DI momen seperti ini biasanya seseorang memiliki keinginan, cita-cita, apa yang dia targetkan untuk dicapai di tahun 2026.
Ada yang ingin lebih sehat, ada yang berharap lebih makmur, atau lebih kaya, kedudukan lebih tinggi, atau menduduki jabatan tertentu.
Bagus. Siapapun harus punya target. Dan untuk merebut target itu dia membuat persiapan, menyusun strategi.
Di perusahaan tempat saya bekerja dulu, menyusun rencana, dengan menyiapkan SDM, sumber daya lain, setelah melakukan SWOT.
Baca juga: Wajah 10 Bulan Kepemimpinan Mirza: Realisasi Janji Politik dari Dompet Cekak
Lalu melakukan evaluasi bulanan, kwartal, semester, sebagai bahan cek atau membuat rencana B apabila tantangan berubah, ada hambatan dan sebagainya.
Apakah dengan demikian target dapat dicapai? Semestinya. Biasanya. Tapi tidak harus sesuai harapan. Apalagi di era disrupsi yang penuh kejutan.
Harian Kompas sudah menyatakan bakal berhemat dengan menerbitkan Kompas Minggu pada hari Sabtu, dengan format yang lebih cerah dan kreatif.
Upaya ini demo menjaga kelanggengan hidup Kompas, yang memang seperti media cetak lain, terpukul karena lingkungan industri media yang tidak lagi kondusif.
Baca juga: Ribuan PPPK Kota Bandarlampung Nerima SK Dari Wali Kota Eva Dwiana
Kita tentu berharap Kompas yang punya peran besar bagi menjaga kewarasan nurani bangsa, tetap hidup setelah genap berusia 60 tahun bulan Juni lalu.
Dengan segala kekurangannya media cetak tetap yang dulu sangat berperan sentral dalam perjamuan kemerdekaan, amat penting bagi Indonesia.
Kita berharap di tahun 2026 tidak ada lagi media cetak yang tutup atau bangkrut. Karena itu akan menjadi lonceng kematian bagi industri media cetak yang sekarang pun kembang kempis. *
Sebagai pribadi, apa destination statement Anda di tahun 2026?
Kalau saya tentu ingin lebih sehat, menjalani hidup tenang, tetap kreatif, banyak silaturahmi dengan teman, dan tentu saja kantong tetap terisi baik.
Baca juga: Kelola Rp795 Juta Dana Desa, Tiyuh Mulyo Sari Fokus Infrastruktur dan Ekonomi Lokal
Bagi mereka yang sudah tergolong lansia, di atas 65 tahun, harapan terbesar tentu dapat terus mengelola jiwa dan raga. Stabil. Berimbang. Nyaman. Menikmati hidup. Agar kelak berakhir baik. Husnul khatimah.
Kalau berkaca ke tahun-tahun yang silam, dalam urusan keluarga, kerja, dan organisasi, kita tidak boleh selalu menengok kaca spion. Sesekali boleh sebagai refleksi, agar tidak terantuk batu yang sama.
Khususnya agar kesalahan terhadap seseorang, tidak lagi terjadi. Apalagi kalau pernah menyakiti. Mendzalimi, menipu, memfitnah, mencaci maki, merusak nama baik orang.
Kalau masih sempat sampaikan permohonan maaf. Mumpung ada waktu. Kalau nafas sudah berhenti, betapa rugi kita ketika nanti ditagih akibat dosa yang belum dimaafkan seseorang.
Baca juga: Regenerasi Pengurus, Dema Fakultas Psikologi USM Gelar Sertijab
Lagi pula, kalau sudah meminta maaf biasanya hati jadi longgar. Lega. Mengurangi beban. *
Yang jelas bagi saya tahun 2025 ditandai dengan berdirinya Forum Wartawan Kebangsaan (FWK).
Organisasi kecil ini, diinisiasi teman wartawan senior, yang ingin terus menyuarakan aspirasi khususnya terkait masalah kebangsaan karena keprihatinan.
Sebagai wartawan yang sudah puluhan tahun di media, gabung di organisasi profesi, tidak mudah untuk menutup mata dan telinga atas berbagai masalah yang ada di depan mata.
Harus ada sikap. Harus bersuara. Harus menyampaikan gagasan. Tapi juga solusi. Menyampaikan alternatif pemikiran untuk mereka yang mengelola penyelenggaraan negara.
Bukan sekadar mengingatkan atau mengusik, tapi agar problematika yang ada, dipikirkan bersama.
Baca juga: Sejarah Baru, Prodi DIII RMIK Politeknik Bina Trada Semarang Raih Akreditasi Unggul
Penyelenggara negara yang aktif, biasanya fokus bekerja, fokus pada urusannya yang sektoral. Perlu ada pikiran lain, agar tahu, sadar, terbuka, dari sisi lain.
Dalam hal ini dari kalangan wartawan yang salah satu fungsinya adalah menyuarakan aspirasi rakyat, sebagai penyambung lidah rakyat, dalam istilah Bung Karno dulu.
Wartawan banyak tahu, meski banyak juga yang sok tahu. Wartawan masih punya relasi dengan penguasa, atau mantan penguasa.
Jejaring itu perlu untuk mengetahui sesuatu di balik peristiwa. Agar tahu duduk persoalan. Tidak hanya yang tersiar di media, berupa keterangan resmi.
Baca juga: USM Buka Program Magister Teknik Sipil untuk Dukung Pembangunan Berkelanjutan
Forum Wartawan Kebangsaan ingin menjadi mata telinga, sekaligus corong bagi rakyat, untuk ikut berperan menjadikan Indonesia maju bagi seluruhnya. Dimana pun dia. Siapapun dia. Indonesia untuk semua.
FWK berslogan NKRI Harga Mati. Urusan kedaulatan bangsa harus nomor satu. Berbeda boleh tapi semuanya untuk Tanah Air tercinta.
Maka di tahun 2026, semua pemikiran, gagasan, daya upaya, akan terus disuarakan, digelorakan, dengan penuh semangat.
Walau FWK menyadari tahun 2026 sudah akan menjadi tahun politik, ancang-ancang bagi seluruh kekuatan dan potensi untuk menghadapi Pemilihan Umum 2029.
Baca juga: Porkot Bandarlampung 2025, Panjat Tebing Berhasil Jaring 38 Atlet Muda Baru
Apakah jalannya pemerintahan masih efektif? Justru di sini lah kontrol media, kontrol dari Masyarakat dan semua pihak termasuk FWK semakin dibutuhkan. Jangan sampai karena persiapan 2029, rakyat dilupakan. Rakyat disisihkan.
Semangat mengingatkan, semangat memberi pencerahan, dan jalan keluar bagi Indonesia tercinta.
Selamat Tahun Baru
