Renungan Nasional HUT RI di USM, Prof Komaruddin: Indonesia Kokoh Jika Pemimpin Berakar ke Rakyat

Sabtu, 9 Agustus 2025 22:23
Rektor USM Supari saat menyampaikan sambutan dalam Renungan Nasional Menyongsong HUT ke-80 Kemerdekaan RI di Menara USM. Prof Komaruddin Hidayat saat memberikan refleksi

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Suasana hangat penuh kekeluargaan sekaligus khidmat mewarnai acara Renungan Nasional menyongsong HUT ke-80 Kemerdekaan RI di Menara Universitas Semarang (USM) lantai 10 (rooftop), Semarang, Jumat malam 8 Agustus 2025.

Renungan sekaligus sebagai rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-38 USM ini mengangkat tema “Bersatu Padu Maju Negeriku”. Sejumlah tokoh negeri, pembina, penasihat, pengurus yayasan yang membidani USM, legislator dan pucuk pimpinan universitas hadir dalam malam renungan yang dinaungi sinar bulan bulat sempurna itu.

Baca juga: Kado Istimewa, Kota Semarang Raih Predikat Kota Layak Anak Ketegori Utama

Ketua Dewan Pers Prof Komaruddin Hidayat MA PhD turut memberikan refleksi Hari Kemerdekaan pada renungan tersebut. Dia mengajak hadirin untuk mengenang peristiwa bersejarah yaitu penemuan teknologi cakar ayam oleh Prof Dr Ir Sedijatmo.

Dijelaskan Prof Komaruddin, Ir Sedijatmo diperintahkan Presiden Republik Indonesia saat itu, Ir Soekarno, untuk memasang tiang listrik yang bertegangan tinggi yang memuat beban berat namun dibangun di atas rawa-rawa di Ancol.

Saat itu, memang harus dibangun tiang listrik bertegangan tinggi untuk menyukseskan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 1962.

“Dan ketika itu Ir Sedijatmo duduk merenung melihat alam sambil menikmati udara sore hari di Ancol. Dia melihat pohon kelapa yang ditiup angin bergerak kesana kemari, ngalor ngidul, ngetan ngulon, tapi kok tidak roboh. Dia mikir, kok bisa-bisanya tidak tumbang. Akhirnya, aha, dia menemukan kuncinya, yaitu kekuatannya ada pada akarnya. Akarnya itu banyak, kecil-kecil, tapi berakar kuat ke tanah seperti cakar ayam yang banyak. Sejak itu dia bangun tiang listrik bercakar ayam dan diakui dunia,” kata Komaruddin.


Lalu apa hubungannya teknologi cakar ayam dengan peringatan Agustus ini? Menurutnya, kemunculan pemimpin bangsa ini kemunculan para pemimpin bangsa ini awalnya datang dari bawah, dari masyarakat,

“Mereka berakar ke masyarakat. Hatinya, pikirannya, sepak terjangnya itu berakar pada masyarakat. Mereka menggeliat, dilindungi oleh rakyat. Bahkan gerilyawan kita dilindungi sampai membuat Belanda bingung karena kuatnya gotong royong yang akhirnya mengantarkan ke negara republik ini,” jelasnya.

Baca juga: Yes! Kualitas Peserta MilkLife Soccer Challenge Semarang 2025 Lebih Berkembang

Itu sebanya, Prof Komaruddin menyebut negara ini merupakan anak kandung rakyat yang kekuatannya terletak dalam sikap gotong royong dan saling menolong. Sikap ini merupakan watak dasar budaya kita.

''Maka dari itu, hakikatnya pemimpin itu harus merasakan denyut napas dan berakar dari rakyat. Kalau pemimpinnya berakar ke rakyat, Indonesia kokoh. Jangan sampai menjadi 'malin kundang' rakyat,'' tandas mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Rektor USM Dr Supari ST MT dalam sambutannya mengatakan, para pendiri USM dan pimpinan saat ini sudah berkomitmen visi USM adalah berkeindonesiaan.

“Apa pun yang dikerjakan USM, Tri Dharma perguruan tinggi dalam konstruksi untuk memajukan negeri ini,” tandasnya.

Supari menjelaskan pada usia USM ke-38 tahun sudah dinyatakan “Unggul”, yang dinilai sebagai membuka jalan bagi keberkahan selanjutnya.

“Jika ada istilah ''Begins at 40'', di usia 38 tahun, USM sudah Unggul. Beberapa hari yang lalu, telah dikeluarkan izin pembukaan Program Studi Doktor Ilmu Manajemen,'' bebernya.

Baca juga: Kelurahan Tlogosari Wetan Sandang Proker Terbaik di Expo KKN PPM XXVI USM

Dia mengibaratkan jika di industri menjanjikan after sales service, USM menjanjikan after graduation service, yang artinya setelah lulus akan dipantau dan diupayakan karier nya.

Syukuran

Sementara itu, Ketua Pembina Yayasan Alumni Undip Prof Dr Sudharto P Hadi MES PhD mengatakan, refleksi nasional ini dihadiri berbagai komponen, mulai dari mantan menteri, rektor, dosen, jurnalis, TNI, jaksa.

“Selain refleksi kemerdekaan, malam ini (Jumat-Red) juga sebagai syukuran mendapatkan akreditasi unggul dan mendapatkan izin penyelenggaraan Program Doktor Ilmu Manajemen yang dipelopori Prof Kesi, Ketua Pengurus Yayasan Alumni Undip,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu Rektor Undip yang sekaligus Ketua Dewan Penasihat USM Prof Dr Suharnomo SE MSi mengatakan pihaknya ingin terus menggandeng USM.

Dia mencontohkan salah satu bukti nyata Undip menggandeng USM adalah untuk program Erasmus Project, yang merupakan salah satu projek prestisius dari Uni Eropa.

“Mudah-mudahan karena kita ada universitas besar dan kita kolaborasi membantu Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Undip dan USM seharusnya yang menjadi motor,” ungkapnya.

Baca juga: Kemenpar Yakini Yogyakarta Mampu Wujudkan Layanan Wisata Ramah Muslim Berkelas Dunia

Hadir dalam refleksi nasional ini antara lain Menteri Pekerjaan Umum RI tahun 2004 - 2014 Ir Djoko Kirmanto DiplHE, Prof Widhi Adnyana, Ir Bambang Guritno, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jateng Mohammad Saleh, Dr Noor Rachmad SH MH, dan Direktur Politeknik Pekerjaan Umum Ir Brawijaya SE MEng IE MSCE PhD IPU.

Selanjutnya, mantan ketua PWI Jateng Sasongko Tedjo, Ketua PWI Jateng Amir Machmud NS, dan Sekretaris PWI Setiawan Hendra Kelana.

Dari jajaran Yayasan Alumni Undip hadir antara lain anggota pembina Ir Soeharsojo IPU, Drs Kodradi, Prof Drs Mohammad Nasir Ak MSi PhD, Prof Dr Yos Johan Utama SH, Ketua Pengurus Yayasan Alumni Undip Prof Dr Kesi Widjajanti SE MM.

Selanjutnya anggota Dewan Penasihat USM Prof Dr Ir Agus Indarjo MPd, Dr RR Dian Indriana Trilestari SE MSi Ak CA CRP, Eddy Djoko Pramono SH MH MT, para wakil rektor, serta para dekan USM. (Aji)

Berita Terkini