Oleh Herman Batin Mangku*
SAYA pernah diminta memperkenalkan seorang bakal calon bupati di kampung saya, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung, Pilbup 2020. Sebagaimana umumnya saja, tahap awal adalah menebarkan benner sebagai cara paling efisien dan efektif memperkenalkan sang bakal calon.
Masih tahap pemasangan benner di pinggir jalan utama sepanjang kabupaten yang berhadapan dengan Samudera Hindia itu, satu per satu wajah tak dikenal bermunculan di posko utama sosialisasi. Mereka bercerita dari hulu hingga hilir yang intinya paling menguasai wilayah.
Orang-orang yang datang tersebut saya amati memang jago-jago ngomong, dari politik tingkat dunia, nasional, hingga daerah. Tambah meyakinkan, mereka juga update istilah-istilah kekinian. Luar biasa, mereka menguasai cara komunikasi.
Public speakingnya sesuai muatan lokal, bisa diterima karena pas dengan "bahasa" dan barangkali cara berpikir dan etika, petatapetitih, budaya masyarakat setempat.
Tak masalah, apa pun maksudnya, niatnya pasti ingin ikut membantu memperkenalkan sang bakal calon. Yang penting standby, makanan ringan, minuman kemasan, kopi, gula, teh sebagaimana layaknya tuan rumah menghargai tamu ala melayu.
Meski, kadang-kadang, ada yang tembak langsung minta bensin atau ongkos pulang. Tak masalah juga, resiko sama-sama ada maunya. Padahal, posisinya belum sampai tahap mengejar popularitas, akseptabilitas, apalagi elektabilitas.
Di sela kesibukan berpanas ria memasang ratusan benner itu, bahkan pemasangannya belum sampai ke gang-gang atau perkampungan di kaki-kaki TNBBS, saya mulai mendengar istilah "radio canting".
Saya coba memahami istilah lokal tersebut secara arfiah, radio adalah media suara sedangkan canting bahasa setempat yang mungkin artinya memegang atau lebih tepatnya sesuatu yang bisa dicangking atau dijinjing seperti halnya radio kecil 2 band yang ada talinya.
Radio yang bisa memakai batu batre itu sering jadi teman ke sawah dan ladang mengisi kesunyian di tempat sepi dan hiburan kala sibuk atau sedang bekerja keras. Mungkin itu maksudnya, orang-orang yang jago ngomong ini disebut dengan istilah radio canting.
Mereka memiliki bakat alam mampu meyakinkan orang-orang sekitarnya tentang sesuatu hal, termasuk bakal calon bupati atau bakal calon gubernur yang didukungnya. Ngoceh bak radio canting hingga para pendengarnya terhibur hingga tertidur lelap mengikuti irama gendangnya.
Argumennya tak perlu ilmiah, yang penting, orang yang dijagokannya serba bagus, serba hebat, serba baik, pokoknya mampu merubah dunia carut-marut menjadi berjaya. Sebaliknya, mereka yang menjadi kompetitornya tak ada sedikitpun baiknya.
Saya kemudian teringat dengan Abu Janda, Ade Armando, Deni Siregar, Guntur Romli, Soekmawati, dan lain-lain , apakah mereka juga termasuk radio canting? Tapi, tingkat nasional dengan narasi lebih argumentatif lagi dengan memanfaatkan media sosial. Atau, bisa juga seperti Rocky Gerung sebagai antitesisnya.
Kembali lagi ke radio canting di kampung saya. Yang pasti, di depan saya, suaranya merdu, satu patah kata dari saya tentang sang calon bisa mereka jabarkan seluas samudera kepada khalayak ramai.
Saya pikir lumayan orang-orang berkemampuan seperti ini buat sosialisasi. Namanya tingkat daerah, sewanya gak mahal: makan, ngudut, selembar dua lembar "dau" buat kantongnya. Jika semakin merasa dibutuhkan, mereka paling usulnya butuh sepeda motor buat ke sana-sini.
Pokoknya, di depan saya, suara mereka merdu dan melengking. Saya juga pikir dengan merawat radio canting gak perlu sampai berurat menjelaskan ke publik satu per satu bahwa calon kami yang terbaik door to door
Namanya juga merawat radio canting, kita harus jaga jangan sampai batrenya lobet. Dengan stok makan, ngudut, selembar dua lembar "dau" dijamin radio cantingnya "banter" menenggelamkan suara-suara lawan. Hitung-hitung, lumayan punya banyak "publik relation".
Untuk tahap berikutnya, tentu saja, tak cukup radio canting, perlu kiat dan siasat, istilah kerennya strategi ke tahap akseptabilitas dan elektabilitas, perlu banyak agenda serta keterlibatan simpul-simpul penggerak massa.
Tahap awal, saya pikir aman, dengan memasang radio canting di banyak sudut, semakin cepat sang calon dikenal dan populer. Saya tinggal "controling" mereka dan sekali-sekali evaluatif dengan cara nguping pendapat orang-orang di warung kopi.
Nah, saat kontroling mendadak ke titik-titik posko-posko, istilah kerennya sidak, simpul-simpul radio canting ternyata lebih sering "pedom" atau ngupi-ngupi sambil juga mengitip lokak bisa juga masuk ke lawan politik. Radio canting, putar sedikit pindah gelombang.
Jelang Pemilu Serentak 2024, kemungkinan, radio canting akan semakin berisik, mulai dari tingkat nasional hingga pemilihan legislatif tingkat kabupaten. Tinggal stok batere alkaline agar radio-radio cantingnya selalu nyaring.
* Jurnalis.