Helo Indonesia

Refleksi Filofis dari Koran Yang Terbit Setengah Abad Lalu

Herman Batin Mangku - Opini
Minggu, 27 Juli 2025 19:35
    Bagikan  
X
HELO LAMPUNG

X - SDW

Oleh Prof. Sudjarwo

HERMAN Batin Mangku (HBM) baru saja menulis opini yang mengulas isi sebuah koran arus utama di Lampung yang terbit 47 tahun silam. Dengan gaya khasnya, ia seperti hendak berpesan, dalam ungkapan Palembang: “katek perubahan, lur.”

Kalimat sederhana itu, jika diterjemahkan bebas, berarti: “tak ada yang berubah.” Tapi rasa yang dikandungnya lebih dari sekadar keluhan; ada nada getir, campuran antara kecewa dan pasrah, yang mencerminkan kegelisahan: mengapa, setelah hampir setengah abad, omongan penguasa dan masalah sosial kita masih itu-itu saja?

Baca juga: Potret Koran Setengah Abad Lalu, Cermin Wajah Pemimpin dan Peristiwa Hari Ini

Namun, apakah refleksi seperti ini sekadar ungkapan kekecewaan? Jika kita lepaskan emosi sesaat, kita bisa melihatnya sebagai pengalaman eksistensial manusia: pertemuan antara harapan, kenyataan, dan keterbatasan.

Koran yang terbit 47 tahun lalu bukan hanya deretan berita. Ia menjadi simbol: harapan kolektif sekaligus kerapuhan manusia. Dalam lembaran tinta itu tersimpan pertaruhan antara cita-cita dan realitas sejarah, antara makna dan kehampaan.

Filsuf Prancis Gabriel Marcel pernah menyebut manusia sebagai Homo Viator—makhluk peziarah. Manusia terus berjalan, menapaki masa depan yang tak pasti. Dan harapan, lebih dari apa pun, adalah bahan bakar perjalanannya.

undefined

Ketika koran menuliskan janji-janji besar tentang pembangunan, keadilan, dan masa depan yang cerah, masyarakat menangkapnya sebagai penunjuk arah, peneguh makna keberadaan di tengah keterbatasan.

Harapan lahir bukan dari kelemahan, tetapi dari kesadaran manusia bahwa dirinya terbuka terhadap kemungkinan. Namun, saat harapan itu berulang kali dikhianati realitas, lahirlah kekecewaan—bukan sekadar rasa sakit, melainkan krisis makna. Yang runtuh bukan hanya program pemerintah, tetapi juga dunia batin yang sempat dibentuk oleh janji-janji itu.

Di sinilah, sebagaimana ditekankan Edmund Husserl, kita diajak untuk “kembali ke benda itu sendiri”—dalam hal ini, realitas historis yang diberitakan koran. Sebab koran tidak sekadar melaporkan fakta, tetapi menyajikan representasi yang dipengaruhi nilai, kepentingan, bahkan ideologi. Media, melalui bahasa dan framing, tak hanya menginformasikan, tapi juga membentuk horizon pengharapan kolektif.

Maka, kekecewaan kita hari ini bukan hanya reaksi terhadap kegagalan kebijakan. Ia juga akibat dari retaknya dunia sosial dan batin yang telah diciptakan oleh wacana publik.

Filsafat eksistensial memberi kedalaman pada pengalaman ini. Heidegger melihat manusia sebagai Dasein—ada yang menyadari dirinya dalam dunia. Kekecewaan, dalam pandangan ini, menjadi panggilan untuk menyadari bahwa dunia bukan ruang netral. Ia adalah arena pertemuan antara harapan dan keterbatasan.

Albert Camus menambahkan perspektif lain: absurditas. Ia muncul ketika kerinduan manusia akan makna bertabrakan dengan dunia yang tak memberi jawaban. “Koran” dengan segala janji yang tak terpenuhi ibarat batu Sisyphus—terus didorong ke puncak oleh rakyat, hanya untuk menggelinding jatuh lagi.

Namun, Camus mengajarkan, bahkan dalam absurditas, manusia bisa memilih untuk tidak menyerah; ia bisa menemukan makna melalui kesadaran dan pemberontakan batin.

Refleksi menjadi penting di sini. Ia bukan sekadar merenung dalam diam, tetapi tindakan etis. Paul Ricoeur menyebutnya sebagai bagian dari hermeneutika diri—kemampuan manusia untuk menafsirkan dirinya, harapannya, dan arah hidupnya di tengah ketidakpastian.

Refleksi membantu kita bertanya: Mengapa kita begitu mudah percaya? Apakah kita menyerahkan makna hidup kepada wacana publik tanpa cukup kritis? Atau justru, apakah kepercayaan itu sendiri menunjukkan sisi terdalam kemanusiaan kita—kemampuan untuk tetap percaya meski dunia tak pasti?

Pada akhirnya, kebebasan manusia ada pada kemampuannya memberi makna. Bukan kebebasan dari tekanan luar semata, tetapi kebebasan batiniah untuk menafsirkan peristiwa, mengolah sejarah menjadi pelajaran, bukan sekadar beban.

Nietzsche, melalui konsep eternal recurrence, mengingatkan bahwa sejarah bisa terus berulang jika manusia tidak sadar dan otentik. “Koran” semacam itu akan terus ada—dengan nama dan janji berbeda. Namun, siklus itu hanya bisa diputus jika kita berhenti menjadi objek narasi dan mulai menjadi subjek sejarah: tidak sekadar menerima janji, tetapi menimbang, menganalisis, dan menentukan makna sendiri.

Peristiwa 47 tahun lalu mungkin mengecewakan, tetapi ia juga memberi peluang: untuk menjadi lebih kritis, lebih sadar, dan lebih otentik. Kita bisa memilih untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dan mungkin, semua itu dimulai dari refleksi pribadi—dari kesunyian, sebelum menjadi gerak kolektif.

Mari kita baca kembali “koran” itu, bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk menemukan siapa di antara kita yang masih mau belajar, berharap, dan bertindak secara manusiawi.

Semoga perenungan yang dipantik oleh tulisan HBM ini membuat kita semakin sadar: tentang siapa kita, di mana kita berdiri, dan ke mana kita akan melangkah.

Salam waras.

Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

 -