juga: Propam Periksa Bripka ZK Atas Kesalahan SOP Eksekusi Warga Marga Tuha
Digambarkannya, pada 2094, Lampung akan memiliki penduduk 20 juta dengan statistic ulun lappung yang jumlahnya hanya sekitar tiga juta orang, maka pada saat itu tidak adanya masyarakat yang memahami lagi tentang bahasa dan aksara Lampung.
Sisi ini yang sangat jarang terpublikasi dari sosok Prof. Dr. Ir. H. Sitanala Arsyad bin H. Mukhtar. Hingga menghembuskan napas terakhirnya pada usia '89 tahun di Bogor, Jumat (22/9/2023), dirinya memilih dimakamkan di tanah leluhurnya: Desa Negara Bumi Ilir, Gunungsugih, Kabupaten Lampung Tengah, Sabtu (23/8/2023).
Selamat jalan Profesor, Innalilahi Wainnalilahi Rojiun tokoh yang patut jadi panutan orang Lampung, tabiiik puuun..
* Jurnalis
