Oleh: Antonius Benny Susetyo
PERTEMUAN antara Ketua Umum Gerindra sekaligus presiden terpilih Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDIP yang juga presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, jelas dinantikan oleh banyak pihak, terutama para pengamat politik. Pertemuan ini tidak hanya berpotensi membawa perubahan signifikan dalam peta politik Indonesia, tetapi juga mencerminkan cara berpolitik yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila.
Dalam konteks ini, penting untuk menelaah tidak hanya dari perspektif pragmatisme politik, tetapi juga dari sudut pandang bagaimana seorang pemimpin dan negarawan seperti Megawati dan Prabowo seharusnya memegang teguh prinsip-prinsip yang melandasi demokrasi Pancasila, yakni persatuan, kerakyatan, keadilan, serta peradaban politik yang luhur.
Seperti yang banyak dibicarakan, pertemuan antara Megawati dan Prabowo memiliki arti penting secara historis maupun politik. Keduanya merupakan tokoh yang memiliki rekam jejak panjang di kancah politik Indonesia. Megawati sebagai putri dari proklamator Soekarno dan pemimpin PDI-P, telah menorehkan sejarah sebagai pemimpin perempuan yang tangguh dan konsisten dengan nilai-nilai yang ia anut.
Pada sisi lain, Prabowo Subianto, dengan latar belakang militer dan sebagai pemimpin Partai Gerindra, telah menjadi salah satu figur sentral dalam berbagai kompetisi politik nasional, khususnya dalam tiga kontestasi pilpres terakhir.
Pertemuan ini, diharapkan banyak pihak, dapat membawa perubahan besar dalam peta politik Indonesia, terutama terkait aliansi politik partai-partai yang mendukung pemerintahan baru. Pertemuan ini juga dinilai penting karena keduanya memegang pengaruh besar, baik dalam partai mereka masing-masing maupun dalam politik nasional.
Jika terjadi kesepahaman atau aliansi baru antara keduanya, bisa jadi akan berdampak pada terbentuknya konfigurasi politik baru yang lebih stabil. Namun, dalam konteks ini, penting untuk menekankan bahwa pertemuan tersebut bukanlah sekadar soal bagi-bagi kekuasaan atau jabatan di pemerintahan. Megawati, dalam berbagai kesempatan, selalu menegaskan bahwa politik bagi dirinya adalah alat untuk melaksanakan nilai-nilai Pancasila.
Dalam pandangannya, politik harus menjadi sarana untuk mencapai tujuan yang lebih luhur, yaitu kesejahteraan rakyat, keadilan sosial, dan persatuan nasional. Oleh karena itu, dalam pertemuan tersebut, kita dapat berharap bahwa diskusi akan berfokus pada masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa, bukan hanya sekadar negosiasi kekuasaan semata.
Antar-negarawan
Dalam konteks pertemuan dengan Prabowo, penting untuk dicatat bahwa Megawati dan Prabowo bukan hanya sekadar tokoh politik, tetapi juga pemimpin yang memiliki visi besar untuk masa depan Indonesia.
Pertemuan ini bukanlah pertemuan biasa yang hanya membahas pembagian kekuasaan atau posisi strategis di pemerintahan. Pertemuan ini adalah pertemuan antar-negarawan, yang memikirkan masa depan bangsa di tengah situasi global yang tidak menentu. Dalam hal ini, kita dapat melihat bahwa politik peradaban yang diusung oleh Megawati menjadi sangat relevan. Politik peradaban mengedepankan etika dan moral dalam berpolitik.
Politik tidak boleh hanya dilihat sebagai sarana untuk mencapai kekuasaan, tetapi harus digunakan untuk membangun peradaban yang lebih baik, memperjuangkan kepentingan rakyat, dan menjaga persatuan bangsa. Megawati, dengan konsistensinya terhadap politik peradaban, selalu menekankan pentingnya menjaga integritas dan etika dalam politik. Prinsip-prinsip ini yang membuat pertemuan antara dirinya dan Prabowo menjadi begitu penting dan ditunggu oleh banyak pihak.
Dalam diskusi yang lebih luas, pertemuan Megawati dan Prabowo kemungkinan besar juga akan membahas tantangan-tantangan besar yang sedang dihadapi oleh Indonesia dan dunia. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah krisis pangan dan energi. Krisis pangan, yang disebabkan oleh perubahan iklim dan gangguan rantai pasok global, telah menjadi masalah serius bagi banyak negara, termasuk Indonesia.
