Oleh: Dominggus Octavianus Kik
Keberhasilan Amerika Serikat (AS) menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya yang ditangkap pasukan elit, Sabtu 3 Januari 2026 di Istana Caracas, lalu dibawa ke Pusat Penahanan Metropolitan, Brooklyn, AS, tempat mereka ditahan, usai dihadirkan di Pengadilan New York, diperkirakan diadili di Pengadilan Manhattan minggu depan.
Keberhasilan AS menangkap Nicolas Maduro ini digambarkan sebagian kalangan sebagai akibat lemahnya dukungan politik. Dikatakan bahwa pemerintahan Maduro sudah tidak dipercaya di dalam negerinya, baik oleh rakyat maupun lingkaran politik kekuasaan. Apakah benar demikian?
Orang Venezuela memiliki seorang pahlawan yang diakui oleh semua kalangan —kaya, menengah ataupun miskin: Simon Bolivar.
Dia lahir 1783 (fakta menarik: segenerasi dengan Pangeran Diponegoro di Indonesia), memimpin perang pembebasan nasional di sejumlah negara Amerika Latin antara tahun 1808-1821: dari Ekuador, Kolombia, Peru, Panama, Bolivia, dan Venezuela sendiri.
Saat berbicara tentang Simon Bolivar, hampir semua orang Venezuela akan menunjukkan rasa hormat. Tapi reaksi orang menjadi berbeda-beda saat bicara tentang Hugo Chavez dan selanjutnya, Nicolas Maduro.
Orang Venezuela yang menghormati Bolivar belum tentu menghormati Chavez. Demikian selanjutnya, orang yang menghormati Simon Bolivar dan Hugo Chavez belum tentu menghormati Nicolas Maduro. Ada perbedaan pengaruh dan kharisma dari masing-masing individu tersebut.
Tapi persoalan Venezuela bukan semata tentang figur pemimpin. Banyak di antara rakyat Venezuela yang sudah beranjak dari soal selera dan penilaian pribadi.
Kesadaran mereka sudah pada tahap pembelaan terhadap semangat, nilai, dan cita-cita Simon Bolivar untuk membebaskan rakyat Amerika Latin dari segala bentuk penindasan. Semangat dan cita-cita ini yang coba diteruskan Hugo Chavez dan Nicolas Maduro, meski dengan gaya dan cara yang berbeda.
Dalam konteks ini, salah satu narasi yang bisa menyesatkan tentang Venezuela berkembang. Dikatakan bahwa dengan berhasil menculik Presiden Nicolas Maduro, maka berakhir juga Revolusi Bolivarian.
Kesimpulan ini terbukti dangkal dan terlalu terburu-buru. Kita boleh berspekulasi apapun tentang kemampuan dan kesolidan militer Venezuela beserta intelijennya. Atau tentang dinamika politik yang berkembang pasca kepresidenan Hugo Chavez.
Tapi itu tak menghapus fakta bahwa rakyat Venezuela masih turun ke jalan-jalan kota Caracas dan seluruh negeri untuk membela kehormatan negerinya. 'Putra-putri' Simon Bolivar tidak pasrah dan menyerah.
Terlebih, Wakil Presiden Delcy Rodriquez telah memberi pernyataan politik kuat, bahwa bangsanya tak sudi untuk kembali diperbudak siapapun. Presiden AS Donald Trump sempat mengira Delcy Rodriquez akan dapat diajak berkompromi terhadap keinginan pihaknya menguasai minyak Venezuela.
Trump tahu operasi penculikan bisa saja sukses, tapi untuk masuk dan menguasai teritori Venezuela adalah hal lain yang jauh lebih rumit.
Pengalaman imperialistik mereka di Irak, Afganistan, dan Vietnam, membuktikan kerumitan tersebut. Masuk dan memaksakan penaklukan hanya akan menimbulkan perlawanan yang lebih besar dengan risiko yang tidak terhitung.
Selain itu, Trump salah menduga. Delcy adalah loyalis revolusi Bolivarian. Delcy sudah berkecimpung dalam politik progresif sejak masih pelajar. Ayahnya, Jorge Antonio Rodriquez, adalah martir revolusioner yang disiksa sampai gugur karena menentang dominasi ekonomi AS era 70an di negeri itu.
Terakhir, Delcy Rodriquez sudah ditunjuk sebagai pejabat sementara Presiden Venezuela oleh Mahkamah Agung. Sebagai orang terpelajar dan berpengalaman, Delcy sudah bergerak cepat; mengkonsolidasikan militer, menyerukan rakyat Venezuela untuk turun ke jalan, menyerukan solidaritas internasional, serta menuntut Amerika Serikat segera membebaskan Presiden Maduro dan isterinya yang masih ditahan.
Trump mungkin bisa mendapatkan seorang Maduro, tapi ia tetap tidak bisa mencengkram Venezuela. Imperialismenya yang sakit-sakitan itu semakin kasar dan brutal, tapi kebrutalan itu malah menjadi kelemahan dan sasaran kecaman seluruh dunia yang waras. (*)
*) Aktivis 1998, peminat kajian gerakan kiri internasional, mantan Sekjen PRD.
