SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Para pelari asal Kenya mendominasi podium juara kategori overall putra pada event lari internasional Semarang 10K 2025 yang berlangsung di kawasan Kota Lama Semarang, Minggu pagi 14 Desember 2025.
Frankline Sitote menyita perhatian ketika pelari tercepat menyentuh garis finish dengan torehan waktu 30 menit 31 detik. Waktunya lebih baik 3 detik dari rekan senegaranya, Charles Munyua Njoki yang meraih waktu 30 menit 34 detik dan berada di urutan kedua,
Baca juga: H-1, Musda XI Partai Golkar Bandarlampung Ditunda Tanpa Batas Waktu
Posisi podium ketiga ditempati James Kahura yang membukukan waktu 30 menit 59 detik.
Pada kategori overall female (putri) runner DI Yogyakarta Lucy Nthenya Ndambuki menjadi yang tercepat dengan waktu 33 menit 45 detik, disusul Nefrina Ariance (Kutai Timur/00:37:05) dan Agustina Mardika (Garut/00:37:30).
Untuk kategori nasional putra, Daniel Simanjuntak (Tapanuli Utara) berjaya dengan menempati urutan pertama dengan waktu 31 menit. Posisi kedua dan ketiga ditempati Iqbal Saputra (Sawah Lunto/00:31:09) dan Immanuel P Hutasoit (Depok/00:31:27).
Sedangkan kategori nasional putra, salah satu ratu atletik Tanah Air, Irma Handayani (Samarinda) menjadi yang tercepat dengan waktu 38 menit 45 detik. Urutan dua dan ketiga Asnida Aras (Banggai/00:39:27) dan Anjjelika Ginting (Depok/00:39:36).
Perhelatan lomba lari Semarang 10 K mendapatkan apresiasi dari Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng. Menurutnya, ajang lari bergengsi ini tidak hanya menghadirkan olahraga massal yang tertib dan aman, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi perekonomian dan pariwisata Kota Semarang.
Agustina menyampaikan tingginya minat masyarakat tersebut menunjukkan bahwa warga Kota Semarang memiliki kebutuhan besar terhadap ruang-ruang aktivitas publik yang sehat, inklusif, dan membanggakan kota sendiri.
“Banyak yang menyampaikan ke saya tidak kebagian slot. Itu artinya event seperti ini memang dibutuhkan masyarakat. Karena itu, saya sudah menyampaikan agar kapasitas bisa ditambah pada tahun depan,” ujar Agustina usai mengikuti kegiatan, Minggu (14/12).
Lebih dari sekadar ajang lari, Agustina menilai Kompas Semarang 10K menjadi penggerak sport tourism yang nyata. Berdasarkan pengamatan di lapangan, sekitar separuh peserta berasal dari luar Kota Semarang.
“Mereka datang minimal dari malam sebelumnya, menginap, makan, belanja, dan menikmati suasana Kota Lama. Kalau hari ini belum sempat menjelajah, setidaknya mereka mendapat pengalaman tentang betapa indahnya Kota Lama di sore hari. Ini pergerakan ekonomi yang langsung dirasakan,” jelasnya.
Baca juga: Fifa Setiawan Gantikan Ummi Munawaroh Nakhodai IKWI Jateng
Dampak tersebut dirasakan pelaku usaha lokal, mulai dari hotel, kuliner, transportasi, hingga UMKM di sekitar kawasan Kota Lama. Menurut Agustina, inilah contoh bagaimana event olah raga bisa menjadi instrumen pembangunan ekonomi kota yang berkelanjutan.
Pemerintah Kota Semarang, lanjut Agustina, membuka diri untuk mendukung penyelenggaraan berbagai event serupa, baik lari jalan raya, trail run, maupun kegiatan olah raga lainnya, selama memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
Aman dan Terkendali
Sementara itu, General Manager Event Kompas, Budhi Sarwiadi, menjelaskan bahwa dari total 3.000 peserta terdaftar, sebanyak 2.935 pelari benar-benar turun ke lintasan, ditambah 100 peserta kategori Kids Run. Dari sisi keselamatan, pelaksanaan berjalan aman dan terkendali.
“Dari sisi medis juga aman. Ada dua peserta yang sempat dirujuk ke rumah sakit untuk pemulihan, namun kondisinya stabil dan tidak ada kasus serius,” kata Budhi.
Budhi juga menyebut sekitar 50 persen peserta berasal dari luar Kota Semarang dan sebagian besar sudah datang sejak Jumat, sehingga menginap minimal dua hari bersama keluarga. Hal ini memperkuat dampak ekonomi langsung bagi Kota Semarang.
Terkait usulan penambahan kuota peserta tahun depan, Budhi menyampaikan pihak penyelenggara akan melakukan kajian mendalam dengan mempertimbangkan kenyamanan pelari dan daya dukung kawasan Kota Lama.
“Penambahan peserta harus tetap menjaga kualitas lomba. Jangan sampai terlalu padat dan mengurangi pengalaman berlari,” tambahnya. (Aji)