Perubahan iklim yang tidak menentu, dengan bencana alam yang semakin sering terjadi, telah mengancam ketahanan pangan banyak negara, termasuk Indonesia. Ketahanan pangan adalah isu yang sangat penting bagi kelangsungan hidup suatu bangsa. Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar, harus mampu mengatasi masalah ini dengan meningkatkan produksi pangan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Dalam hal ini, politik harus menjadi alat untuk memastikan bahwa kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah benar-benar dapat menjamin ketahanan pangan nasional. Selain itu, krisis energi juga menjadi tantangan besar yang harus dihadapi. Perang di Timur Tengah, yang melibatkan beberapa kekuatan besar dunia, telah menyebabkan kenaikan harga minyak yang drastis. Ini berdampak langsung pada perekonomian global, termasuk Indonesia. Lonjakan harga minyak mempengaruhi biaya produksi industri, transportasi, dan juga harga barang-barang kebutuhan pokok.
Selain isu-isu domestik, pertemuan Megawati dan Prabowo juga diharapkan dapat membahas peran Indonesia dalam geopolitik dan geostrategi dunia. Dunia saat ini sedang berada dalam situasi yang sangat tidak menentu, dengan ketegangan antara negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat, Cina, dan Rusia yang terus meningkat.
Mereka juga perlu memikirkan bagaimana Indonesia dapat memanfaatkan posisinya yang strategis untuk menjaga stabilitas di kawasan Asia-Pasifik dan mendorong perdamaian dunia.
Selain berbagai isu besar yang mungkin dibahas dalam pertemuan ini, hubungan personal antara Megawati dan Prabowo juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Keduanya memiliki sejarah panjang dalam politik Indonesia, dan hubungan mereka, meskipun pernah mengalami pasang surut, selalu berada dalam konteks saling menghormati sebagai sesama negarawan.
Hubungan yang cair antara keduanya, seperti yang digambarkan oleh teori komunikasi personalisasi, memudahkan terciptanya dialog yang konstruktif. Ketika hubungan personal antara pemimpin-pemimpin negara ini baik, komunikasi dan kesepakatan pun lebih mudah tercapai.
Tidak ada agenda tersembunyi atau niat untuk saling menjatuhkan, melainkan fokus pada tujuan besar yang sama, yaitu bagaimana membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik. Hubungan personal yang baik antara Megawati dan Prabowo ini juga menimbulkan rasa saling percaya. Ini adalah modal penting dalam politik, karena dengan adanya rasa saling percaya, berbagai hambatan komunikasi dapat diatasi.
Dalam konteks ini, kita dapat berharap bahwa pertemuan antara Megawati dan Prabowo akan menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang strategis untuk kebaikan bangsa dan negara.
Pertemuan antara Megawati dan Prabowo diharapkan tidak hanya membawa stabilitas politik jangka pendek, tetapi juga membuka jalan menuju terciptanya politik yang beradab dan beretika. Politik peradaban, seperti yang sering ditegaskan oleh Megawati, adalah politik yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika, yang tidak hanya bertujuan untuk memenangkan kekuasaan atau memperkuat pengaruh, tetapi juga untuk menciptakan peradaban politik yang lebih baik. Ini adalah politik yang tidak hanya berpikir jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan implikasi jangka panjang bagi bangsa dan negara.
Pertemuan ini harus dimaknai sebagai langkah awal untuk membangun politik yang lebih beradab dan beretika, yang mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Dalam politik peradaban, etika dan moral harus menjadi pedoman utama dalam mengambil keputusan politik. Dengan demikian, politik tidak hanya menjadi alat untuk mencapai kekuasaan, tetapi juga sarana untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia saat ini adalah bagaimana memastikan bahwa pembangunan ekonomi dan sosial benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama rakyat kecil. Dalam konteks ini, pertemuan Megawati dan Prabowo diharapkan dapat menghasilkan komitmen yang lebih kuat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat kecil dan mengatasi kesenjangan sosial yang masih tinggi.
Wacana pertemuan antara Megawati dan Prabowo menjelang pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih periode 2024-2029 merupakan peristiwa penting dalam sejarah politik Indonesia. Pertemuan ini bukan hanya soal pertemuan antara dua tokoh besar, tetapi juga memiliki potensi untuk mengubah peta politik nasional dan membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.
.
Penulis, Pakar Komunikasi Politik
