SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus berinovasi dalam menggenjot sektor pariwisata daerah. Kali ini, strategi kawasan aglomerasi wisata bertajuk BOKOR (Borobudur - Kopeng - Rawa Pening) resmi digulirkan untuk menciptakan rantai perjalanan wisata yang saling terintegrasi dan memikat.
Sebagai 'pintu masuk' untuk menggaet perhatian publik dan wisatawan, Pemprov Jateng mengandalkan tren sport tourism melalui ajang spesial bertajuk Rawapening Run Heritage 2026.
Baca juga: Perkuat Perlindungan Umat, MUI Jateng Usulkan 17 Oktober Jadi Hari Halal Nasional
Sekda Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan bahwa pengembangan wisata modern tidak bisa lagi dilakukan secara parsial atau berdiri sendiri. Pendekatan aglomerasi dinilai menjadi kunci agar wisatawan dapat menikmati paket perjalanan yang kaya dan beragam dalam satu kali kunjungan.
"Kita penginnya bagaimana pengembangan pariwisata itu menjadi paket-paket pariwisata dalam bentuk aglomerasi," ujar Sumarno usai peluncuran dan konferensi pers Road to Rawapening Run Heritage di Wisma Perdamaian, Kota Semarang, Sabtu 17 Oktober 2026.
Ia menyambut penyelenggaraan Rawapening Run Heritage sebagai salah satu momentum untuk memperkenalkan potensi Rawa Pening dan Ambarawa kepada masyarakat yang lebih luas, termasuk wisatawan dari luar Jawa Tengah.
Ajang lari tersebut menawarkan pengalaman berbeda karena menggabungkan olahraga dengan bentang alam dan jejak sejarah.
Kawasan Ambarawa memiliki sejumlah daya tarik, mulai dari Rawa Pening, Benteng Fort Willem I, hingga Museum Kereta Api Ambarawa dan jejak sejarah Palagan Ambarawa.
"Ini tentu saja vibe-nya sangat berbeda," ujarnya, menggambarkan pengalaman berlari di kawasan yang memiliki perpaduan lanskap alam dan bangunan bersejarah.
Rawapening Run Heritage 2026 berlangsung pada Minggu (28/11/2026). Dengan titik mulai dan finis di Benteng Fort Willem I, Kabupaten Semarang.
Baca juga: PSSI Jateng Gelontorkan Bantuan Bola, PWI Mantapkan Tim Mini Soccer Menuju Porwanas
Penyelenggara menyiapkan tiga kategori, yakni 5 kilometer, 10 kilometer, dan 21 kilometer, dengan kuota 1.500 peserta dari kalangan pelari lokal, nasional, komunitas, hingga keluarga. Pendaftaran peserta dibuka mulai per hari ini.
Namun, pengembangan pariwisata di kawasan tersebut juga perlu diiringi dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Sumarno mengingatkan bahwa Rawa Pening menghadapi persoalan pendangkalan dan pencemaran yang perlu mendapat perhatian bersama.
"Rawa Pening juga mengalami kerusakan, baik dari sisi pendangkalan maupun dari sisi pencemaran," ungkapnya.
Ia mengajak masyarakat, termasuk komunitas pelari yang terlibat dalam Rawapening Run Heritage, untuk turut menyuarakan pentingnya menjaga kelestarian danau tersebut.
Menurutnya, Rawa Pening bukan hanya memiliki nilai wisata dan sejarah, tetapi juga menjadi bagian penting dari ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat di kawasan sekitarnya.
Melalui kegiatan tersebut, ia berharap semakin banyak masyarakat mengenal potensi Rawa Pening sekaligus tergerak untuk ikut menjaga kelestariannya.
"Mari kita sama-sama suarakan bagaimana kita menjaga Rawa Pening," pungkas Sumarno.(Aji)