HELOINDONESIA.COM - Perjalanan hidup manusia selalu penuh tantangan, baik tantangan dari dirinya sendiri, tantangan lingkungannya, maupun tantangan pekerjaan.
Tantangan yang penuh dengan gejolak itu berlangsung dari pagi hingga malam hari, bahkan ketika hendak tidur.
Kondisi tantangan hidup ini bila tidak dikelola dengan manajemen stres yang baik akan membuat seseorang benar-benar menjadi stres.
Stres itu terjadi ketika apa yang diinginkan dengan kerja keras ternyata hasilnya masih jauh api dari panggang.
Baca juga: Bupati Elfianah Lantik Lima Eselon ll Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama
Sehingga membuatnya frustasi lantaran apa yang diperjuangkan tidak memenuhi target, misalnya.
Karena itu, salah satu kebutuhan manusia untuk hidup itu bukan sekadar mencari uang atau harta semata, tapi juga butuh ketenangan diri.
Ketenangan itu bisa didapat dengan cara merelaksasi, istirahat atau menjauh dari berbagai aktivitas apa pun.
"Ternyata teknik relaksasi ini bisa menjadi salah satu bagian dari manajemen stres. Baik stres yang harian maupun stres jangka panjang," terang dr Wanarani Aries, dokter spesialis rehab medis seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Senin (11/8/2025).
Baca juga: Ketua KPUS Kendal Angkat Bicara Naiknya Harga Pakan Ayam yang Bikin Peternak Resah
Dikatakan dr Wanarani Aries, stres bisa dikurangi dengan cara melakukan relaksasi.
"Nah ada berbagai macam relaksasi. Prinsipnya, teknik relaksasi itu fokus untuk sesuatu yang hening. Kegiatan yang bisa meningkatkan awarness dari tubuh kita," ujarnya.
Untuk mendapatkan teknik relaksasi itu bisa didapat dari tempat yang hening. Misalnya mendengar suara-suara dari alam atau melihat keindahan alam.
Namun demikian, bisa juga melakukan teknik relaksasi lebih aktif secara fisik. Misalnya dengan aktivitas berjalan kaki di taman yang penuh dengan bunga warna-warni atau mungkin ikut berpartisipasi di berbagai kegiatan olahraga yang memang disukai.
Baca juga: Gebet Harga Tiket Bhayangkara FC Vs PSM, Match Of 16 Agustus
"Baik itu bersepeda yang saat ini sedang in. Yang penting adalah melakukannya secara reguler. Seberapa besar intensitasnya tentu sangat beragam bergantung lagi dari tingkat kebugaran masing-masing orang. Juga tergantung dari komorbid atau penyakit-penyakit yang ada, tergantung usia, tergantung juga dari faktor jenis kelamin," ungkap dr Wanarani Aries.
Dengan aktivitas fisik yang lebih lebih aktif ini diharapkan bisa membawa respon relaksasi yang bisa membawa efek lebih baik buat tubuh.
Bahkan, beberapa studi membandingkan relaksasi dengan CBT ( Cognitif Behavioral Therapy) yang juga bisa menjadi bagian dari mendapatkan respon relaksasi.
Secara psikologi, lanjut dr Wanarani Aries, relaksasi itu merupakan suatu keadaan emosi di mana tensionnya rendah kemudian juga jauh dari hal-hal yang negatif.
Baca juga: Divonis Mati, Kopda Bazarsah yang Tembak 3 Polisi di Arena Sabung Ayam
"Kita kan suka marah ya. Ketika lagi nyetir (mobil), tiba-tiba disalip motor. Atau suatu masalah yang memberikan dampak kecemasan, bisa juga rasa takut. Nah itu yang mesti dijauhi kalau kita hendak masuk ke fase relaksasi," tuturnya.
Menurutnya, relaksasi itu ibarat ecstasy yang lagi on. Kalau mau tahu bagian otak kita ada yang kiri dan kanan, dia akan mengirim sinyal ke cortex frontal via sedative (penenang) yang ringan.
"Memang sedikit ilmiah. Relaksasi juga akan menolong mekanisme kopping. Sehingga orang yang relaksasi akan mendapatkan feeling relaksasi. Stres yang tinggi akan mengaktifkan sistem nervous. Menjadi respon pada diri kita ketika ada ancaman maka responnya fight or flight. Kalau terjadi secara terus-menerus akan berefek pada tubuh," tandasnya.
